data:post.title

Gambaran dalam Perang Khandaq

Gambaran dalam Perang Khandaq

Gambaran dalam Perang Khandaq

Oleh Syaikh Abu Hamzah al-Muhajir

Mari kita melihat bentuk lain yang lebih sulit yang pernah dialami negara nabi. Itu terjadi pada Perang Khandaq, ketika kaum muslimin dikepung oleh pasukan sekutu yang dipimpin musyrikin Quraisy.

Allah Ta'ala berfirman,
إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا * هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا
“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.”
[QS. Al Ahzab (33): 10-11]

Gambaran dalam Perang Khandaq adalah sebagai berikut.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia menggali parit untuk menghalang-halangi musuh dan itu atas saran dari Salman Al-Farisi radhiallahu 'anhu, “Di negeri Persia jika kami dikepung kami menggali parit sebagai benteng pertahanan.” Kemudian pasukan muslim mendirikan kamp-kamp di belakang parit. Jumlah mereka sekitar 1000 tentara. Ini insyaa Allah pendapat terkuat, berbeda dengan pendapat mayoritas ahli sirah kenabian. Pendapat ini berdasarkan banyak dalil yang di sini bukan tempat untuk memaparkannya.

Syaikhul Islam mengatakan, “Jumlah kaum muslimin pada Perang Badar 313 orang. Perang Uhud sekitar 700. Perang Khandaq lebih dari 1000 atau mendekati 1000. Mereka menghadapi ribuan orang-orang musyrik dari bangsa 'Arab. Mereka bertekad memasuki Madinah dan menghabisi kaum muslimin. Kemudian tiba-tiba, kaum muslimin dikejutkan dengan munculnya musuh dari belakang mereka yang mengancam mereka dengan menampakkan permusuhan dalam bentuk yang paling buruk, mereka adalah Yahudi Bani Quraizhah.”

Al Hakim dan Al Baihaqi meriwayatkan hadis dari Hudzaifah radhiallahu'anhu, ia berkata, “Sungguh pada Perang Ahzab saya melihat kami berbaris sambil duduk. Sementara Abu Sufyan dan pasukannya berada di atas kami. Sedangkan Yahudi Bani Quraizhah berada di bawah kami. Kami mengkhawatirkan anak-anak kami dari serangan mereka.”

As Sa'di rahimahullah mengatakan, “Mereka mengepung Madinah. Keadaan waktu itu sangat genting. Kami diselimuti ketakutan yang amat sangat sampai banyak sahabat yang menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka ketika melihat keadaan yang amat genting.”
(Selesai perkataan As Sa'di rahimahullah)

Kaum muslimin ditimpa ketakutan dan kelaparan yang amat sangat sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyerukan kepada para sahabat, ““Siapa orangnya yang mau bangkit, melihat apa yang dilakukan orang-orang musyrik.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjamin, apabila kembali dengan membawa berita tentang apa yang diperbuat orang-orang musyrik, bahwa Allah akan memasukannya ke surga. Tapi tidak ada satu pun sahabat yang bangkit. Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam shalat malam cukup lama. Beliau menoleh kepada kami, usai shalat, bersabda, “Siapa orangnya yang mau bangkit, melihat apa yang dilakukan orang-orang musyrik lalu kembali.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mensyaratkan harus kembali. Saya memohon kepada Allah agar ia menjadi temanku di surga, tapi tidak ada satu pun sahabat yang bangkit karena rasa takut, lapar dan dingin yang amat sangat. Karena tidak ada satu pun yang bangkit, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggilku. Saya tidak bisa berbuat apa-apa ketika beliau memanggilku. Ketika keadaannya sangat mencemaskan dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengkhawatirkan keselamatan anak-anak dan kaum wanita dari serangan Yahudi Bani Quraizhah karena tidak ada kekuatan militer standar yang bisa melindungi mereka atau supaya jangan sampai tangan-tangan najis mereka bisa menjamah kaum muslimin dari belakang, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hendak memecah belah pasukan sekutu musyrikin, maka beliau mengirim utusan ke Ghathafan untuk bernegosisasi agar mundur dan meniggalkan medan perang dengan sepertiga buah-buahan Madinah sebagai imbalannya. Proses tawar-menawar pun terjadi untuk menggolkan maksud tersebut dan beliau meminta saran kepada Sad bin Mu'adz, pemimpin Aus, dan Sad bin Ubadah, pemimpin Khazraj. Keduanya mengatakan, “Demi Allah, kami tidak akan memberikan apapun kepada mereka, kecuali pedang.” Beliau pun setuju dengan keduanya. Beliau bersabda, “Ini saya lakukan demi kalian ketika saya melihat seluruh bangsa 'Arab membidik kalian dari satu busur.” Kemudian, setelah 20-an malam berlalu tibalah jalan keluar dari Allah Subhanahu wa Ta'ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحاً وَجُنُوداً لَّمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيراً
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.”
[QS. Al Ahzab (33): 9]”

Itu karena kejujuran iman, kebagusan bala ujian, dan kesabaran mereka dalam menghadapi perintah Allah dan ketawakalan mereka kepada-Nya.

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَاناً وَتَسْلِيماً
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita." Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.”
[QS. Al Ahzab (33): 22]

Sudah seharusnya Anda mengetahui bahwa kaum muslimin sebenarnya belum siap dari sisi ekonomi untuk menghadapi pertempuran sengit atau sudah siap tapi mereka tidak punya bekal cukup atau sekadar bisa bertahan hidup saja tidak ada.

Mereka mulai menggali parit. Padahal mereka tidak punya makanan yang bisa dimakan dan bisa mengganjal rasa lapar, meskipun mereka adalah kaum petani. Namun mereka sudah disibukkan dengan urusan jihad bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ada keterangan valid berkaitan dengan sebab turunnya firman Allah Taala,
وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
[QS. Al Baqarah (2): 195]

Abu Ayyub Al Anshari radhiallahu 'anhu mengatakan, “Wahai manusia, kalian menakwilkan ayat ini dengan takwilan semacam ini. Padahal ayat ini diturunkan berkaitan dengan kami orang-orang Anshar. Ketika Allah memuliakan agama-Nya dan memperbanyak para penolongnya sebagian kami berkata kepada sebagian lainnya secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Sesungguhnya harta benda kita telah hilang. Seandainya kita tetap tinggal karenanya dan memperbaiki keadaan harta benda kita, maka Allah tentu akan mengembalikan kepada kita apa yang telah kita tekadkan.”” Abu Ayyub, “Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat,
وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
[QS. Al Baqarah (2): 195]”

Kebinasaan adalah ketika tetap tinggal mengurusi harta benda yang kami inginkan karena Allah memerintahkan kami berperang.

Apa makanan mereka pada waktu itu? Dalam Shahih Bukhari, Anas radhiallahu 'anhu mengatakan, “Para sahabat membawa segenggam penuh tepung dicampur dengan mentega basi untuk dibuat makanan. Makanan itu ditaruh di hadapan mereka yang sedang menahan rasa lapar. Makanan itu terasa menjijikan di tenggorokan dan berbau busuk. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah merasakan rasa lapar yang membuat hati kita bagaikan tersayat-sayat dan membuat air mata kita menetes.” Anas radhiallahu 'anhu mengatakan, sebagaimana dalam Shahih Bukhari, “Pada waktu kami menggali parit saat Perang Khandaq ada batu cadas yang keras sekali. Para sahabat mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, “Ada batu cadas menghalangi di parit.” Beliau, “Saya akan turun ke parit.” Kemudian beliau berdiri, sementara perut beliau diganjal dengan batu. Selama tiga hari kami tidak makan apa-apa.”

Dalam Shahih Bukhari, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam melewati kaum muhajirin dan ansar yang sedang menggali parit pada waktu pagi yang dingin ketika. Ketika beliau melihat mereka tampak kelelahan dan kelaparan, bersabda, “Ya Allah sesungguhnya hidup yang sebenarnya adalah hidup di akhirat, ampunilah kamu ansar dan muhajirin.” Mereka menjawab, “Kamilah orang-orang yang berbaiat kepada Muhammad. Kami akan selalu berjihad selama kami masih hidup.”

Setelah ini, kami bertanya kepada orang-orang yang suka berkomentar tentang negara Islam dengan konsep Perjanjian Sykes-Picout, berapa luas wilayah negara nabi yang ada di Madinah?

Kemudian, ketika terjadi Perang Ahzab, berapa luas wilayahnya, terutama setelah Yahudi Bani Quraizhah membatalkan perjanjian?

Apakah  waktu itu negara Islam masih tetap eksis? Lalu kenapa?

Apakah  mungkin gambaran ini bisa menjadi batas minimal standar kekuatan yang harus dimiliki negara Islam, pula dalam hal luas wilayahnya?

Apa ukuran luasnya pengaruh di negeri dalam naungan hukum Islam dilihat dari apa yang terjadi pada Perang Uhud dan Ahzab, di mana tidak ada apa pun yang bisa melindungi kaum wanita dan anak-anak dari ancaman serangan musuh dari bangsa Yahudi. Ketakutan menyelimuti seluruh pasukan sampai pada batas seorang tentara tidak ingin berdiri, meski ia sudah dijanjikan masuk surga bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?

Apa ukuran kekuatan dan kepemimpinan setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan tawar-menawar (negosiasi) untuk membayar sepertiga buah-buahan Madinah kepada kaum musyrikin, namun mereka tidak merelakan meskipun hanya satu buah kurma tanpa harga yang sama pada zaman syirik?

Sumber: Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir, Daulah Nabawiyah (Negara Nabi), (1429 H: Muassasah Al-Furqon Lil Intaj Al-Ilamiy, Diterjemahkan oleh Abu Ahmad), hlm. 39-43, dengan perubahan.

Penulis: Abu Ayyub Al Mishri
Penerjemah: Abu Ahmad
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari
  1. Beranda
  2. /
  3. Sejarah
  4. /
  5. Gambaran dalam Perang Khandaq