Bagaimana Cara Mengetahui Pokok Islam?
Bagaimana Cara Mengetahui Pokok Islam?
Bagaimana Cara Mengetahui Pokok Islam?
Oleh Syaikh ‘Ali bin Khudhair al-Khudhair(Pokok Islam) bisa di ketahui dengan hal-hal berikut ini.
1. Bisa diketahui dengan kesepakatan seluruh agama (samawi) terhadapnya, Allah berfirman,
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwasannya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku.””
(Al Anbiya': 25)
Dan firman-Nya,
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang yelah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan 'Isa, yaitu tegakkan agama dan janganlah kamu berpecahbelah tentangnya.”
(Asy Syura: 13)
Nabi Nuh berkata,
“Dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).”
(Yunus: 72)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Ibrahim,
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: Tunduk patuhlah! Ibrahim menjawab: Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.”
(Al Baqarah: 131)
Ibrahim dan Ya'qub mewasiatkan kepada anak-anak mereka,
“Maka janganlah kamu mati, kecuali dalam memeluk agama Islam.”
(Al Baqarah: 132)
Dan tentang Musa,
“Berkata Musa: Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar orang-orang yang berserah diri.”
(Yunus: 84)
Orang-orang Hawariyyun berkata kepada Nabi 'Isa,
“Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesunggguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).”
(Al Ma'idah: 111)
Ibnu Taimiyyah berkata, “Islam adalah agama para Nabi dan Rasul dan umat-umat yang mengikuti mereka, sebagaimana yang telah Allah kabarkan tentang hal itu di banyak tempat di dalam Kitab-Nya. Dan mengabarkan tentang Nuh, Ibrahim, Israil (Ya'qub) 'alaihimussalam bahwa mereka adalah muslimin (orang-orang yang tunduk patuh berseraah diri kepaada Allah) dan begitu juga para pengikut Nabi Musa dan Isa 'alaihimussalam serta yang lainnya. Islam adalah seseorang berserah diri hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain-Nya, dia hanya beribadah kepada Allah serta tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, dari hanya bertawakal kepada-Nya, dia mengharap dan takut kepada-Nya saja, dan dia mencintai Allah dengan kecintaan yang sempurna, sehingga dia tidak mencintai makhluk seperti dia mencintai Allah. Siapa yang sombong tidak mau ibadah kepada Allah, maka dia itu bukan orang Islam, dan siapa beribadah kepada yang lain disamping dia beribadah juga kepada Allah, maka dia itu bukan orang Islam.”
(Kitab An Nubuwwat, 127)
2. Pokok Islam diketahui dengan keberadaannya sebagai kewajjiban paling pertama berdasarkan hadis Ibnu 'Abbas radhiallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam tatkala mengutus Mu'adz ke Yaman, beliau berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari kalangan ahli kitab, maka hendaklah yang paling pertama kamu dakwahkan kepada mereka adalah kesaksian Laa Ilaaha Illallaah,” dan dalam satu riwayat, “(ajaklah) mereka agar menauhidkan Allah.”
(Al Bukhari dan Muslim)
3. Dan sesungguhnnya pokok agama Islam itu adalah hal yang paling pertama dituntut dari seseorang, berdasarkan hadis, “Saya diperintahkan untuk memerangi orang-orang hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selaain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.”
Pokok Islam diketahui dengan ajaran yang ada di awal Islam, Allah berfiman,
“Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah.”
(Al Muddatstsir: 1-5)
4. Pokok Islam adalah ajaran yang ada di fase Makkah dan itu adalah yang dipegang oleh orang-orang yang hijrah ke Habasyah (Ethiopia).
Ibnu Taimiyyah berkata, “Para Nabi sepakat bahwa mereka itu tidak memerintahkan akan perbuataan keji (fawahisy), kezaliman, kemusyrikan, dan berkata mengada-ada atas nama Allah tanpa dasar ilmu.”
(Kitabun Nubuwwat, 430)
Beliau berkata lagi dalam Al Fatawa 14/470-471, “Sesungguhnya hal-hal yang diharamkan itu ada yang dipastikan bahwa syariat tidak membolehkannya sedikit pun baik karena darurat, seperti syirik, perbuatan-perbuatan keji, berkata dusta atas nama Allah tanpa ilmu, dan kezaliman murni, yaitu empat hal yang disebutkan dalam firman-Nya,
“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
(Al A'raf: 33)
Hal-hal ini diharamkan dalam semua syariat dan karena untuk mengharamkannya Allah mengutus semua Rasul dan Dia tidak membolehkan sedikit pun darinya dalam semua keadaan dan karena inilah hal-hal itu diturunkan daalaam surat Makiyyah.”
Bahkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam tinggal di Makkah sepuluh tahun mengajak kepada tauhid dengan ijmak para ahli sejarah dan yang lainnya dan juga dalam semua surat Makkiyyah disebutkan di dalamnya pokok Islam (tauhid dan risalah).
5. Pokok Islam adalah apa yang ditanyakan di dalam kubur, dari Al Bara' Ibnu Azib radhiallahu 'anhu dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam beliau berkata, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu. Beliau berkata: Turun tentang adzab kubur, maka dikatakan kepadanya: Siapa Tuhanmu? Orang itu menjawab: Tuhanku adalah Allah dan Nabi saya adalah Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
6. Sesungguhnya itu (yang bertentangan dengan pokok Islam) adalah tergolong yang mustahil dan tidak mungkin disyariatkan oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak.”
(Al Anbiya': 22)
“Sedangkan sesuatu yang tidak terjadi, maka pengambilan dalilnya bukan hanya dari syariat saja, bahkan itu adalah hal yang buruk dalam syariat, fitrah, dan akal sehat, serta tidak mungkin ada syariat yang menetapkannya.”
(Al Minhaj, 295-296)
7. Tidak ada pertentangan/perbedaan.
Sumber: Asy Syaikh Al ‘Allamah
Ali Bin Khudlair Al Khudlair, Bahasan Tuntas Ashlu Dinil Islam (Tauhid & Risalah), (Tauhid Dan Jihad, Diterjemahkan oleh: Abu Sulaiman Aman Abdurrahman), hlm. 8-10, dengan perubahan.
Penulis: ‘Ali Ibn Khudhair Al Khudhair
Penerjemah: Abu Sulaiman Al Arkhabili
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari