data:post.title

Kondisi Perekonomian Daulah Nabawiyyah

Kondisi Perekonomian Daulah Nabawiyyah

Kondisi Perekonomian Daulah Nabawiyyah

Oleh Syaikh Abu Hamzah al-Muhajir

Di awal perkembangannya, daulah nabawiyyah tumbuh dalam keadaan fakir yang mematikan.[1] Kefakiran itu tidak pandang bulu, menimpa siapa saja baik anak kecil maupun orang tua. Dalam Shahih Bukhari, dari Ayyub, dari Muhammad, ia berkata, “Kami berada di hadapan Abu Hurairah yang memakai dua buah pakaian yang dicelup dengan lumpur merah terbuat dari pohon rami. Ia membuang ingus dari hidungnya.” Ia berkata, “Bakh, bakh, Abu Hurairah membuang ingusnya di kain yang terbuat dari pohon rami? Sungguh Anda telah melihatku ketika jatuh tersungkur di depan mimbar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ke kamar 'Aisyah radhiallahu 'anha terus pingsan. Ada orang datang menaruh kakinya di leherku dan melihat bahwa saya telah gila. Padahal saya tidak gila, saya hanya sedang kelaparan.”

Mereka para tamu mulia di masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di mana seluruh sahabat melihat mereka jatuh tersungkur karena sakit saking laparnya, tidak punya apa-apa. Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata, sebagaimana dalam Shahih Bukhari, “Orang yang paling baik terhadap orang-orang miskin adalah Ja'far bin Abi Thalib. Ia sering mengunjungi kami dan memberikan makanan kepada kami apa saja yang ada di dalam rumahnya. Sampai ia pernah memberikan ukkah (bejana kecil terbuat dari kulit, biasanya untuk wadah mentega) yang sudah tidak ada apa-apanya, lalu kami menyobekinya kemudian kami menjilati apa yang tersisa.”

Wahai mujahid yang tenggelam dalam nikmat Allah, coba bayangkan rasa lapar yang mendorong sang dermawan, Ja'far bin Abi Thalib mengunjungi para tamu mulia, padahal ia tidak memiliki apa-apa selain wadah kulit berisi sisa-sisa mentega. Mereka memotong-motongnya untuk bisa menjilati apa yang tersisa dalam wadah tersebut!

Perlu diketahui, tibanya Ja'far di Madinah bertepatan dengan penaklukan Khaibar serta masuk Islamnya Abu Hurairah, yaitu di tahun yang sama, tahun ketujuh dari hijrah Nabi. Hal itu menunjukkan bahwa kefakiran yang sangat memprihatinkan ini masih melanda negara nabi setelah 7 tahun sejak berdirinya dan sejak Allah menganugerahkan kepada kaum muslimin harta ganimah (rampasan perang) suku Khaibar.

Berkaitan dengan kondisi para tamu Islam dan bagaimana rasa lapar yang mereka rasakan, sahabat yang agung ini mengabarkan bagaimana ia pernah duduk bersama para sahabat senior menanyakan tentang satu ayat dari kitab Allah, “Saya bertanya hanya supaya saya bisa merasa kenyang.” Sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengundangnya ke rumah beliau. Ketika beliau mendapati ada susu di rumah, beliau menghadiahkan kepadanya. Beliau bersabda, “Wahai Abu Hirr (bapaknya kucing).” Saya menyahut (Abu Hurairah), “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Kembalilah ke ahli shuffah (orang-orang yang tinggal di masjid), undanglah mereka datang ke rumahku.” Abu Hurairah berkata, “Ahli shuffah adalah para tamu Islam. Mereka tidak punya keluarga, harta benda, dan siapa-siapa sebagai tempat berlindung. Jika ada harta sedekah datang kepadanya, langsung dikirimkan kepada mereka, beliau tidak mengambilnya sedikit pun. Jika ada orang memberi hadiah langsung dikirimkan kepada mereka, beliau mengambilnya sedikit, selebihnya untuk mereka. Hal itu membuat saya tidak enak.” Saya berkata, “Apakah  susu ini untuk ahli shuffah? Saya berhak meminum susu ini seteguk agar saya kuat. Ketika tiba beliau menyuruhku untuk memberikannya kepada mereka. Semoga saya dapat bagian dari susu ini. Padahal taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah keharusan. Maka saya pun memberikannya kepada mereka.”
(Hadis)[2]

Lihatlah ini, farisul muslimin (satria penunggang kuda kaum muslimin), suami putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Ali bin Abi Thalib, ia pernah bekerja pada seorang Yahudi demi memperoleh beberapa butir kurma untuk mengganjal rasa sakit karena lapar.

Dalam Sunan Tirmidzi, 'Ali bin Abi Thalib berkata, "Saya keluar dari rumah Rasulullah pada suatu hari di musim dingin. Saya membawa kulit yang sudah rusak. Saya menaruhnya di leherku. Saya ikat perutku dengan ikat pinggang dari daun kurma karena saya sangat kelaparan. Seandainya di rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ada makanan pasti saya memakannya. Maka saya keluar mencari sesuatu. Ketika saya melewatu seorang Yahudi yang sedang sibuk dengan hartanya. Ia memberi air dengan menggunakan kerekan. Saya melihatnya dari celah dinding rumahnya. Ia bertanya, “Ada apa, wahai orang 'Arab, apakah  kamu mau bekerja untuk setiap satu timba satu upahnya sebutir kurma?” Saya, “Ya, bukalah pintunya agar saya bisa masuk.” Si Yahudi membuka pintu. Ia memberiku timbanya. Setiap saya menarik satu timba ia memberiku sebutir kurma. Sampai ketika tanganku sudah penuh, saya kembalikan timbanya. Saya katakan, “Sudah, cukup.” Lalu saya memakan kurma-kurma tersebut kemudian saya kehausan lalu minum.”

Saya akan sampaikan kepada Anda bagaimana rasa lapar yang dirasakan para sahabat yang sampai membuat mereka merasa sakit karenanya.

Dari Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, pada suat hari beliau menjenguk seorang sahabat, beliau bertanya, "Apa yang kamu inginkan?" Ia menjawab, "Saya ingin sepotong roti tepung." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang punya sepotong roti tepung hendaknya ia mengirmkannya kepada saudaranya."
(Hadis)

Namun apabila rasa lapar menimpa anak kecil, demi Allah, sungguh itu sangat memilukan. Dalam Sunan Abu Dawud, dari 'Ali bin Abi Thalib radhiallahu'anhu, suatu ketika ia masuk ke rumah menemui Fathimah, sedangkan Hasan dan Hussain sedang menangis. 'Ali (bertanya), "Apa yang membuat mereka berdua menangis?" Fathimah menjawab, "Rasa lapar."

Dalam Sunan Tirmidzi, dari Rafi bin Amr, ia berkata, "Saya pernah melempari kurma milik kaum ansar. Mereka menangkapku dan membawaku kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau bertanya, “Wahai Rafi, kenapa engkau melempari pohon kurma mereka?” (Rafi) Saya menjawab, “Saya kelaparan, wahai Rasulullah.””

Mengenai pakaian mereka dan apa yang menutup aurat-aurat mereka tidak lebih baik dari kondisi makanan mereka. Dalam Shahih Bukhari, ada seorang penanya bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang salat memakai satu baju. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, “Memangnya siapa di antara kalian yang punya dua baju?”

Baju tersebut, terkadang pendek dan sempit, hampir tidak bisa menutupi aurat sahabat dalam salatnya dan dalam masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari Sahl bin Sa'ad, ia berkata, “Para sahabat biasa salat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mengikat sarung mereka di atas leher-leher mereka seperti anak-anak. Para wanita sahabat diperintahkan, “Jangan angkat kepala kalian sebelum kaum lelaki duduk dengan sempurna.””

Ibnu Baththal rahimahullah mengatakan, “Ath Thahawi mengatakan, “Orang-orang yang mengikat sarungnya ke lehernya memang tidak punya yang lain selain itu. Wallahu a'lam. Karena kalau mereka punya pakaian lagi selain itu, tentu mereka memakainya dalam salat dan tidak perlu melarang kaum wanita mengangkat kepala sebelum kaum lelaki duduk dengan sempurna dan hukum-hukum mereka berbeda dalam salat dan itu menyelisihi sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam berkaitan dengan imam salat jamaah, "Janganlah kalian berbeda dengannya." Dan berdasarkan sabda beliau, "Jika imam mengangkat kepala, maka angkatlah." Tidakkah kamu lihat bahwa Amr bin Salamah ketika salat mengimami kaumnya dan auratnya tersingkap, ia tidak memakai selain jubah pendek yang ia kenakan. Ketika ia dibelikan jubah panjang yang bisa menutupi auratnya dalam salat, ia berkata, "Saya tidak pernah merasa gembira karena sesuatu pun segembiraku karena jubah panjang ini." Kaum wanita dilarang mengangkat kepala karena dikhawatirkan akan melihat aurat kaum lelaki ketika bangun dari sujud.""
(Selesai perkataan Ibnu Baththal rahimahullah)

Apakah  ada kefakiran yang lebih parah dari ini? Terkadang seseorang bisa sabar menanggung sakit karena lapar, namun ketika tidak mendapati pakaian yang bisa menutupi auratnya, maka ini sangat memilukan dan menyedihkan. Dan ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia kondisi ini dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa, maka tidak diragukan lagi kondisinya sangat parah. Yang membuat seorang yang bertauhid menangis adalah bahwa kondisi kefakiran ini tanpa terkecuali juga menimpa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, makhluk Allah terbaik, termulia, dan paling terhormat.

Dalam Shahih Muslim, dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu ia berkata, "Pada sauatu hari saya mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Saya mendapati beliau sedang duduk berbincang-bincang dengan para sahabatnya dan beliau mengikat perutnya dengan sebuah perban. Usamah berkata, “Saya ragu-ragu dengan sebuah batu.” Saya bertanya kepada beberapa sahabat, “Kenapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengikat perutnya?” Mereka menjawab, “Karena lapar.””

Dalam riwayat lain, Abu Thalhah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiduran di masjid sambil membolak-balik badannya. Lalu ia mendatangi Ummu Sulaim lalu berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiduran di masjid sambil membolak-balik badannya. Saya menduga beliau sedang merasa lapar.” Anas berkata, “Lalu Abu Thalhah masuk menemui ibuku, lalu bertanya, “Apakah ada sesuatu?” Ibuku, “Ya, saya punya beberapa potong roti dan beberapa butir kurma.” Tiba-tiba Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangi kami sendirian, maka kami membuat beliau merasa kenyang; dan jika ada orang lain datang, maka makanannya kurang.”
(Hadis)

Perhatikanlah wahai orang yang mengeluhkan kekurangan dan kesempitan hidup, bagaimana nabimu shallallahu 'alaihi wa sallam merasakan kelaparan yang sangat sampai terlihat dari raut wajah beliau. Bahkan sampai membolak-balik badannya karena kelaparan yang sangat. Sampai Anas bertanya kepada beberapa sahabat, “Apa gerangan yang sedang menimpa beliau sampai seperti itu?” Mereka pun menjawab, “Karena kelaparan.” Tidak ada seorang pun yang memiliki sesuatu untuk diberikan kepada beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan ketika ada itu pun hanya beberapa potong roti yang tidak pantas bagi seorang tamu mulia semisal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam melalui malam-malamnya dengan menahan rasa lapar tanpa memakan apa pun. Semoga selawat dan salam Rabbku selalu tercurahkan kepada beliau.

Dari Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa melalui malam-malamnya secara berturut-turut dengan menahan rasa lapar dan keluarganya tidak mendapati apa pun untuk makan malam mereka. Roti yang paling sering mereka makan adalah roti dari tepung. Ya, dan keluarganya. Wahai para wanita yang tidak taat kepada para suami kalian karena menuntut keluasan rezeki, terutama para mujahidin di jalan Allah, lihatlah mereka istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para putri dari orang-orang termulia, mereka semua menahan rasa lapar.

Dalam Shahih Muslim, Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata, “Demi Zat yang jiwa Abu Hurairah ada di tangan-Nya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah selama tiga hari berturut-turut tidak bisa mengenyangkan keluarganya walau hanya dengan sepotong roti dari gandum sampai beliau meninggalkan dunia. Bahkan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mengenyangkan keluarganya dengan roti dari tepung.” Sebagaimana dalam Shahih Bukhari, Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan dunia sementara beliau tidak pernah kenyang dari hanya sepotong roti tepung.”

Termasuk yang menyayat hati dan jiwa tidak kuat membayangkannya apabila engkau tahu bahwa nabimu shallallahu 'alaihi wa sallam sangat kepayahan karena menahan rasa lapar sampai memaksanya untuk menyambut undangan seorang Yahudi demi makanan yang buruk, bahkan sampai menggadaikan baju besinya kepada si Yahudi agar bisa mendapatkan tepung untuk dibuat makanan untuk keluarganya.

Dalam Shahih Bukhari, Anas radhiallahu 'anhu berkata, “Saya berjalan menuju rumah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan membawa roti tepung dan mentega basi.[3] Baju besi beliau pernah digadaikan kepada seorang Yahudi ditukar dengan 20 sha' makanan yang diambil untuk keluarganya. Saya pernah mendengar pada suatu hari, beliau bersabda, “Keluarga Muhammad tidak pernah menyimpan walau hanya satu sha' kurma atau satu sha' tepung.” Padahal waktu itu beliau memiliki 9 istri.”

Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari ketika mencantumkan sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, “Keluarga Muhammad tidak pernah menyimpan walau hanya satu sha' kurma atau satu sha' tepung. Mengatakan, “Beliau tidak mengatakan karena putus asa atau mengeluh —aku berlindung kepada Allah dari perkataan semacam itu-, tetapi karena meminta maaf mengenai kedatangan beliau menyambut undangan si Yahudi dan karena baju besi beliau digadaikan kepadanya.””
(Selesai perkataan Ibnu Hajar rahimahullah)

Ya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyambut undangan si Yahudi karena rasa lapar demi mendapatkan roti tepung dan mentega basi. Bahkan sampai menggadaikan senjatanya, sesuatu yang paling berharga bagi seorang muslim, kepada si Yahudi karena kebutuhan yang sangat mendesak. Di mana kondisi terbaik seorang Yahudi, minimal hartanya bercampur antara yang halal dan haram. Allah Ta'ala berfirman,
سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ
“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.”
(QS. Al Ma'idah (5): 42)

Seandainya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menemukan seorang muslim yang bisa dihutangi pasti beliau lakukan. Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Para ulama berkata, “Hikmah dari apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam bermuamalah dengan seorang Yahudi, bisa jadi untuk menerangkan kebolehannya atau karena pada waktu itu para sahabat memang tidak punya makanan lebih atau beliau khawatir mereka tidak mau mengambil harga atau ganti, makanya beliau tidak ingin menyulitkan mereka.””
(Selesai perkataan Al Hafizh rahimahullah)

Saya kakatakan, sangat mustahil Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menggadaikan senjatanya kepada musuhnya, meskipun ia terikat perjanjian, kecuali karena kebutuhan yang sangat mendesak yang tidak mungkin dipenuhi dari selain cara ini. Wallahu Ta'ala A'lam.

Cukuplah untuk engkau ketahui, sebagaimana dalam Shahih Bukhari, bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal dunia, sementara baju besinya tergadaikan pada seorang Yahudi demi mendapatkan 30 sha' tepung yang diambil untuk dibuat makanan untuk keluarganya. Dalam riwayat lain, beliau mengambilnya sebagai rezeki untuk keluarganya. Dalam riwayat Ahmad, “Beliau tidak menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk menebus baju besinya sampai wafat.”

Begitulah keadaan daulah nabawiyyah (negara nabi) sejak awal pertumbuhannya sampai beliau shallallahu 'alaihi wa sallam wafat. Rasa lapar yang menimpa semua orang sampai pada batas, orang yang tidak mengenal bagaimana rasanya kelaparan tidak bisa memahami bahayanya. Namun meskipun demikian, kami tidak pernah mendengar meski hanya sekali, seorang muslim atau munafik yang mencela negara beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mengatakan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam saja tidak mendapatkan makanan yang bisa untuk memberi makan dirinya sendiri dan para sahabat beliau, maka bagaimana ia menyusahkan dirinya dan menegakkan sebuah negara yang tidak memiliki pilar-pilar penegak suatu negara, bahkan walau hanya pilar penegak negara yang paling sederhana, yakni makanan dan minuman.

Catatan kaki:

[1]  Pembahasan ini sebagai bantahan kepada orang yang mengingkari saudara kita para mujahidin mengenai deklarasi negara Islam 'Iraq dengan mengatakan bahwa negara wajib memenuhi kebutuhan makanan, minuman, pengajaran, dan kedokteran. Mereka menganggap semua kebutuhan tersebut merupakan pilar-pilar negara Islam 'Iraq. Di mana tanpa pilar-pilar tersebut, maka negara Islam 'Iraq tidak layak berdiri.
Kondisi kaum muslimin pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam serupa dengan kondisi kaum muslimin pada sekarang ini di negara Islam 'Iraq. Bahkan di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kondisinya lebih memprihatinkan lagi. Namun bermodalkan tekad, keteguhan, dan keyakinan akan datangnya jalan keluar dari Allah, akhirnya pertolongan dan jalan keluar pun datang dari Allah.

[2]  HR. Bukhari dan lainnya. Lanjutan teks hadis selengkapnya adalah, "Saya pun mendatangi dan mengajak mereka. Mereka pun datang lantas minta izin masuk. Rasulullah pun mengizinkan mereka masuk. Satu per satu mereka menempati posisi duduk di rumah beliau. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Wahai Abu Hirr." Saya menyahut, "Ada apa wahai Rasulullah?" Beliau, "Ambillah ini berikan kepada mereka." Saya pun mengambil segelas susu dari beliau. Saya berikan kepada seorang dari mereka. Ia meminumnya sampai hilang dahaganya. Ia mengembalikan gelas tadi kepada saya. Saya memberikan lagi kepada yang lainnya. Ia minum sampai hilang dahaganya. Kemudian mengembalikannya kepada saya lagi. Sampai ketika gilirannya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mereka semua telah terpenuhi dahaganya. Beliau pun mengambil gelas tersebut dan melihat ke arahku sambil tersenyum. Lalu beliau bersabda, "Wahai Abu Hirr." Saya menyahut, "Ada apa, wahai Rasulullah?" Gilirannya tinggal saya dan kamu. "Engkau benar, wahai Rasulullah," jawabku. Beliau bersabda, "Duduk dan minumlah." "Saya pun duduk dan minum." Terus saja beliau berkata, "Minumlah." Sampai saya berkata, "Tidak. Demi Zat yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya sudah kenyang." "Kalau begitu bawa ke sini sisanya." "Saya pun memberikannya gelas yang berisi sisa susu kepada beliau." Beliau memuji Allah, membaca basmalah dan meminum susu yang tersisa."

[3] Beginilah kondisi Rasulullah. Apakah kondisi sebagian pemimpin jihad di masa kini tercela jika mereka adalah orang-orang yang fakir. Tidak mungkin mereka tercela karena kondisi mereka yang fakir tersebut.

Sumber: Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir, Daulah Nabawiyah (Negara Nabi), (1429 H: Muassasah Al-Furqon Lil Intaj Al-Ilamiy, Diterjemahkan oleh Abu Ahmad), hlm. 16-22, dengan perubahan.

Penulis: Abu Ayyub Al Mishri
Penerjemah: Abu Ahmad
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari
  1. Beranda
  2. /
  3. Sejarah
  4. /
  5. Kondisi Perekonomian Daulah Nabawiyyah