data:post.title

Hubungan Kelompok Jihad dan Pemikiran Dakwah Najdiyyah

Hubungan Kelompok Jihad dan Pemikiran Dakwah Najdiyyah

Hubungan Kelompok Jihad dan Pemikiran Dakwah Najdiyyah

Oleh Syaikh al-Hasan bin ‘Ali al-Kattani 

Sebelumnya kita membahas bahwa dakwah Najdiyyah memiliki ciri khusus dari manhaj Salafi secara umum dalam perkara-perkara khusus. Oleh karena itu, dakwah Najdiyyah memiliki perbedaan tersendiri dari dakwah Syamiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan sahabat-sahabatnya yang menjadi perpanjangan dari manhaj para imam salaf rahimahumullah.

Maka kami katakan: Sesungguhnya awal-awal gerakan jihad modern yang bentuknya dikenal dengan kelompok-kelompok jihad memungkinkan untuk kami anggap sebagai gerakan yang berpijak pada prinsip-prinsip khusus Persaudaraan Muslim, prinsip inilah yang dibuat sebagai dasar oleh Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna rahimahullah dan orang-orang di dalam hidupnya terbagi pada lembaran-lembaran kitab dan senjata senapan dan tujuannya adalah jihad melawan penjajah dan melindungi dakwah. Oleh karena itu, Al Hasan terkena ujian melawan Inggris dan juga melawan penjajah Yahudi di Palestina jika bukan karena adanya pengkhianatan para penguasa 'Arab. Imam Asy Syahid dalam beberapa risalahnya telah mengancam penguasa Mesir dengan jihad jika tidak menerapkan syariat islam dan praktiknya dilakukan aksi pembunuhan terhadap beberapa menteri yang telah mengganggu dakwah dan mulailah kekuar dari kekuasaan, oleh karena itu para ikhwan meninggalkannya pada masa selanjutnya setelah adanya ujian mereka yang pertama, namun ujian itu menjadikan Al Ustadz Asy Syahid Sayyid Qutb rahimahullah menulis tulisan-tulisan yang mendalam tentang kekuasaan dan hukum pemerintahan, al wala wal bara’, dan pandangan Islam yang lebih dalam daripada apa yang ditulis oleh Hasan Al Banna, begitu juga buku-buku sebelumnya yang ditulis oleh Ustadz Asy Syahid 'Abdul Qadir 'Audah, namun Sayyid Qutb menulis tentang kewajiban adanya sayap militer untuk melindungi dakwah dari kekejian penguasa dan mungkin dari satu kelompok dari teman-temannya untuk itu. Dengan ini terbentuklah beberapa kelompok jihad di atas pemikiran Sayyid Qutb. Bersamaan dengan hilangnya para pimpinan ikhwan di penjara, para pemuda mengambil manfaat dari para syekh Salafi di Jemaah Ansar Sunah (Jama’ah Ansharus Sunnah), di antara mereka adalah Syaikh Khalil Harras, beliau adalah guru bagi Syaikh Dr. Aiman Azh Zhawahiri, dan di universitas-universitas Mesir terbentuklah Jemaah Islam (Al Jama’ah Al Islamiyyah) yang dididik di atas buku-buku para pimpinan ikhwan dan tulisan-tulisan serta risalah-risalah para syekh Salafi di Kerajaan Sa'udi dan yang juga melengkapi sisi akidah dan fikih bagi para pemuda, oleh karena itu di Mesir pada akhir abad yang lalu (14 H) muncul kebangkitan (kesadaran) paham Salafi sangat kuat sekali, dan banyak sekali pemuda universitas (mahasiswa) yang menjadi murid Syaikhul Azhar ‘Umar ‘Abdurrahman fakallahu asrah yang termasuk seorang alim yang Salafi, maka muncul fenomena penampakan sunah atas para pemuda berupa jenggot yang lebat, bergamis, baju syar’i yang longgar dan cadar, memerangi bidah dan kesyirikan, serta yang lainnya yang belum dikenal oleh Persaudaraan Muslim.

Selanjutnya, di sini para pemuda mulai menelaah tulisan-tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan sahabat-sahabatnya dalam persoalan jihad, lalu muncul risalah yang berjudul Al Faridhah Al Ghaibah karangan Asy Dyahid Muhammad 'Abdussalam Faraj rahimahullah yang mayoritas tulisannya menukil dan merujuk kepada Syaikh Ibnu Taimiyyah, kemudian diikuti pembahasan lain seperti Hukmu Thawaif Al Mumtani’ah milik Jemaah Islam dan di dalamnya banyak sekali penukilan dari Syaikhul Islam.

Lalu muncul perselisihan yang sangat masyhur antara Organisasi Jihad (Tanzhim Jihad) dengan Jemaah Islam dalam masalah udzur bil jahl (uzur karena kebodohan) dan hukum para pembela tagut, di mana Organisasi Jihad berusaha keras untuk memperkuat argumennya dengan merujuk kepada beberapa tulisan dakwah Najd dari kitab Maj’muatut Tauhid dan Fathul Majid tanpa memperluas referensi, maka Organisasi Jihad cenderung keras dalam dua masalah ini dan diselisihi oleh Jemaah Islam, dan masalah ini akan tampak jelas dalam tulisan-tulisan Syaikh 'Abdul Qadir bin 'Abdul 'Aziz (Sayyid Imam) yang berlebih-lebihan dalam pengafiran terutama dalam persoalan loyalitas kepada orang kafir dan tidak ada uzur karena kebodohan dalam masalah tauhid dan bukunya Al Jami’ fi Thalabil 'Ilmi menjadi sumber hal itu.

Selain itu, pada awal abad 15 H para pemuda banyak yang pergi untuk jihad Afghan dan Syaikh 'Abdullah 'Azzam memiliki peran penting dan besar dalam hal itu, dan para pemuda Jazirah 'Arab baik Najd, Hijaz, maupun Yaman, juga memiliki peran besar dalam hal itu, sebagaimana kelompok jihad Mesir memberi fatwa wajibnya berjihad sehingga para pimpinan besar mereka pergi ke Afghanistan dan saling tukar pikiran dengan seluruh elemen yang ada.

Di antara para syekh yang perhatian dengan tulisan-tulisan Najd adalah Syaikh Madahat bin Hasan Al Farraj rahimahullah dan dalam kitabnya Al Udzru bil Jahli tahtal Majharusy Syar’i memiliki dampak yang besar bagi para pemuda kemudian mengumpulkan tulisan hingga dalam 4 jilid besar yang diberi judul Aqwalu Aimmatud Dakwah An Najdiyah fil Masailil Ashriyyah dan pada awal dekade kedua tepatnya pada tahun 1410 H para pemuda mengambil ilmunya dalam masalah al wala wal bara' dari kitabnya Al Qahthani dan Al Jal’ud dan keduanya menukil banyak pendapat ulama Najd dalam bab itu.

Kemudian muncul tulisan-tulisan Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi hafizhahullah yang sangat terkesan sekali dengan kitab Ad Durarus Saniyyah fil Fatawan Najdiyyah, maka tidak ada satu kitab pun dari tulisannya, kecuali di dalamnya penukilan dari kitab itu bahkan di dalamnya ada istilah-istilah buku-buku ulama Najd seperti 'muwahhid' dan semisalnya, dia menerapkan kaidah-kaidah mereka atas masalah-masalah hari ini seperti berhukum dengan selain syariat, pemilu, ikut terjun dalam parlemen dan bekerja di pemerintahan yang tidak berhukum dengan syariat, lalu beliau memilih tidak ada uzur karena kebodohan dalam masalah tauhid dan kafirnya seluruh tentara pemerintahan yang tidak berhukum dengan syariat dan menggunakan parlemen yang ikut serta dalam pemiu legislatif. Beliau juga menulis sebuah buku yang menjadi rujukan bagi para pemuda jihadis di seluruh dunia, namun Syaikh bersikap lebih longgar dalam masalah khafiyyah (yang tersembunyi atau samar), berbeda dengan ulama Najd, dan tidak menerapkan usul atau dasar-dasar mereka secara harfiah, bahkan tidak diterapkan terhadap Syi'ah, Shufi, filsuf, maupun penakwil sifat-sifat Allah. Di sinilah letak perbedaannya, semua itu beliau sikapi dengan manhaj Ibnu Taimiyyah, bukan dengan manhaj dakwah Najdiyah belaka, dan beliau jelaskan secara detail hal itu dalam risalahnya yang memberi rambu-rambu tegas dalam persoalan takfir agar terhindar dari sikap ghuluw, Risalah Ats Tsalatsiniyyah Al Ghuluw fit Takfir, sehingga sebagian orang dari kalangan orang-orang ekstrem dan para pengikut fanatik dakwah Najd mengira bahwa beliau taraju’ (menarik kembali pandangannya), padahal yang benar itu adalah pemikiran beliau sejak dari awal. Dari situlah berkembangnya pemikiran jemaah negara yang berlepas diri dari Syaikh Al Maqdisi

Sumber: https://ansharalislam.wordpress.com/2016/06/19/membedah-dakwah-najdiyah-dan-gerakan-jihad-global/, dengan perubahan.

Penulis: Hasan Ibn 'Ali Al Kattani
Penerjemah: Muhammad Sufyan Tsauri dan Ibnu Qalami
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari
  1. Beranda
  2. /
  3. Sejarah
  4. /
  5. Hubungan Kelompok Jihad dan Pemikiran Dakwah Najdiyyah