data:post.title

Jihad akan Terus Berlangsung hingga Hari Kiamat

Jihad akan Terus Berlangsung hingga Hari Kiamat

Jihad akan Terus Berlangsung hingga Hari Kiamat

Oleh Syaikh Yusuf bin Shalih al-‘Uyyairi

Hari ini, seluruh dunia —kecuali yang dirahmati Allah- berdiri satu barisan dengan kekuatan ideologinya, politiknya, ekonominya, informasinya, teknologi dan nasionalismenya, dan dengan segala kekuatannya, di hadapan salah satu syiar agama kita yang hanif (lurus), syiar itu adalah jihad di jalan Allah. Sebuah syiar yang Allah wajibkan kepada kita dengan firman-Nya,
{ูƒُุชِุจَ ุนَู„َูŠْูƒُู…ُ ุงู„ْู‚ِุชَุงู„ُ ูˆَู‡ُูˆَ ูƒُุฑْู‡ٌ ู„َูƒُู…ْ ูˆَุนَุณَู‰ ุฃَู†ْ ุชَูƒْุฑَู‡ُูˆْุง ุดَูŠْุฆุงً ูˆَู‡ُูˆَ ุฎَูŠْุฑٌ ู„َّูƒُู…ْ ูˆَุนَุณَู‰ ุฃَู†ْ ุชُุญِุจُّูˆْุง ุดَูŠْุฆุงً ูˆَู‡ُูˆَ ุดَุฑٌّ ู„َّูƒُู…ْ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ูŠَุนْู„َู…ُ ูˆَุฃَู†ْุชُู…ْ ู„ุงَ ุชَุนْู„َู…ُูˆْู†َ}
"Diwajibkan atas kalian berperang, padahal perang itu kalian tidak suka. Bisa jadi kalian tidak suka kepada sesuatu padahal itu lebih baik bagi kalian dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian dan Allah Maha tahu sedangkan kalian tidaklah mengetahui."[1]

Dan dengan firman-Nya,
{ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุฌَุงู‡ِุฏِ ุงู„ْูƒُูَّุงุฑَ ูˆَุงู„ْู…ُู†َุงูِู‚ِูŠْู†َ ูˆَุงุบْู„ُุธْ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ูˆَู…َุฃْูˆَุงู‡ُู…ْ ุฌَู‡َู†َّู… ูˆَุจِุฆْุณَ ุงู„ْู…َุตِูŠْุฑ}
"Wahai Nabi, jihadlah melawan orang kafir dan munafik dan bersikap keraslah kepada mereka, tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan sungguh itu sejelek-jelek tempat kem-bali.”[2]

Dan firman-Nya,
{ู‚َุงุชِู„ُูˆุง ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ู„ุงَ ูŠُุคْู…ِู†ُูˆْู†َ ุจِุงู„ู„ู‡ِ ูˆَู„ุงَ ุจِุงْู„ูŠَูˆْู…ِ ุงْู„ุขุฎِุฑِ ูˆَู„ุงَ ูŠُุญَุฑِّู…ُูˆْู†َ ู…َุง ุญَุฑَّู…َ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆْู„ُู‡ُ ูˆَู„ุงَ ูŠَุฏِูŠْู†ُูˆْู†َ ุฏِูŠْู†َ ุงู„ْุญَู‚ِّ ู…ِู†َ ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ุฃُูˆْุชُูˆุง ุงู„ْูƒِุชَุงุจَ ุญَุชَّู‰ ูŠُุนْุทُูˆุง ุงู„ْุฌِุฒْูŠَุฉَ ุนَู†ْ ูŠَุฏٍ ูˆَู‡ُู…ْ ุตَุงุบِุฑُูˆْู†َ}
"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak mengharamkan apa yang Allah dan rasul-Nya haramkan, dan tidak menganut agama yang benar (Islam) dari kalangan ahli kitab sampai mereka membayar jizyah dari tangan sementara mereka dalam keadaan hina."[3]

Dalam ayat terakhir yang turun tentang jihad, Allah berfirman menegaskan kewajiban ini,
{ูَุฅِุฐَุง ุงู†ْุณَู„َุฎَ ุงْู„ุฃَุดْู‡ُุฑُ ุงู„ْุญُุฑُู…ُ ูَุงู‚ْุชُู„ُูˆุง ุงู„ْู…ُุดْุฑِูƒِูŠْู†َ ุญَูŠْุซُ ูˆَุฌَุฏْุชُู…ُูˆْู‡ُู…ْ ูˆَุฎُุฐُูˆْู‡ُู…ْ ูˆَุงุญْุตُุฑُูˆْู‡ُู…ْ ูˆَุงู‚ْุนُุฏُูˆْุง ู„َู‡ُู…ْ ูƒُู„َّ ู…َุฑْุตَุฏٍ ูَุฅِู†ْ ุชَุงุจُูˆุง ูˆَุฃَู‚َุงู…ُูˆุง ุงู„ุตَّู„ุงَุฉَ ูˆَุขุชُูˆุง ุงู„ุฒَّูƒَุงุฉَ ูَุฎَู„ُّูˆْุง ุณَุจِูŠْู„َู‡ُู…ْ ุฅِِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ุบَูُูˆْุฑٌ ุฑَّุญِูŠْู…ٌ}
“Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah dan kepunglah mereka serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika mereka tobat dan menegakkan salat serta menunaikan zakat, bebaskanlah mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[4]

Orang-orang kafir berusaha menghapus syiar jihad ini dan memberikan label kepadanya dengan label terorisme dan tindak kejahatan, menjuluki para pelakunya sebagai kaum teroris, orang-orang ekstrem, fundamentalis,  dan radikal.

Ditambah lagi, orang-orang munafik ikut membantu mereka dengan menjelekkan dan menghalang-halangi jihad dengan cara-cara setan, ada yang mengatakan jihad dalam Islam hanya bersifat membela diri (defensif), tidak ada jihad ofensif (menyerang terlebih dahulu). Ada juga yang mengatakan bahwa jihad disyariatkan hanya untuk membebaskan negeri terjajah. Ada juga yang mengatakan bahwa jihad menjadi wajib kalau sudah ada perintah dari penguasa padahal penguasa itu menjadi antek Yahudi dan salibis. Sekali waktu ada yang mengatakan bahwa jihad sudah tidak relevan untuk zaman kita sekarang, zaman kedamaian dan undang-undang baru internasional, na`udzubillah min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari kesesatan-kesesatan ini.

Meski ada saja alasan, dorongan, istilah-istilah munafik dan kufur berbentuk apapun yang bertujuan menghapus panji jihad, kalau dirunut ujungnya sebenarnya jalan jihad ini sejak   zaman Rasul shallallahu 'alaihi wa salam sudah jelas bagi umat Islam, rambu-rambunya sudah ditetapkan, pemahaman dan fikihnya sudah gamblang, kita tidak perlu lagi menambahkan pemahaman-pemahaman jihad yang baru yang tidak bisa diselewengkan oleh siapa pun, baik di belahan bumi Timur maupun Barat.
Khazanah kita sudah terlalu cukup untuk ditambahi, dari khazanah itulah kita menimba rukun, syarat, kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan dan sunah-sunah dalam urusan jihad, kita juga mengambil pilar-pilar disyariatkannya jihad dari khazanah tersebut.

Lebih dari itu, Allah dan rasul-Nya shallallahu'alaihi wa salam telah mengabarkan bahwa jihad akan terus berlangsung sampai nanti Allah wariskan bumi dan penduduknya kepada orang-orang saleh. Kabar dari Allah dan rasul-Nya ini termasuk perkara baku yang tidak kami ragukan lagi dan tidak akan kami tanyakan kepada siapa pun setelah Allah dan rasul-Nya shallallahu'alaihi wa salam menegaskan hakikat ini.

Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini dari Alquran dan sunah sangatlah banyak, seperti firman Allah Ta`ala,
{ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ุขู…َู†ُูˆْุง ู…َู†ْ ูŠَุฑْุชَุฏَّ ู…ِู†ْูƒُู…ْ ุนَู†ْ ุฏِูŠْู†ِู‡ِ ูَุณَูˆْูَ ูŠَุฃْุชِูŠ ุงู„ู„ู‡ُ ุจِู‚َูˆْู…ٍ ูŠُุญِุจُّู‡ُู…ْ ูˆَูŠُุญِุจُّูˆْู†َู‡ُ ุฃَุฐِู„َّุฉٍ ุนَู„َู‰ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ ุฃَุนِุฒَّุฉٍ ุนَู„َู‰ ุงู„ْูƒَุงูِุฑِูŠْู†َ، ูŠُุฌَุงู‡ِุฏُูˆْู†َ ูِูŠْ ุณَุจِูŠْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَู„ุงَ ูŠَุฎَุงูُูˆْู†َ ู„َูˆْู…َุฉَ ู„ุงَุฆِู…ٍ ุฐَุงู„ِูƒَ ูَุถْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ูŠُุคْุชِูŠْู‡ِ ู…َู†ْ ูŠَّุดَุงุกُ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุงุณِุนٌ ุนَู„ِูŠْู…ٌ}
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya,  Allah akan datangkan satu kaum yang Dia cintai dan mereka pun mencintai-Nya, lembut terhadap orang beriman dan keras terhadap orang kafir, mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela. Itulah anugerah yang Alloh berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”[5]

Firman Allah, "...mereka berjihad..." menunjukkan jihad akan terus berlangsung, konteks ayat ini menunjukkan bahwa siapa saja meninggalkan sifat-sifat dalam ayat ini, Allah akan datangkan kaum lain yang  Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah, merekalah yang akan menyandang sifat-sifat tadi.

Allah juga berfirman
{ูˆَู‚َุงุชِู„ُูˆْู‡ُู…ْ ุญَุชَّู‰ ู„ุงَ ุชَูƒُูˆْู†َ ูِุชْู†َุฉٌ ูˆَูŠَูƒُูˆْู†َ ุงู„ุฏِّูŠْู†ُ ูƒُู„ُّู‡ُ ู„ِู„َّู‡ِ ูَุฅِู†ِ ุงู†ْุชَู‡َูˆْุง ูَุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ุจِู…َุง ูŠَุนْู…َู„ُูˆْู†َ ุจَุตِูŠْุฑٌ}
“Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya menjadi milik Allah, jika  mereka berhenti, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”[6]

Makna fitnah di sini adalah kekufuran, jadi perang akan terus berlangsung sampai tidak ada lagi kekufuran. Para ulama mengatakan: Kekufuran di muka bumi tidak akan pernah habis, kecuali di zaman Nabi 'Isa turun di akhir zaman, di saat beliau menghapus jizyah dan mematahkan salib serta membunuh babi, beliau hanya menerima Islam. Setelah itu Allah wafatkan beliau beserta orang-orang beriman yang mengikuti beliau, saat itulah tidak ada di muka bumi yang mengucapkan "Allah, Allah," maka kiamat pun terjadi menimpa makhluk paling buruk saat itu.

Lebih menegaskan bahwa jihad ini akan terus berlangsung, Allah Ta`ala berfirman dalam ayat jihad yang terakhir turun, yaitu ayatus saif (ayat pedang),
{ูَุฅِุฐَุง ุงู†ْุณَู„َุฎَ ุงْู„ุฃَุดْู‡ُุฑُ ุงู„ْุญُุฑُู…ُ ูَุงู‚ْุชُู„ُูˆุง ุงู„ْู…ُุดْุฑِูƒِูŠْู†َ ุญَูŠْุซُ ูˆَุฌَุฏْุชُู…ُูˆْู‡ُู…ْ ูˆَุฎُุฐُูˆْู‡ُู…ْ ูˆَุงุญْุตُุฑُูˆْู‡ُู…ْ ูˆَุงู‚ْุนُุฏُูˆْุง ู„َู‡ُู…ْ ูƒُู„َّ ู…َุฑْุตَุฏٍ ูَุฅِู†ْ ุชَุงุจُูˆุง ูˆَุฃَู‚َุงู…ُูˆุง ุงู„ุตَّู„ุงَุฉَ ูˆَุขุชُูˆุง ุงู„ุฒَّูƒَุงุฉَ ูَุฎَู„ُّูˆْุง ุณَุจِูŠْู„َู‡ُู…ْ ุฅِِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ุบَูُูˆْุฑٌ ุฑَّุญِูŠْู…ٌ}
“Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah, dan kepunglah mereka, serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika mereka tobat dan menegakkan salat serta menunaikan zakat, bebaskanlah mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[7]

Dalam Alquran, ayat yang menunjukkan terus adanya jihad sangatlah banyak.
Adapun dalil terus berlangsungnya jihad dalam sunah, maka lebih banyak lagi. Di antaranya adalah sabda Rasul shallallahu'alaihi wa salam sebagaimana diriwayatkan Al Jama`ah serta yang lain, dari ‘Urwah Al Bariqi radhiallahu'anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu'alaihi wa salam bersabda,
(ุงَู„ْุฎَูŠْู„ُ ู…َุนْู‚ُูˆْุฏٌ ูِูŠْ ู†َูˆَุงุตِูŠْู‡َุง ุงู„ْุฎَูŠْุฑُ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ุงَู„ْุฃَุฌْุฑُ ูˆَุงْู„ู…َุบْู†َู…ُ)
"Akan senantiasa tertambat kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat, yaitu pahala dan ganimah."

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari ketika Bukhari menjadikan hadis ini sebagai dalil akan terus berlangsungnya jihad baik bersama orang jahat ataupun orang baik, “Sebelumnya, Imam Ahmad sudah lebih dahulu menjadikan hadis ini sebagai dalil (terus berlangsungnya jihad) sebab Nabi shallallahu'alaihi wa salam menyebutkan terus adanya kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat, kemudian beliau maknai kebaikan itu dengan pahala dan ganimah, sedangkan ganimah yang disejajarkan dengan pahala pada kuda hanya terjadi ketika ada jihad. Hadis ini juga berisi anjuran berperang dengan menggunakan kuda. Juga berisi kabar gembira akan tetap bertahannya Islam serta pemeluknya hingga hari kiamat, sebab ada jihad berarti ada mujahidin, mujahidin sendiri adalah orang-orang Islam. Hadts ini senada dengan hadis yang berbunyi: Akan senantiasa ada satu kelompok umatku yang berperang di atas kebenaran. (Hadis)”
(Sampai di sini perkataan Ibnu Hajar secara ringkas)

Imam Nawawi berkata dalam kitab Syarah Shahih Muslim-nya ketika mengomentari hadis ini, “Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wa salam, “Akan senantiasa tertambat kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat,” ditafsirkan oleh hadis lain dalam hadis sahih, “Kebaikan itu adalah pahala dan ganimah.” Hadis ini menunjukkan bahwa Islam dan jihad akan tetap eksis hingga hari kiamat, maksud hingga hari kiamat adalah hingga sesaat sebelum kiamat terjadi, yakni ketika datang angin harum dari Yaman yang mencabut nyawa setiap mukmin, laki-laki maupun perempuan, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis sahih.”
(Sampai di sini perkataan An Nawawi)

Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan yang lain dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu'alaihi wa salam bersabda,
(ูˆَุงู„ْุฌِู‡َุงุฏُ ู…َุงุถٍ ู…ُู†ْุฐُ ุจَุนَุซَู†ِูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ุฅِู„َู‰ ุฃَู†ْ ูŠُู‚َุงุชِู„َ ุขุฎِุฑُ ุฃُู…َّุชِูŠْ ุงู„ุฏَّุฌَّุงู„َ ู„ุงَ ูŠُุจْุทِู„ُู‡ُ ุฌُูˆْุฑُ ุฌَุงุฆِุฑٍ ูˆَู„ุงَ ุนَุฏْู„ُ ุนَุงุฏِู„ٍ)
“Jihad akan tetap berjalan sejak Allah mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal, ia tidak akan dihentikan oleh kejahatan orang jahat ataupun keadilan orang adil.”

Menerangkan hadis ini, penulis kitab `Aunul Ma`bud (Syarah Sunan Abu Dawud) mengatakan, “Hadis yang berbunyi, “Jihad akan tetap berjalan sejak Allah mengutusku,” maksudnya sejak dimulainya era di mana aku (Rasulullah) diutus hingga umatku yang terakhir maksudnya adalah Nabi 'Isa atau bisa juga Imam Mahdi, memerangi Dajjal. Dajjal dalam konteks hadis di sini sebagai kata obyek. Setelah Dajjal terbunuh, selesailah sudah jihad. Mengenai peristiwa Ya'juj dan Ma'juj, jihad tidak dilakukan karena tidak mungkin bisa melawan mereka, dalam kondisi seperti ini jihad tidak wajib atas kaum muslimin berdasarkan nas ayat surat Al Anfal. Adapun setelah Allah binasakan Ya`juj dan Ma`juj, tidak ada lagi orang kafir di muka bumi selama Nabi 'Isa masih hidup di bumi. Adapun orang yang kembali kafir setelah kematian Nabi 'Isa 'alaihissalam, mereka tidak diperangi karena baru saja kaum muslimin seluruhnya diwafatkan dengan hembusan angin harum dan karena orang-orang kafir terus ada hingga hari kiamat. Inilah pendapat Al Qari. Al Mundziri tidak mengomentari hadis ini.”
(Selesai perkataan beliau)

Sebagai dalil akan terus berlangsungnya jihad, seperti tertera dalam Shahih Bukhari-Muslim serta kitab hadis lain, redaksinya milik Muslim, dari Jabir radhiallahu'anhu Nabi shallallahu'alaihi wa salam bersabda,
(ู„ุงَ ุชَุฒَุงู„ُ ุทَุงุฆِูَุฉٌ ู…ِู†ْ ุฃُู…َّุชِูŠْ ูŠُู‚َุงุชِู„ُูˆْู†َ ุนَู„َู‰ ุงْู„ุญَู‚ِّ ุธَุงู‡ِุฑِูŠْู†َ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ)
“Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang, hingga hari kiamat tiba.”

Dalam lafal Bukhari disebutkan,
(ู„ุงَ ูŠَุถُุฑُّู‡ُู…ْ ู…َู†ْ ุฎَุฐَู„َู‡ُู…ْ ูˆَู„ุงَ ู…َู†ْ ุฎَุงู„َูَู‡ُู…ْ)
“Tidak akan terpengaruh oleh orang yang melemahkan semangat dan menyelisihi mereka.”

Dalam lafal Imam Ahmad, “Mereka tidak mempedulikan orang yang menyelisihi dan melemahkan semangat mereka."

Sabda beliau, “Akan senantiasa ada...” menjadi dalil akan tetap berlangsungnya jihad meskipun konteks hadis ini sudah cukup untuk menetapkan bahwa jihad akan tetap berlangsung.

An Nawawi berkata dalam Syarah Shahih Muslim-nya, “Saya katakan: Kemungkinan, kelompok ini terpisah-pisah dalam sekian banyak jenis kaum muslimin, di antara mereka ada yang pemberani sebagai pelaku perang, ada juga yang ahli fikih, ahli hadis, orang-orang zuhud, orang yang ber-amar ma'ruf nahi munkar, ada juga pelaku kebaikan lain, tidak mesti mereka berkumpul menjadi satu, bisa saja mereka berpencar-pencar di berbagai belahan dunia. Hadis ini berisi sebuah mukjizat nyata karena ciri seperti ini al hamdulillah selalu ada dalam umat sejak zaman Nabi shallallahu'alaihi wa salam hingga sekarang dan akan selalu ada hingga tiba ketetapan Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis ini.”
(Selesai perkataan An Nawawi)

Dalil yang lain adalah sabda Nabi shallallahu'alaihi wa salam,
(ุฃُู…ِุฑْุชُ ุฃَู†ْ ุฃُู‚َุงุชِู„َ ุงู„ู†َّุงุณَ ุญَุชَّู‰ ูŠَุดْู‡َุฏُูˆْุง ุฃَู†ْ ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุฃَู†َّ ู…ُุญَู…َّุฏุงً ุฑَّุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَูŠُู‚ِูŠْู…ُูˆุง ุงู„ุตَّู„ุงَุฉَ ูˆَูŠُุคْุชُูˆุง ุงู„ุฒَّูƒَุงุฉَ ูَุฅِุฐَุง ูَุนَู„ُูˆْุง ุฐَุงู„ِูƒَ ุนَุตَู…ُูˆْุง ู…ِู†ِّูŠ ุฏِู…َุงุกَู‡ُู…ْ ูˆَุฃَู…ْูˆَุงู„َู‡ُู…ْ ุฅِู„ุงَّ ุจِุญَู‚ِّ ุงْู„ุฅِุณْู„ุงَู…ِ ูˆَุญِุณَุงุจُู‡ُู…ْ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„ู‡ِ )
“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang hak) selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mereka menegakkan salat dan menunaikan zakat, jika mereka lakukan itu, darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah.”

Dalam hadis ini, beliau menjadikan tujuan akhir peperangan adalah Islam, bermakna jika semua manusia sudah Islam, maka tidak lagi ada perang.  Di sisi lain, banyak sekali hadis yang menunjukkan bahwa tidak mungkin seluruh manusia akan menjadi Islam. Demikian juga ada hadis-hadis yang menunjukkan bahwa kekufuran akan ada hingga hari kiamat.  Jika demikian, berarti perang akan selalu ada bersamaan dengan adanya kekufuran sampai tiba ketetapan Allah Ta'ala.

Sedangkan maksud ketetapan Allah dalam hadis ini, ada yang mengatakan masuk Islamnya manusia di zaman Nabi 'Isa, ada juga yang berpendapat hari kiamat, ada yang mengatakan berhembusnya angin yang mencabut nyawa kaum mukminin, hanya saja makna yang ditunjukkan hadis ini sangat jelas menunjukkan bahwa perang akan selalu ada selama kekufuran ada.

Nas-nas lain yang menunjukkan bahwa jihad akan terus berlangsung hampir tak terhitung, para imam Islam pun sepakat dan tidak ada yang berbeda pendapat bahwa jihad akan terus berlangsung. Rasul shallallahu'alaihi wa salam sendiri mengabarkan hal ini sebagai sebuah berita yang tidak akan pernah berubah dan berganti.

Semua nas ini menjelaskan bahwa tidak akan pernah mungkin satu zaman berlalu sejak diutusnya Nabi shallallahu'alaihi wa salam hingga hari kiamat kosong dari panji jihad pembela kebenaran yang diangkat di jalan Allah Ta'ala, ini adalah pengabaran yang pemungkirnya bisa kufur kepada Allah Ta`ala.

Jika kita meyakini hakikat ini, kita jadikan ini sebagai bagian terpenting dalam hidup kita, dan kita asumsikan sebagai salah satu prinsip baku yang kita konsentrasikan kehidupan kita ke arahnya, maka tidak akan mungkin kita akan mau tertinggal dalam memberikan andil kepada panji jihad dan berdiri di bawahnya walau bagaimanapun susahnya kondisi. Karena panji jihad di zaman kapanpun selalu terkait dengan Tha'ifah Manshurah (kelompok yang ditolong, kelompok yang menang) yang diridai Allah.

Tha'ifah Manshurah sendiri menurut Imam Nawawi tidak mesti harus ada di satu tempat, bisa saja dalam satu zaman kelompok ini berada di berbagai tempat. Tha'ifah Manshurah ini berperang di atas kebenaran dan mereka menang, zaman kapan pun tidak akan pernah kosong dari Tha'ifah Manshurah yang berperang dan mengangkat panji jihad.

Jika kita meyakini akidah ini, kita bisa pastikan bahwa kekuatan kufur dunia dan negara-negara munafik yang turut membantu mereka sampai kapan pun tidak akan pernah mampu memadamkan panji jihad, tidak akan mampu menumpas para mujahidin atau menghapus syiar jihad ini. Mungkin mereka bisa mengisolasinya di satu atau dua tempat, tapi untuk merontokkannya di zaman sekarang, itu hal yang mustahil walaupun seluruh jin dan manusia berkumpul untuk melakukannya. Karena panji jihad ini diangkat atas ketetapan dan izin Allah Ta'ala serta tidak mungkin akan diletakkan karena Allah sendirilah yang menetapkan bagi diri-Nya sendiri untuk meninggikan panji ini sampai umat terakhir Muhammad shallallahu'alaihi wa salam memerangi Dajjal bersama 'Isa bin Maryam 'alaihissalam. Inilah hakikat yang mesti kita jadikan titik tolak  pertama, inilah keyakinan yang sudah semestinya kita memerangi musuh berdasarkan keyakinan ini. Akidah yakin dan percaya penuh dengan janji Allah Subhanahu wa Ta'ala bahwa jihad akan tetap berjalan hingga hari kiamat.

Keputusasaan kaum muslimin hari ini setelah peristiwa mundurnya mujahidin dari kota-kota di Afghanistan bukan menunjukkan  mujahidin putus asa dan berhenti berjihad, selamanya bukan. Mereka tetap yakin jihad ini akan terus berlangsung hingga hari kiamat, kondisi mayoritas kaum muslimin yang begitu mengenaskan juga tidak akan selamanya berarti bahwa kekuatan kufur internasional mampu merontokkan panji jihad di dunia. Sayang, kebanyakan kaum muslimin tidak memahami hakikat permusuhan antara kebenaran dan kebatilan, tidak membaca sejarah umat, sejarah para nabi, khususnya dalam Alquran.

Seluruh dunia menentang janji Allah bahwa jihad ini akan tetap berlangsung, sementara kami tetap percaya kepada Allah dan kami bersumpah bahwa kekuatan kufur dunia yang memerangi Allah Subhanahu wa Ta'ala akan kalah. Undang-undang baru internasional berdiri di atas pemahaman yang sudah ditentukan, slogannya sangat jelas; pemahaman itu adalah jihad adalah terorisme, semua mujahid adalah teroris, para teroris harus ditangkap, dan terorisme harus dibasmi; maknanya, para wali Allah itu harus ditangkap dan syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala harus dilenyapkan. Maka, hasil akhir peperangan seperti ini sudah bisa ditebak, dulu Allah sudah menceritakan itu dalam kitab-Nya, Rasulullah shallallahu'alaihi wa salam sudah menerangkannya dalam sunahnya. Rasulullah shallallahu'alaihi wa salam bersabda –sebagaimana riwayat Imam Bukhari, Ahmad, dan yang lain, dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu—,
(ู…َู†ْ ุนَุงุฏَู‰ ู„ِูŠْ ูˆَู„ِูŠًّุง ูَู‚َุฏْ ุขุฐَู†ْุชُู‡ُ ุจِุงู„ْุญَุฑْุจِ)
“Allah berfirman: Barangsiapa memusuhi wali-Ku, Aku maklumkan perang dengannya…” artinya, Ku maklumkan bahwa ia pasti hancur, perang Allah adalah melawan siapa saja yang memusuhi wali-Nya karena kesetiaan mereka kepada Allah, dan orang menganggap para wali itu sebagai musuh lantaran komitmen mereka di atas agamanya.

Dalam redaksi lain disebutkan, “Aadzantuhu bil harbi (aku umumkan perang kepadanya),” bentuknya nakirah, artinya perang itu mencakup semua makna hukuman. Dalam riwayat Ahmad, “Barang siapa menyakiti wali-Ku.” Hanya menyakiti saja sudah berarti perang.
Dalam riwayat lain, “Sungguh ia telah menghalalkan perang melawan-Ku.”

Hukuman ini tidak selalunya nampak seperti yang menimpa umat-umat lain, tapi bisa juga hukuman itu disegerakan, bisa juga ditunda, Allah-lah yang berhak menunda, tapi Allah tidak pernah mengabaikannya.

Adapun hasil akhir dari perang ini, Allah telah mengisahkannya dalam Alquran, kita ambil misalnya firman Allah Ta'ala,
{ุฅِู†َّุง ู„َู†َู†ْุตُุฑُ ุฑُุณُู„َู†َุง ูˆَุงู„َّุฐِูŠْู†َ ุขู…َู†ُูˆْุง ูِูŠ ุงู„ْุญَูŠَุงุฉِ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَูŠَูˆْู…َ ูŠَู‚ُูˆْู…ُ ุงْู„ุฃَุดْู‡َุงุฏُ}
“Sesungguhnya Kami pasti menolong (memenangkan) para rasul Kami dan orang-orang beriman di dunia dan di hari ketika saksi-saksi tegak.”[8]

Allah juga berfirman menegaskan bahwa musuh orang-orang beriman pasti kalah,
{ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ูƒَูَุฑُูˆْุง ูŠُู†ْูِู‚ُูˆْู†َ ุฃَู…ْูˆَุงู„َู‡ُู…ْ ู„ِูŠَุตُุฏُّูˆْุง ุนَู†ْ ุณَุจِูŠْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ูَุณَูŠُู†ْูِู‚ُูˆْู†َู‡َุง ุซُู…َّ ุชَูƒُูˆْู†ُ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ุญَุณْุฑَุฉً ุซُู…َّ ูŠُุบْู„َุจُูˆْู†َ ูˆَุงู„َّุฐِูŠْู†َ ูƒَูَุฑُูˆْุง ุฅِู„ู‰َ ุฌَู‡َู†َّู…َ ูŠُุญْุดَุฑُูˆْู†َ}
“Sesungguhnya orang-orang kafir menginfakkan harta mereka untuk memalingkan dari jalan Allah, maka mereka akan menginfakkannya kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan,dan orang-orang kafir itu akan dikumpulkan di neraka Jahannam.”[9]

Allah mengajak kita untuk mengambil pelajaran dari kejadian pada saat Perang Badar, pada Yaumul Furqan (hari pembedaan antara yang hak dan batil),
{ ู‚َุฏْ ูƒَุงู†َ ู„َูƒُู…ْ ุขูŠَุฉٌ ูِูŠْ ูِุฆَุชَูŠْู†ِِ ุงْู„ุชَู‚َุชَุง ูِุฆَุฉٌ ุชُู‚َุงุชِู„ُ ูِูŠ ุณَุจِูŠْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุฃُุฎْุฑَู‰ ูƒَุงูِุฑَุฉٌ ูŠَุฑَูˆْู†َู‡ُู…ْ ู…ِุซْู„َูŠْู‡ِู…ْ ุฑَุฃْูŠَ ุงู„ْุนَูŠْู†ِ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ูŠُุคَูŠِّุฏُ ุจِู†َุตْุฑِู‡ِ ู…َู†ْ ูŠَุดَุงุกُ ุฅِู†َّ ูِูŠْ ุฐَุงู„ِูƒَ ู„َุนِุจْุฑَุฉً ู„ِุฃُูˆู„ูŠِ ุงْู„ุฃَุจْุตَุงุฑِِ}
“Sungguh telah ada tanda-tanda kebesaran Allah bagi kalian pada dua kelompok yang bertemu dalam perang; satu kelompok berperang di jalan Alloh, sementara kelompok yang lain kufur, mereka melihat orang beriman dua kali lipat dari mereka jika dilihat mata. Dan Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki, sesungguhnya pada yang demikian terdapat pela-jaran bagi mereka yang berpandangan jeli.”[10]

Pertanyaan yang selalu mengusik hati dan menyusup ke hati orang-orang lemah adalah mengapa Allah tidak menolong Pemerintahan Islam Santri (Imarah Islam Thaliban) dalam perangnya melawan pasukan sekutu hingga hari ini? Padahal pemerintahan itulah yang mampu mengangkat syiar penerapan syariat Islam dan memegang teguh Alquran dan sunah, seluruh dunia bersatu menyerangnya sampai-sampai Santri (Thaliban) dipaksa mundur dari kota-kota yang mereka kuasai, mengapakah ini terjadi?

Kami katakan, Allah memiliki hikmah mengapa itu terjadi, hikmah pertama diterangkan dalam firman Allah Ta'ala,
{ุฐَุงู„ِูƒَ ูˆَู„َูˆْ ูŠَุดَุงุกُ ุงู„ู„ู‡ُ ู„ุงَู†ْุชَุตَุฑَ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ูˆَู„َูƒِู†ْ ู„ِّูŠَุจْู„ُูˆَ ุจَุนْุถَูƒُู…ْ ุจِุจَุนْุถٍ ูˆَุงู„َّุฐِูŠْู†َ ู‚ُุชِู„ُูˆْุง ูِูŠ ุณَุจِูŠْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ูَู„َู†ْ ูŠُุถِู„َّ ุฃَุนْู…َุงู„َู‡ُู…ْ}
“Yang demikian itu, kalau Allah berkehendak pasti akan menangkan mereka atas orang-orang kafir, akan tetapi untuk menguji sebagian atas sebagian yang lain, dan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, maka amalan mereka tidak akan pernah disia-siakan.”[11]

Bisa saja Allah memenangkan Santri (Thaliban) atas mereka (bahkan Allah sangat Mahakuasa) sendirian, bisa saja Allah mematikan dan meluluhlantakkan seluruh kekuatan mereka sekejap mata, akan tetapi Allah membiarkan orang-orang kafir itu menguasai kaum muslimin untuk memberikan ujian, artinya untuk menguji kaum muslimin dan mencoba kejujuran mereka meskipun orang-orang kafir berkuasa atas mereka, jika mereka sabar dan semakin berpegang teguh dengan agama mereka serta lari dan mengadukan perkaranya kepada Allah Ta'ala, maka Allah akan menolong mereka setelah melihat bahwa mereka memang layak memperoleh kemenangan, Allah akan mantapkan kekuasaan agama yang Dia ridai bagi mereka (Islam), tentunya setelah mereka memenuhi syarat-syarat tercapainya kekuasaan di muka bumi. Allah Ta'ala berfirman,
{ูˆَุนَุฏَ ุงู„ู„ู‡ُ ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ุขู…َู†ُูˆْุง ู…ِู†ْูƒُู…ْ ูˆَุนَู…ِู„ُูˆุง ุงู„ุตَّุงู„ِุญَุงุชِ ู„َูŠَุณْุชَุฎْู„ِูَู†َّู‡ُู…ْ ูِูŠ ุงْู„ุฃَุฑْุถِ ูƒَู…َุง ุงุณْุชَุฎْู„َูَ ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ِู‡ِู…ْ ูˆَู„َูŠُู…َูƒِّู†َู†َّ ู„َู‡ُู…ْ ุฏِูŠْู†َู‡ُู…ُ ุงู„َّุฐِูŠ ุงุฑْุชَุถَู‰ ู„َู‡ُู…ْ ูˆَู„َูŠُุจَุฏِّู„َู†َّู‡ُู…ْ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِ ุฎَูˆْูِู‡ِู…ْ ุฃَู…ْู†ุงً ูŠَุนْุจُุฏُูˆْู†َู†ِูŠْ ู„ุงَ ูŠُุดْุฑِูƒُูˆْู†َ ุจِูŠْ ุดَูŠْุฆุงً ูˆَู…َู†ْ ูƒَูَุฑَ ุจَุนْุฏَ ุฐَุงู„ِูƒَ ูَุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ู‡ُู…ُ ุงู„ْูَุงุณِู‚ُูˆْู†َ}
“Allah berjanji kepada orang-orang beriman dari kalian, pasti Ia kuasakan mereka di muka bumi sebagaimana orang-orang sebelum mereka dikuasakan, dan akan memantapkan posisi agama mereka yang Allah ridai bagi mereka dan akan menggantikan keadaan takut mereka dengan keamanan, mereka beribadah kepada-Ku dan tidak mensekutukan dengan apa pun terhadap-Ku, dan barang siapa kufur setelah itu, maka mereka adalah orang-orang fasik.”[12]

Dan berfirman,
{ู‚َุงู„َ ู…ُูˆْุณَู‰ ู„ِู‚َูˆْู…ِู‡ِ ุงุณْุชَุนِูŠْู†ُูˆْุง ุจِุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุงุตْุจِุฑُูˆْุง ุฅِู†َّ ุงْู„ุฃَุฑْุถَ ู„ِู„َّู‡ِ ูŠُูˆْุฑِุซُู‡َุง ู…َู†ْ ูŠَّุดَุงุกُ ู…ِู†ْ ุนِุจَุงุฏِู‡ِ ูˆَุงْู„ุนَุงู‚ِุจَุฉُ ู„ِู„ْู…ُุชَّู‚ِูŠْู†َ}
“Musa berkata kepada kaumnya, 'Minta tolonglah kalian kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah, Allah mewariskannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya, dan hasil akhir adalah milik orang-orang bertakwa.'”[13]

Dan berfirman,
{ูˆَู„َู‚َุฏْ ูƒَุชَุจْู†َุง ูِูŠ ุงู„ุฒَّุจُูˆْุฑِ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِ ุงู„ุฐِّูƒْุฑِ ุฃَู†َّ ุงْู„ุฃَุฑْุถَ ูŠَุฑِุซُู‡َุง ุนِุจَุงุฏِูŠَ ุงู„ุตَّุงู„ِุญُูˆْู†َ}
“Dan telah Kami tetapkan dalam Zabur bahwa bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang saleh.”[14]

Dan berfirman,
{ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ู‚َุงู„ُูˆْุง ุฑَุจُّู†َุง ุงู„ู„ู‡ُ ุซُู…َّ ุงุณْุชَู‚َุงู…ُูˆْุง ุชَุชَู†َุฒَّู„ُ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ُ ุงْู„ู…َู„ุงَุฆِูƒَุฉُ ุฃَู„ุงَّ ุชุฎََุงَูُูˆْุง ูˆَู„ุงَ ุชَุญْุฒَู†ُูˆْุง ูˆَุฃَุจْุดِุฑُูˆْุง ุจِุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ุงู„َّุชِูŠْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ุชُูˆْุนَุฏُูˆْู†َ، ู†َุญْู†ُ ุฃَูˆْู„ِูŠَุงุคُูƒُู…ْ ูِูŠ ุงู„ْุญَูŠَุงุฉِ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَูِูŠ ุงْู„ุขุฎِุฑَุฉِ ูˆَู„َูƒُู…ْ ูِูŠْู‡َุง ู…َุง ุชَุดْุชَู‡ِูŠْ ุฃَู†ْูُุณُูƒُู…ْ ูˆَู„َูƒُู…ْ ูِูŠْู‡َุง ู…َุง ุชَุฏَّุนُูˆْู†َ}
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan tuhan kami adalah Allah kemudian mereka istikamah, malaikat turun kepada mereka: Janganlah kalian takut dan sedih dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian. Kami adalah pelindung kalian di kehidupan dunia dan akhirat, di sana kalian mendapatkan apa saja yang kalian inginkan dan di sana terdapat apa yang kalian minta.”[15]

Jadi, syarat dimantapkannya posisi (tamkin) di muka bumi harus terpenuhi dahulu dalam diri kaum mukminin sebelum kemantapan posisi itu tercapai. Sebagian syarat itu telah Allah sebutkan dalam ayat-ayat tadi, di antaranya adalah iman dan amal saleh, mengikuti manhaj Nabi shallallahu'alaihi wa salam dan para sahabat beliau yang dahulu telah berkuasa di muka bumi, meyakini ajaran agama yang benar (Islam), tidak menyekutukan Allah, meminta tolong hanya kepada Allah, sabar di atas jalan jihad dan perang melawan musuh, bertakwa kepada Allah dalam kondisi sendirian atau dilihat orang, kesalehan secara menyeluruh di semua lapisan, karakter seorang mujahid hendaknya senantiasa menyatakan tuhanku adalah Allah sekaligus mengamalkan konsekuensi pernyataan tersebut, ia harus konsisten (istikamah) di atas ajaran agamanya. Inilah syarat-syarat yang apabila seorang hamba bersungguh-sungguh merealisasikannya, ia akan menjadi orang yang berhak diberi kemenangan oleh Allah dan Allah akan kuasakan dia di muka bumi.

Kalau kita mau meneliti hikmah mengapa Allah menunda kemenangan dan mendatangkan kekalahan secara kasat mata kepada kaum muslimin di medan pertempuran, mau tidak mau kita harus menilainya dengan adil. Hanya, kita akan sendirikan pembahasannya setelah ini dengan izin Allah, cukup kita isyaratkan di sini secara sepintas mengingat pemahaman seperti ini tidak boleh hilang dari benak setiap muslim yang hidup hari ini di mana ia selalu mengikuti perkembangan dari medan pertempu-ran di Afghanistan dengan segala suasana dan eksistensinya, peperangan antara kekuatan kufur internasional seluruhnya melawan mujahidin Afghan.

Kita mohon kepada Allah agar memuliakan mujahidin dan menolong mereka serta menjadikan mereka berkuasa. Semoga Allah memecah belah dan menceraiberaikan orang-orang kafir, menghinakan, dan menjadikan mereka sebagai ganimah bagi kaum muslimin.

Catatan kaki:

[1] QS. Al Baqarah: 216

[2] QS. At Taubah: 73

[3] QS. At Taubah: 29

[4] QS. At Taubah: 5

[5] QS. Al Ma'idah: 54

[6] QS. Al Anfal: 39

[7] QS. At Taubah: 5

[8] QS. Ghafir: 51

[9] QS. Al Anfal: 36

[10] QS. Ali 'Imran: 13

[11] QS. Muhammad: 4

[12] QS. An Nur: 55

[13] QS. Al A'raf: 128

[14] QS. Al Anbiya': 105

[15] QS. Fushillat: 30-31

Sumber: Syaikh Yusuf bin Sholih Al-'Uyairi, Menang Kalah Dalam Perjuangan, (Maktab Roshooshul Jihaad, Diterjemahkan oleh Muhammad Er Pi Gi), hlm. 3-19, dengan perubahan.

Penulis: Yusuf Ibn Shalih Al 'Uyyairi
Penerjemah: Muhammad Er Pi Gi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umar
  1. Beranda
  2. /
  3. Hadis
  4. /
  5. Jihad akan Terus Berlangsung hingga Hari Kiamat