data:post.title

Seputar Istri Ditinggal Pergi untuk Istisyhad

Seputar Istri Ditinggal Pergi untuk Istisyhad

Seputar Istri Ditinggal Pergi untuk Istisyhad

Oleh Syaikh Abul Mundzir al-Harbi

Pertanyaan:
Umurku 16 tahun dan aku menikah 5 bulan yang lalu sedang suamiku pergi ke 'Iraq dan mengabarkan kepadaku bahwa ia akan melakukan amaliah istisyhadiyyah, aku pun kaget dan tidak rida dengan apa yang ia lakukan. Apakah perbuatannya itu akan menuai pahala setelah ia meninggalkan aku seorang diri dalam keadaan marah?

Jawaban:
Jihad di jalan Allah itu merupakan kewajiban atas kaum muslimin dan penunaian hak Allah 'Azza wa Jalla dalam perkara ini adalah lebih didahulukan daripada hak orang tua, istri, dan anak. Maslahat jihad di jalan Allah ini adalah lebih besar dibanding tinggalnya ia bersama keluarganya karena tinggalnya dia bersama keluarganya adalah maslahat khusus, sedang jihad adalah maslahat umum, dan wanita ini pun juga akan memperoleh maslahat dari jihad ini, terlebih wanita ini juga tinggal di negara Islam, al hamdulillah. Sesungguhnya negara Islam tidaklah tegak, kecuali dengan ceceran darah dan tulang belulang para mujahidin yang mana mereka persembahkan arwah-arwah mereka secara murah di Jalan Allah dan mereka pun juga meninggalkan keluarga, negeri, dan anak-anak mereka dalam rangka menolong agama Allah 'Azza wa Jalla dan juga mengeluarkan kaum muslimin dari cengkeraman para tagut dan para penguasa murtad, maka nikmat yang mana kami hidup dengan anugerah Allah di bawah syariat Allah 'Azza wa Jalla, dia merupakan buah dari jihad dan pengorbanan yang dilakukan para hamba-hamba Allah yang saleh, demikian kami menyangka sedang Allah-lah Yang menilai dan kami berdoa kepada Allah agar menerima mereka sebagai syuhada.

Adapun suami saudari kita ini, tidaklah ia keluar dalam rangka bersenang-senang dengan dunia dan tidak pula ia keluar menuju wanita lain, namun ia keluar agar kalimat Allah 'Azza wa Jalla itu tinggi dan menolong agama Allah 'Azza wa Jalla serta melawan para kuffar. Dengan itu, maka apa yang ia lakukan adalah sahih dan dia akan mendapat pahala dengan izin Allah 'Azza wa Jalla atas hal tersebut, maka sungguh para istisyhadiyyin itu merupakan sebaik-baik mujahidin dan amaliah istisyhadiyyah dia merupakan amaliah yang paling besar dan amal jihad yang paling menakutkan para kuffar dan semoga Allah menolong Islam dan kaum muslimin di zaman ini, maka sudah selayaknya bagi saudariku ini agar bangga bahwasanya Allah 'Azza wa Jalla telah memberikannya rezeki seorang suami yang rela mengorbankan dirinya secara murah di jalan Allah 'Azza wa Jalla dan Allah tidak memberinya seorang suami yang senang berada di pangkuannya dan meninggalkan Agama Allah 'Azza wa Jalla lagi tidak peduli atasnya serta tidak peduli dengan keadaan kaum muslimin yang terbunuh di setiap tempat, maka wajib atasnya untuk memuji Allah 'Azza wa Jalla dan bersyukur atas hal tersebut serta bersabar dan rida terhadap keputusan Allah 'Azza wa Jalla dan Allah 'Azza wa Jalla akan membalas kesabarannya dengan kebaikan. Wallahu Ta'ala a'lam.

Penulis: Abul Mundzir Al Makki
Penerjemah: Abu Bakr Al Banjari
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umar
  1. Beranda
  2. /
  3. Fikih
  4. /
  5. Tanya Jawab
  6. /
  7. Seputar Istri Ditinggal Pergi untuk Istisyhad