data:post.title

Kondisi Militer Daulah Nabawiyyah

Kondisi Militer Daulah Nabawiyyah

Kondisi Militer Daulah Nabawiyyah

Oleh Syaikh Abu Hamzah al-Muhajir

Dalam bidang persiapan militer, bagaimana keadaan pasukan di bawah komando Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam? Apakah juga mengalami kesusahan yang sama ataukah untuk kepentingan militer ada kelebihan dibanding kehidupan sipil?

Dalam Shahih Bukhari-Muslim, dari Jabir bin 'Abdillah radhiallahu'anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus pasukan ke pantai dan menunjuk sebagai amirnya adalah Abu 'Ubaidah Ibnul Jarrah. Mereka berjumlah 300 orang dan saya termasuk di dalamnya. Kami pun berangkat. Sampai ketika sampai separuh perjalanan, kami kehabisan bekal. Lalu Abu 'Ubaidah memerintahkan mengumpulkan semua bekal-bekal yang masih tersisa. Beliau memberi kami bekal kurma. Ia memberi makan kami dengannya sedikit demi sedikit sampai habis. Sampai kami tidak makan, kecuali sebutir kurma. Saya katakan: Apa gunanya sebutir kurma? Ia menjawab: Kami merasakan kehilangan kurma ketika habis ludes.” Dalam riwayat lain, “Kami berangkat dengan jumlah pasukan 300 orang memikul perbekalan kami di pundak kami.” Dalam riwayat Muslim, “Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam membekali kami satu geriba kurma. Beliau tidak menemukan bekal untuk kami selain itu. Abu 'Ubaidah memberi kami sebutir-sebutir.” Jabir, “Saya berkata: Apa yang kalian bisa perbuat dengan hanya sebutir kurma?” Abu 'Ubaidah, “Kami menyedotnya sebagaimana bayi menyedot. Kemudian kami minum air. Itu bisa mencukupi kami sehari semalam. Kami menjatuhkan dedaunan dengan memukulkan tongkat kami ke pohon kemudian kami basahi dengan air terus kami memakannya.” Dalam riwayat Bukhari, “Kami ditimpa kelaparan yang parah sampai kami memakan dedaunan, makanya pasukan itu diberi nama Pasukan Dedaunan (Jaisy Al Khabath).”

Hadis ini mengandung faedah yang banyak, namun yang memungkinkan saya sebutkan pada kesempatan ini ada 3:

Pertama, perkataan Jabir radhiallahu'anhuma, “Beliau membekali kami satu geriba kurma. Beliau tidak menemukan bekal untuk kami selain itu.” Dan perkataannya, “Kami memikul perbekalan kami di pundak kami lalu bekal kami habis.” Lihatlah ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, manusia paling penyayang terhadap sesama dan paling antusias untuk memberikan manfaat dan menghindarkan gangguan dari mereka; paling paham dunia perang; beliau mengirim pasukan dalam cuaca padang pasir yang panas dan berat. Para sahabat memikul perbekalan di pundak-pundak mereka. Mereka tidak membawa makanan yang bisa menyampaikannya ke tujuan mereka. Mereka akan memerangi musuh yang siap perang. Tidak diragukan lagi bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sudah tahu berapa lama perang akan berlangsung, susahnya perjalanan dan bekal yang dibutuhkan dan mencukupi seorang tentara baik. Pengetahuan itu baik berasal dari ilmu beliau sendiri atau dengan bertanya kepada pakarnya dari kalangan para sahabat, terutama dari amir pasukan. Kita mengetahui hal itu dari perkataan Jabir radhiallahu'anhuma, “Beliau membekali kami satu geriba kurma. Beliau tidak menemukan bekal untuk kami selain itu.”

Pertanyaannya: Apakah boleh sebuah pasukan dikirim padahal keadaannya seperti itu? Apakah Anda mencela keadaan semacam ini sebagaimana mencela negara Islam dan kekuatan militernya?

Kami katakan, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah berupaya dengan optimal melakukan sebab dan bekerja keras dalam mencapai tujuan. Kemudian baru bertawakal kepada Allah, Zat yang di tangan-Nya perbendaharaan langit dan bumi. Barang siapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Ketidaksempurnaan dalam melakukan sebab bukan uzur dan penghalang dari memburu musuh. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung yang pergi di waktu pagi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.”

Dan dalam hadis di atas terkandung semangat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk berjihad di jalan Allah dan memburu musuh terutama di waktu-waktu lemah dan perbuatan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bukan termasuk menyia-nyiakan tentara —mustahil itu-, juga bukan termasuk menjatuhkan diri dalam kebinasaan sebagaimana klaim sebagian mereka sekarang ini, bahwa setiap kali berangkat untuk suatu operasi yang sebab-sebabnya belum sempurna dan beres ia langsung mengklaim bahwa operasi itu adalah suatu kebinasaan.

Dalam perbuatan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam terkandung faedah rabbaniyyah nabawiyyah yang agung dan bernilai besar, yang itu pengaruhnya dan urgensinya dapat diketahui oleh siapa saja yang mempraktikkan jihad sebagai sebuah ibadah, yakni bahwa segala urusan tidak akan berjalan, kecuali dengan mengoptimalkan usaha dalam mencari sebabnya. Jika seorang mujahid meninggalkan sebab atau teledor dalam melakukannya, maka nasib dan bagiannya adalah kegagalan dan lewatnya sesuatu yang dicari. Barang siapa yang bersungguh-sungguh dalam mencari sebab dan tidak menyia-nyiakan kesempatan kemudian bertawakal kepada Allah, maka hasilnya adalah kebahagiaan di dunia dan akhirat.

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
[QS. Al Ma'idah (5): 23]

Allah Ta’ala berfirman,
وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ
“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu.”
[QS. Maryam (19): 25]

Seandainya Maryam diam saja, apa yang bisa diperbuat wanita lemah terhadap pohon kurma itu? Maka pohon kurma itu tidak akan menjatuhkan buah kurma yang matang kepadanya.

Demikian juga seandainya para sahabat atau salah seorang mereka tidak mau memakan buah kurma, apa yang mungkin bisa kamu lakukan? Ia tidak akan bertahan hidup, mati di tengah perjalanan.

Al Muhallab rahimahullah berkata, “Kurma ini memberikan manfaat kepada mereka berkat berkah Nabi dan berkat berkah jihad bersama beliau. Allah memberkahi kurma mereka untuk mengatasi kelaparan supaya tidak menjadi sesuatu yang di luar kebiasaan dan tidak keluar dari hal yang normal sesuai dengan hikmah kebijaksanaan-Nya. Meskipun Allah Mahakuasa untuk menciptakan makanan untuk mereka dan kuasa menjadikan batu menjadi roti.”

Dalam hadis itu terkandung bagaimana kualitas mendengar dan ketaatan para sahabat baik dalam keadaan susah dan mudah, selalu berbaik sangka, dan zuhud dengan perhiasan dunia. Maka mereka berangkat dengan memikul perbekalannya di pundak mereka. Juga, ketinggian kesabaran dan kerasnya kehidupan yang sudah menjadi kebiasaan mereka sebagai anugerah dari Allah kepada mereka sehingga menjadikan mereka bisa melalui berbagai ujian dan musibah serta fitnah bencana dengan sabar.

Hadis itu menceritakan kepada kita bagaimana antusiasme para sahabat radhiallahu 'anhum terhadap jihad di jalan Allah dan memburu harta benda milik orang-orang kafir di mana pun berada. Walaupun mereka teledor dari sebab itu, berbagai bahaya mengepung mereka dan ketakutan serta kelaparan membayangi mereka.

Bisa jadi ada yang mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam belum tahu bahwa nasib pasukannya akan berakhir dengan hasil seperti ini! Saya katakan: Para ulama berbeda pendapat berkaitan dengan perang ini. Ada yang menyebutkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam ada bersama mereka, namun yang pendapat rajih (paling kuat) bahwa beliau mengirim mereka dan seperti yang terjadi di Perang Khabth juga terjadi pada Perang Dzatur Riqa, bahkan lebih dahsyat, bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Abu Musa radhiallahu 'anhu mengatakan, “Kami berangkat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu pasukan. Jumlah kami ada 6 orang. Kami mengendarai seekor unta secara bergantian. Telapak-telapak kaki kami banyak yang berlubang, termasuk kedua telapak kakiku. Kuku-kukuku sampai tanggal. Kami membalut kaki kami dengan kain. Lalu perang itu diberi nama Perang Dzatur Riqa karena pada perang itu kami sampai membalut kaki-kaki kami dengan kain.”

Sesuatu yang sangat penting dalam faedah ini adalah bahwa apa yang menimpa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat berupa kelaparan dan anggota badan terluka itu terjadi pada jihad ofensif karena mereka berangkat memburu harta orang-orang kafir, maka bagaimana dengan jihad defensif, wahai para hamba Allah? Mempertahankan agama, nyawa, dan kehormatan. Para ulama telah menyebutkan, bahwa untuk jihad defensif ini tidak disyaratkan syarat apapun. Sebagaimana tidak bermanfaat uzur-uzur yang lemah atau berbagai argumen dusta. Hanya Allah-lah yang memberikan petunjuk kepada semuanya kepada apa yang Ia cintai dan ridai.

Kedua, perkataan Jabir radhiallahu'anhu, “Lalu Abu 'Ubaidah memerintahkan mengumpulkan semua bekal-bekal yang masih tersisa. Beliau memberi kami bekal kurma.” Maksudnya bahwa amir pasukan, Abu 'Ubaidah radhiallahu 'anhu mengumpulkan perbekalan khusus para sahabat dan membaginya dengan rata. Padahal sebagian sahabat boleh mendapatkan lebih banyak dari sebagian yang lain. Kebutuhannya terhadap bekal itu sangat mendesak dan berpegang teguh dengan hartanya bisa jadi menjadi sebab keselamatannya.

Ibnu Baththal menukilkan perkataan Al Muhallab rahimahullah, "Sultan (penguasa) berhak memerintahkan rakyatnya untuk membantu orang lain dan memaksa untuk melakukannya. Membagi rata perbekalan mereka agar mereka bisa bertahan hidup. Dalam hadis itu terkandung faedah bahwa imam (pemimpin) berhak membantu rakyatnya dalam masalah makanan pokok ketika mukim (tidak safar) baik dengan membayar harganya atau tanpa membayar harganya, sebagaimana ia juga berwenang melakukannya di waktu safar (bepergian).”
(Selesai perkataan Al Muhallab rahimahullah)

Perbuatan Abu 'Ubaidah ini karena mengikuti perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Salamah radhiallahu 'anha mengatakan, “Perbekalan pasukan semakin berkurang dan mereka sangat kekurangan. Mereka mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menyembelih unta mereka. Beliau pun mengizinkan mereka untuk menyembelihnya.” Dalam hadis itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Serukan kepada orang-orang untuk membawa kelebihan perbekalan mereka.” Selembar kulit dihamparkan sebagai tempat menampungnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri, berdoa, dan memohon kepada Allah agar perbekalan tersebut diberi keberkahan.

Suwa'id bin An Nu'man berangkat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada Perang Khaibar sampai ketika rombongan telah tiba di Ash Shuhba, tempat dekat Khaibar, beliau salat Ashar. Kemudian beliau memerintahkan untuk mengumpulkan perbekalan. Namun yang terkumpul hanya tepung gandum. Lalu tepung itu diberi air.
(Hadis)

Dalam hadis-hadis yang terdahulu menjadi penegas mengenai kondisi pasukan Nabi dan minimnya pendanaannya. Mereka lebih menyukai bagi pemimpin untuk berbuat baik kepada orang-orang meski hanya dengan kata-kata yang baik sampai mereka memberikan semua milik mereka dengan penuh kerelaan hati dalam waktu-waktu terjepit atau menjanjikan harganya di waktu longgar. Kalau tidak seperti itu, maka ia berhak untuk mengganti milik mereka jika memang sangat mendesak sebagaimana perkataan Al Muhallab rahimahullah terdahulu. Terutama bahwa hadis Jabir dan dua hadis sebelumnya hanya mencantumkan perintah untuk berbuat dan perkataannya tidak mengandung pengaruh sedikit pun mengenai harga. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memuji perbuatan ini baik pada waktu mukim maupun bepergian. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam Shahih Bukhari dan Muslim, “Apabila orang-orang Asy‘ariyyin kehabisan makanan pada waktu perang atau makanan keluarga mereka di Madinah mulai berkurang, mereka mengumpulkan semua milik mereka dalam satu kain. Kemudian mereka membagi-bagikannya dalam satu wadah dengan ukuran yang sama. Mereka adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari mereka.”

Dari keterangan di atas nampak jelas kejahatan orang yang berjiwa rendah dan bertabiat buruk. Ia sengaja mengambil harta Allah, padahal ia masih punya kelebihan perbekalan pada saat saudara-saudara dan keluarganya sangat membutuhkan, terutama keluarga para tawanan dan syuhada. Ia tidak mendermakan kelebihan hartanya dan membagikannya kepada saudara-saudaranya yang membutuhkan. Juga tidak meninggalkan apa pun bagi mereka untuk hanya sekadar bertahan hidup. Malah justru menggunakan berbagai tipu muslihat demi mendapatkan harta yang sangat dibutuhkan saudara-saudaranya tersebut. Semua itu karena pengaruh lemahnya keyakinan dan ia ingin meninggalkan rezeki untuk keluarganya sepeninggalnya agar mereka tidak mengalami tragedi sebagaimana yang ia temui pada selain mereka. Celakalah jiwa yang rendah!

Ibnu 'Umar radhiallahu 'anhuma berkata, "Suatu kali saya keluar bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Sampai ketika tiba di beberapa tembok kaum ansar, beliau memunguti kurma dan memakannya. Beliau berkata kepadaku, “Wahai Ibnu 'Umar, kenapa kamu tidak ikut makan?” Saya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, saya tidak berminat makan.” Beliau, “Tapi saya berminat memakannya. Pagi ini adalah hari yang keempat saya tidak menemukan dan makan makanan apa pun. Seandainya saya mau saya tentu sudah  berdoa kepada Rabbku sehingga Dia akan memberiku semisal apa yang diberikan kepada Raja Kisra dan Qaishar. Bagaimana denganmu jika kamu menetap di suatu kaum yang mereka menyembunyikan rezeki mereka selama setahun dan keyakinan mereka lemah.””

Ketiga, mengenai sebab terjadinya perang —meskipun pembahasan ini saya sengaja akhirkan-, yaitu perkataan Jabir radhiallahu'anhu, “Kita akan mengejar kafilah dagang (al ir) Quraisy —al ir adalah rombongan unta yang membawa makanan dan lainnya-, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Saya diberi lima hal di mana orang-orang sebelumku tidak pernah diberi semacam itu: saya ditolong dengan ketakutan (yang dihembuskan kepada musuhku) sejarak perjalanan satu bulan; bumi dijadikan sebagai masjid dan alat bersuci; di mana pun umatku menjumpai waktu salat, maka shalatlah; dan harta ganimah dihalalkan untukku, namun tidak dihalalkan kepada seorang pun sebelumku.”” As Sa'di rahimahullah berkata, “Hal itu disebabkan karena kemuliaan beliau di mata Rabbnya dan karena kemuliaan umatnya, keutamaan dan kesempurnaan keikhlasan mereka, maka Allah menghalalkan harta ganimah untuk mereka dan tidak mengurangi pahala jihad mereka sedikit pun.”

Siapa saja yang mencermati peperangan dan pertempuran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebelum Perang Badar akan terheran-heran bahwa semua peperangan dan pertempuran sebelum Perang Badar dalam rangka mengejar kafilah dagang. Harta ganimah berasal dari harta orang-orang kafir. Ia merupakan pendapatan termulia dan paling baik secara mutlak. Allah menjadikannya sebagai sumber makanan pokok Nabi kita dan keluarganya. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Saya diutus menjelang hari kiamat dengan pedang sampai hanya Allah semata yang disembah, tiada sekutu bagi-Nya. Rezekiku terdapat di bawah bayangan tombakku. Orang yang menyelisihi perintahku akan ditimpa kehinaan dan kerendahan.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dan Imam Bukhari rahimahullah menyebutkannya sebagai penguat.

Allah mengharamkan harta sedekah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena ia adalah makanan orang-orang lemah dan miskin. Ia ibarat kotoran manusia. Kedudukan beliau sebagai Nabi mengharuskan sumber pendapatan dan makanan pokok keluarganya berasal dari profesi orang-orang yang punya tekad kuat dan orang-orang kuat, para penyandang pedang dan senjata, berupa harta fai dan ganimah

Allah Ta'ala berfirman,
مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ
“Apa saja harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kotaz maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan.”
[QS. Al Hasyr (59): 7]

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bukan seorang petani, tukang besi, dan bukan pula tukang kayu, namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang mujahid di jalan Allah. Beliau makan dari hasil pedangnya. Beliau bersabda, “Rezekiku dijadikan di bawah bayangan tombakku.” Dalam Fathul Bari, Al Hafizh berkata, “Hadis ini menunjukkan keutamaan tombak, halalnya harta ganimah bagi umat ini, dan rezeki Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ada dalam ganimah, bukan pada mata pencaharian selainnya. Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan, harta ganimah adalah rezeki yang paling utama.”

Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Sebab-sebab yang tempat mencari rezeki ada 6 macam: yang paling tinggi nilainya adalah profesi Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam; beliau bersabda, “Rezekiku terdapat di bawah bayangan tombakku. Orang yang menyelisihi perintahku akan ditimpa kehinaan dan kerendahan.” Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan ia menyahihkannya. Allah menjadikan rezeki Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam ada dalam profesi beliau karena keutamaannya dan menjadikan profesi tersebut sebagai profesi paling utama.”

Allah Tabaraka wa Ta'ala menganjurkan para hamba-Nya kaum mukminin mujahidin untuk mencari rezeki dari harta ganimah karena ia rezeki yang paling halal. Allah Ta'ala berfirman,
فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلاَلاً طَيِّباً وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu sebagai makanan yang halal lagi baik dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
[QS. Al Anfal (8): 69]

وَعَدَكُمُ اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا
“Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil.”
[QS. Al Fath (48): 20]

وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيراً
“Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah, dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak, dan adalah Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu.”
[QS. Al Ahzab (33): 27]

Karena itu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam berangkat sendiri mengejar rombongan dagang —yakni untuk mendapatkan ganimah-. Ikut bersama beliau para sahabat senior baik yang kaya maupun yang miskin. Tidak ada yang lebih jelas menunjukkan agungnya pekerjaan ini —yakni memburu harta orang-orang kafir- selain ketika Allah menjadikan para sahabat yang ikut Perang Badar sebagai orang Islam yang palin banyak pahalanya. Pada asalnya mereka pergi untuk memburu kafilah dagang orang-orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman,
وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ
“Sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu.”
[QS. Al-Anfal (8): 7]

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda berkaitan dengan kafilah dagang Abu Sufyan, sebagaimana tercantum dalam Shahih Muslim, “Sesungguhnya kita punya buruan. Barang siapa yang punya hewan tunggangan, maka naikilah dan ikutlah bersama kami.” Ka'ab bin Malik radhiallahu 'anhu berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mencela satu pun sahabat yang absen dari Perang Badar karena pada asalnya perang itu hanya mau mengincar kafilah dagang Quraisy. Quraisy pun berangkat meminta pertolongan bagi kafilah dagang mereka. Mereka bertemu bukan pada waktu yang diprediksikan, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla. Demi Allah, sesungguhnya perang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam paling mulia menurut manusia adalah Perang Badar.”

Apakah setelah itu seorang mujahid yang bertauhid akan mengatakan bahwa ia tidak ingin terbunuh di saat berusaha mendapatkan harta ganimah, setelah tahu bahwa nabinya dan para sahabat senior, dahulu, juga menginginkan itu, dan orang-orang munafik sangat antusias untuk mendapatkan harta ganimah tanpa melalui perang?

Allah Ta’ala berfirman,
سَيَقُولُ الْمُخَلَّفُونَ إِذَا انطَلَقْتُمْ إِلَى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوهَا ذَرُونَا نَتَّبِعْكُمْ
“Orang-orang badui yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan, "Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu."”
[QS. Al Fath (48): 15]

As Sa'di rahimahullah berkata, “Ketika menyebutkan orang-orang yang absen perang dan mencela mereka, Allah Ta'ala menyebutkan bahwa sanksi di dunia buat mereka adalah ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat bertolak untuk mendapatkan harta ganimah tanpa melalui perang mereka meminta kepada beliau untuk ikut. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Allah menjamin bagi siapa saja yang berjihad di jalan Allah di mana ia tidak berangkat, kecuali memang hanya untuk berjihad di jalan-Nya dan membenarkan kalimat (hukum)-Nya, Dia menjamin akan memasukannya ke surga atau memulangkannya ke tempat tinggalnya dengan mendapat pahala atau harta ganimah.””[1]

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kebaikan (pahala jihad dan harta ganimah) terikat di ubun-ubun kuda sampai hari kiamat.” Pahala dan ganimah sebagai badal (pengganti) kebaikan yang maksudnya adalah pahala jihad di akhirat dan harta ghanimah di dunia. Wahai mujahid, bersegeralah menuju pekerjaan terbaik (berjihad).

Al Khaththabi rahimahullah berkata, “Harta yang didapat dengan kuda —maksudnya dengan berjihad- termasuk harta yang terbaik dan terbagus.” Al Kirmani berkata, "Makna hadis ini adalah bahwa seorang mujahid kemungkinan pertama ia akan mati syahid, kemungkinan kedua ia akan mendapatkan pahala atau ganimah, dan kemungkinan ketiga bisa mendapatkan dua-duanya."

Faedah penting lainnya dari sisi militer, perlu engkau ketahui, bahwa pasukan mulai berangkat memburu harta orang-orang musyrik dan memotong jalur-jalur bantuannya. Hal itu bertujuan melemahkan kekuatan mereka dan mengepung pangkalan militer mereka.

Tidak mungkin bagi kekuatan mana pun bisa mengamankan semua keperluan pasukannya melaui udara, meskipun Amerika memiliki armada udara yang besar dan memiliki pesawat-pesawat raksasa. Hanya saja mereka masih bersandar kepada jalur-jalur darat 70% yang ia perlukan.

Allah Ta'ala telah memerintahkan kita mengepung pangkalan-pangkalan orang-orang kafir dan mendorong kita untuk memasang ranjau-ranjau sebagai cara terbaik untuk memutus jalur-jalur bantuan untuk mereka. Dia berfirman,
وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ
“Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian.”
[QS. At Taubah (9): 5]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Janganlah kalian puas dengan sekadar menjumpai mereka, tetapi burulah mereka dengan mengepung benteng-benteng pertahanan mereka dan intailah di jalan-jalan dan gang-gang mereka sampai mereka merasakan dunia yang luas ini terasa sempit.”

Allah Ta'ala berfirman,
وَلا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ
“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu).”
[QS. An Nisa' (4): 104]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Janganlah kalian merasa lemah dalam mengejar musuh kalian, tapi seriuslah dan sungguh-sungguhlah dalam mengejar mereka dan perangilah mereka serta intailah ditempat pengintaian.”

Wahai para mujahidin yang bertauhid, jadikanlah Abu Bashir sebagai suri teladan yang baik bagi kalian. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengembalikannya kepada orang-orang musyrik demi menepati perjanjian yang sudah disepakati antara beliau dengan orang-orang musyrik.

Meskipun demikian kekuatannya tidak melemah dan juga tidak putus asa atas kepemimpinan beliau. Bahkan ia berpikir bagaimana agar ia bisa keluar dari fitnah perjanjian itu. Ia tidak menunggu-nunggu sampai kesempatan itu hilang meskipun perjalanan yang panjang menghadang dan perbekalan yang serba terbatas. Ia membuat tipu daya hingga bisa membunuh salah seorang yang membawanya dengan gembira. Ia datang untuk kedua kalinya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Beliau memandangnya seraya bersabda, “Ia akan menyulut peperangan seandainya ada orang lain bergabung bersamanya atau ada beberapa orang bergabung bersamanya.” Beliau memuji dan menyifatinya sebagai pemberani dalam perang dan ia termasuk tokohnya.

Sebagaimana perkataan Al Khaththabi rahimahullah, “Ia memberikan kesempatan kepada orang-orang mustadh'afin (tertindas) yang punya tekad kuat semacamnya untuk bergabung bersamanya. Ia pun pergi sendirian sebagai buronan dan orang yang terusir. Tidak punya teman dan tanah untuk menampung cita-cita orang-orang yang dengan mereka negara bisa tegak. Ia mulai membangun pangkalan militer jauh dari Madinah, di dekat pantai. Jumlah pasukannya bertambah sangat cepat.”

Dalam Shahih Bukhari disebutkan, Abu Jandal mengikuti jejak Abu Bashir sehingga ia bergabung dengannya. Setelah itu, setiap ada orang yang lari dari Quraisy pasti ia langsung bergabung dengan Abu Bashir sampai terkumpul sebuah kelompok. Demi Allah, setiap mereka mendengar rombongan dagang Quraisy lewat menuju Syam mereka selalu menghadangnya, membunuh mereka, dan mengambil harta dagangan mereka. Quraisy mengirim utusan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meminta atas nama Allah dan hubungan kekerabatan. Utusan itu mengatakan, “Siapa saja yang mendatangi beliau, maka ia dijamin aman.” Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun mengirim utusan kepada mereka. Lalu Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,
وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا (24) هُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْهَدْيَ مَعْكُوفًا أَنْ يَبْلُغَ مَحِلَّهُ وَلَوْلَا رِجَالٌ مُؤْمِنُونَ وَنِسَاءٌ مُؤْمِنَاتٌ لَمْ تَعْلَمُوهُمْ أَنْ تَطَئُوهُمْ فَتُصِيبَكُمْ مِنْهُمْ مَعَرَّةٌ بِغَيْرِ عِلْمٍ لِيُدْخِلَ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ لَوْ تَزَيَّلُوا لَعَذَّبْنَا الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (25) إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ
“Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah Kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi hewan korban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukmin yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang yang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih. Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan, (yaitu) kesombongan jahiliah.”
[QS. Al Fath (48): 24-26]

Perhatikanlah, bagaimana sekelompok orang-orang yang punya tekad kuat dan cita-cita tinggi bisa menghancurkan kesombongan Quraisy. Sekelompok orang tersebut bisa membuat Quraisy mencari wasilah dalam mengembalikan syarat yang dikira olehnya dan oleh kaum muslimin sebagai bentuk kehinaan dan kenistaan dalam agama. Cukup bagi engkau mengetahui akhir sang Singa Pantai, kisahnya yang membuat bahagia sekaligus menangis.

Dalam Fathul Bari, Al Hafizh mengatakan, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menulis kepada Abu Bashir. Ketika surat beliau sampai, Abu Bashir waktu itu meninggal dunia. Ketika meninggal, surat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ada di tangannya. Ia dikubur oleh Abu Jandal yang kemudian menggantikan posisinya.”

Faedah penting lainnya, terutama bagi kita di negara Islam yang baru tumbuh berkembang, hendaknya engkau ketahui, wahai mujahid, bahwa ia adalah sumber pendanaan pasukan yang paling penting. Negara Islam mana pun yang baru tumbuh sepenjang sejarah pasti mayoritas perbendaharaan harta yang dimiliki berasal dari ganimah dan fai. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Harta negara yang asalnya ada dalam Kitab dan sunah ada tiga jenis: ganimah, sedekah, (zakat) dan fai."

Wahai wali Allah, berharaplah pahala kepada Allah. Jadikan selalu dalam benakmu bahwa engkau akan mendapat ganimah dari orang-orang kafir dan murtad untuk memberi makan para tawanan dan syuhada. Ganimah untuk mendanai mujahid lain yang tidak bisa mendapatkan ganimah. Ganimah untuk membeli senjata untuk berperang di jalan Allah. Jangan sekali-sekali engkau pergi berjihad semata-mata untuk mendapatkan ganimah. Ikhlaskanlah niat dan jagalah keikhlasan niat.

Catatan kaki:

[1] Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqalani berkata, "Yaitu hanya mendapat pahala jika tidak mendapatkan ganimah sama sekali atau mendapat ganimah serta pahala. Seakan-akan ia tidak berkomentar tentang pahala kedua yang didapat bersama ganimah karena pahalanya berkurang ketika bersamaan mendapatkan ganimah, hal ini bila dibandingkan dengan pahala yang didapat tanpa ganimah. Penakwilan (penafsiran) ini disebabkan karena teks hadis menyebutkan apabila seorang mujahid sudah mendapatkan ganimah, maka ia tidak mendapat pahala. Padahal maksudnya bukan seperti itu, tetapi maksudnya adalah pahala mujahid yang mendapat ganimah lebih sedikit dibanding pahala mujahid yang tidak mendapat ghanimah. Karena konsekuensi dari kaidah yang berlaku adalah ketika seorang mujahid tidak mendapatkan ganimah, maka pahalanya lebih utama dan sempurna dibandingkan ketika ia mendapatkan ganimah. Karena hadis tersebut jelas menunjukkan nafyul hirman (seorang mujahid pasti mendapat pahala), bukan nafyul jam'  (seorang mujahid tidak akan mendapat pahala dan ganimah)."

Sumber: Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir, Daulah Nabawiyah (Negara Nabi), (1429 H: Muassasah Al-Furqon Lil Intaj Al-Ilamiy, Diterjemahkan oleh Abu Ahmad), hlm. 22-32, dengan perubahan.

Penulis: Abu Ayyub Al Mishri
Penerjemah: Abu Ahmad
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari
  1. Beranda
  2. /
  3. Sejarah
  4. /
  5. Kondisi Militer Daulah Nabawiyyah