Contoh-Contoh Kontradiksi Pemikiran Khawarij Kontemporer
Contoh-Contoh Kontradiksi Pemikiran Khawarij Kontemporer
Contoh-Contoh Kontradiksi Pemikiran Khawarij Kontemporer
Oleh Syaikh ‘Athiyyatullah al-LibiDi antara contoh-contoh kontradiksi yang senantiasa mendera mereka:
1. Mereka mengafirkan seluruh kaum muslimin, termasuk orang-orang muslim yang terbaik dari kalangan orang-orang yang ahli ibadah, orang-orang yang zuhud, orang-orang yang berjihad, orang-orang yang melakukan bom syahid, para ulama, para dai, dan orang-orang yang mencurahkan hartanya untuk berinfak di jalan Allah.
Mereka mengafirkan seluruh kaum muslimin tersebut dan tidak menilai keislaman, kecuali bagi segelintir orang, yaitu orang-orang yang berada dalam jemaah (kelompok) mereka saja dan orang-orang yang seperti mereka saja. Mereka bahkan mengafirkan seluruh umat Islam pada abad-abad yang terakhir.
Sementara itu mereka menemukan dalam hadis-hadis nabawi dan zhahir-zhahir (dalil) syariat bahwa generasi umat Islam akan senantiasa berlanjut sampai menjelang hari kiamat, yaitu saat Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan mencabut nyawa setiap orang yang beriman.
Mereka juga menemukan dalam hadis-hadis nabawi pujian bagi sebagian generasi umat, sebagian zaman (periode waktu) umat, sebagian tempat umat, dan pemberitahuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tetap eksisnya keislaman, keimanan, dan kesalehan pada diri (sebagian generasi, periode dan tempat)nya dan diri orang-orang (pada sebagian generasi, periode dan tempat) tersebut.
Mereka juga menemukan hadis-hadis tentang thaifatul manshurah yang senantiasa meraih kemenangan atas musuh-musuh Islam dan bahwa thaifatul manshurah akan senantiasa eksis sampai datangnya kiamat dan banyak lagi hadits-hadits lainnya. Akibatnya mereka mengalami kontradiksi yang sangat kuat dan mereka menekan perasaan mereka sendiri sehingga membuat jiwa mereka sendiri sakit dan mati!
2. Mereka melihat tanda-tanda kesalehan dan bagusnya keimanan, seperti yang diberitahukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Alquran dan diberitahukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadis sahih serta tanda-tanda husnul khatimah (kematian yang baik) pada diri banyak umat Islam. Terlebih lagi pada diri mujahidin dan syuhada. Mereka juga melihat kesabaran orang-orang muslim yang bersabar, kekuatan iman orang-orang yang beriman, dan kekuatan keyakinan orang-orang yang yakin.
Di sisi lain mereka memvonis semua umat Islam tersebut sebagai orang-orang kafir dan bukan orang-orang Islam. Akibatnya mereka senantiasa berada dalam kontradiksi yang besar yang hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui hakikatnya. Dalam relung hati, mereka sendiri tidak mampu menolak dan membantah kenyataan tersebut akibat kontradiksi tersebut sangat banyak, bukti-buktinya kuat dan sesuai dengan fitrah!
3. Mereka mengafirkan seluruh ulama Islam, termasuk para ulama besar yang saleh, tulus, pemahamannya luas, dan ahli dalam melakukan tahqiq (penelitian, pengkajian, dan penyimpulan). Pada saat yang sama, mereka melihat diri mereka sendiri saat dibandingkan dengan para ulama Islam tersebut adalah orang-orang bodoh yang masih membutuhkan para ulama Islam tersebut!
4. Kontradiksi lainnya, pada saat mereka mengafirkan seluruh umat Islam pada abad-abad yang terakhir, kecuali segelintir orang saja, maka mereka dirasuki oleh perasaan was-was dan ragu-ragu tentang kebenaran penyampaian ajaran agama Islam dan sampainya ajaran Islam kepada mereka.
Hal itu karena Alquran dan sunah, tafsir Alquran dan syarh hadis, dan hal yang semakna dengan keduanya seperti hasil-hasil ijmak dan qiyas-qiyas yang benar, demikian pula alat-alat untuk memahaminya seperti bahasa 'Arab dan seluruh ilmu alat lainnya, semuanya sampai kepada mereka melalui perantaraan abad-abad (yang mereka kafirkan) tersebut, pasti dan tidak bisa tidak.
Jika semua umat Islam pada abad-abad yang terakhir tersebut kafir, maka bagaimana mereka akan dipercaya untuk menyampaikan dan menjelaskan ajaran agama Islam? Akibatnya mereka mengalami kontradiksi seperti kontradiksi yang dialami oleh orang-orang Syi'ah Rafidhah Mariqin, maka kemungkinannya adalah seseorang di antara mereka mendapat petunjuk kembali atau justru menjadi orang zindik. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari keburukan tersebut.
5. Setiap hari mereka menemukan dalil-dalil baru yang menyelisihi mazhab mereka, maka mereka memaksakan diri untuk membantah dalil-dalil tersebut. Tapi akhirnya mereka dikalahkan oleh dalil-dalil yang sangat banyak, kuat, dan berlimpah tersebut.
Tiada pilihan bagi mereka selain menunjukkan arogansi demi arogansi sehingga dalam hati pun sebenarnya mereka menyadari tengah bersikap arogan, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menutup hati kebanyakan mereka sehingga mereka tidak mau kembali kepada kebenaran.
Di antara contohnya, mereka menelaah perkataan sebagian ulama dakwah Najd yang pada awalnya mereka agung-agungkan dalam perkara ini, kemudian mereka kafirkan —tidak mustahil Abu Maryam Al Mukhlif suatu saat nanti akan mengafirkan sebagian ulama dakwah Najd tersebut jika Abu Maryam Al-Mukhlif masih berada di atas jalannya dan tidak mendapatkan rahmat Allah Ta’ala-. Perkataan sebagian ulama dakwah Najd tersebut menyelisihi pendapat mereka. Bahkan perkataan-perkataan Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab sendiri, lebih dari itu perkataan-perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sendiri, juga perkataan-perkataan para ulama dan imam lainnya, menyelisihi pendapat mereka.
Di antaranya adalah apa yang mereka lihat dari sebagian ulama dakwah Najd baik berupa teks tegas perkataan mereka maupun perjalanan hidup mereka yang menunjukkan sikap memaafkan, memberi uzur kepada orang yang berbeda pendapat, dan kasih sayang kepada orang-orang yang jahil, maka dalam waktu yang lama mereka bersusah payah dan memaksa-maksakan diri untuk melipat-lipat perkataan sebagian ulama (dakwah Najd) tersebut dan sikap nyata mereka yang baku tersebut, namun hati mereka kemudian dilanda sedikitnya penghormatan dan kecintaan kepada sebagian ulama dakwah Najd tersebut. Setelah itu mereka membuat keragu-raguan tentang sebagian ulama dakwah Najd tersebut.
Selama beberapa waktu, mereka belum akan berani mengafirkan sebagian ulama dakwah Najd tersebut karena mayoritas kesesatan mereka (Abu Maryam Al Mukhlif dan para pengikutnya) terjadi akibat pemahaman yang buruk terhadap perkataan-perkataan para imam dakwah Najd. Mereka khawatir kontradiksi dan hakikat mereka terbongkar di hadapan masyarakat, namun terkadang mereka sampai pada kondisi tidak mempedulikan apapun lagi sehingga mereka berani mengafirkan sebagian ulama dakwah Najd tersebut seperti telah kami sebutkan di atas.
6. Seiring perjalanan waktu, mereka akan menemukan pendapat-pendapat yang mereka ikuti tersebut sangat banyak dan sangat kuat menyelisihi tujuan-tujuan dan pokok-pokok syariat Islam (maqashidusy syari’ah) dan pokok-pokok ajaran agama Islam (ushuluddin) yang telah ditetapkan dengan beragam dilalah (penunjukan suatu dalil syar’i terhadap suatu hukum atau perkara) yang bukan nas.
Mereka mendapati syariat Islam lebih cenderung dan menyukai pemberian uzur. Syariat Islam banyak memuji dan menghasung pemberian uzur. Seperti disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَلَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللهِ، مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ أَنْزَلَ الْكِتَابَ وَأَرْسَلَ الرُّسُلَ
“Tiada seorang pun yang lebih menyukai pemberian uzur selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, oleh karena itu Allah menurunkan kitab suci dan mengutus para rasul.”(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dengan lafal Muslim)
Syariat Islam juga lebih menyukai untuk memudahkan dan meringankan, sementara mereka justru bersikap sebaliknya. Hal itu memaksa mereka lebih menekan perasaan mereka sendiri secara berulang-ulang. Sampai-sampai sebagian mereka tidak suka jika mendengarkan atau membaca ayat Alquran dan hadis-hadis yang berbicara tentang memudahkan, memberi uzur, meringankan, dan lain-lain!
Inilah kondisi pelaku bidah dan kefasikan (kefasikan adalah keluar (melanggar) dari ketaatan kepada Allah dan jalan-Nya yang lurus), ia merasa sempit dan sesak terhadap ayat-ayat dan hadis-hadis yang menyelisihi bidah dan kefasikannya, maka ia termasuk dalam makna golongan yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,
ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Kemudian mereka tidak mendapatkan dalam diri mereka rasa sempit (keberatan) atas keputusan yang engkau (Rasulullah) tetapkan dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya.”(QS. An Nisa’ [4]: 65)
Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah telah menyebutkan masalah ini dalam sebagian bukunya. Dalam kitabnya yang berjudul Ijtima’ul Juyusyul Islamiyyah, Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah mengutip dari Imam Ibnu Abi Hatim dalam kitabnya, As Sunnah, dan Imam 'Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya yang juga bernama As Sunnah, keduanya meriwayatkan bahwa Jahm bin Shafwan membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
”Yaitu Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.”(QS. Thaha [20]: 5)
Maka Jahm bin Shafwan berkata, “Seandainya aku menemukan cara untuk menghapus ayat ini dari musaf Alquran, tentu akan akan melakukannya.”
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kesehatan, keselamatan, dan keteguhan di atas kebenaran. Amin.
Saat membahas tentang sikap menjauhi Alquran, Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dalam kitabnya Al Fawaid menulis, “Demikian pula halnya dengan rasa sempit dalam jiwa terhadap Alquran. Hal itu terkadang terjadi karena ia merasa sesak disebabkan Alquran adalah kebenaran dan diturunkan dari sisi Allah. Terkadang disebabkan Allah berbicara dengannya atau anggapan ia adalah salah satu makhluk-Nya yang Allah ilhamkan kepada selain-Nya untuk berbicara dengannya. Terkadang disebabkan (keraguan bahwa) Alquran telah mencukupi atau belum dan (anggapan) bahwa Alquran belum cukup bagi hamba-hamba-Nya. Mereka meyakini bahwa makhluk-makhluk Allah masih memerlukan hasil-hasil akal, logika-logika, pendapat-pendapat, atau siasat-siasat. Terkadang oleh sebab sisi penunjukan lafal-lafalnya terhadap makna-makna yang sesungguhnya saat lafal tersebut diucapkan ataukah makna lafal-lafal tersebut hendak ditakwilkan dan dikeluarkan dari makna-makna sebenarnya kepada takwilan-takwilan yang dibenci dan memiliki banyak makna. Terkadang oleh sebab makna-makna yang sesungguhnya tersebut sekalipun maknanya telah teguh, namun diperdebatkan lagi apakah ia yang dimaksudkan sendiri ataukah mengesankan ia yang dimaksudkan karena sebuah maslahat tertentu? Mereka semua, dalam hati mereka merasakan sesak dan sempit dari Alquran. Mereka mengetahui hal itu dari hati mereka dan mereka mendapatkannya dalam dada mereka. Anda tidak akan mendapatkan seorang pun pelaku bidah dalam agama, kecuali di dalam hatinya merasa sesak terhadap ayat-ayat Alquran yang menyelisihi bidahnya. Sebagaimana Anda tidak akan mendapatkan seorang pun orang yang zalim dan pendosa, kecuali dadanya akan merasa sesak terhadap ayat-ayat Alquran yang menghalangi dirinya dari meraih hawa nafsunya. Maka renungkanlah secara mendalam makna ini, kemudian sukailah untuk dirimu sendiri apa yang engkau inginkan.”
Sumber: Syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim as-Syitwi al-Misrati (Athiyatullah al-Libi), Jawabu Sual fi Jihad ad-Daf’i, (1434 H: Dar al-Jabhah, Al-Jabhah al-I’lamiyah al-Islamiyah al-‘AIamiyah (Global Islamic Media Front), dan Mimbar at-Tauhid wa al-Jihad), hlm. 28-33.
Penulis: 'Athiyyatullah Al Libbi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umar