Siapakah Tha'ifatul Manshurah pada Zaman Ini?
Siapakah Tha'ifatul Manshurah pada Zaman Ini?
Siapakah Tha'ifatul Manshurah pada Zaman Ini?
Oleh Syaikh Abu Mush‘ab as-SuriJika begitu keadaannya sebagaimana yang telah disebutkan, maka siapakah tha'ifatul manshurah pada zaman ini? Di sini kita wajib untuk mengetahui gambaran dan ciri-ciri zaman sekarang ini. Gambaran itu akan menjadi suatu pengetahuan yang dapat dimengerti oleh akal, pemahaman, dan pandangan secara pasti.
Pertama. Negeri-negeri Islam dari ujung barat hingga ujung timur telah dikuasai oleh musuh Yahudi atau Nashrani atau sekuleris atau komunis atau orang-orang musyrik penyembah patung, baik diperangi dan dijajah secara langsung dan terang-terangan sebagaimana keadaan negeri Palestina dan Syam secara umum, juga Bosnia dan Checnya serta negara di Tengah Asia dan Turkistan Timur yang telah dijajah oleh China. Juga Kasymir yang telah dijajah oleh India, serta negeri-negeri lain yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta'ala di bawah kekuasaan kafir asli. Atau dengan bentuk secara tidak langsung dalam bentuk penyerahan kekuasaan kafir asli kepada orang-orang murtad seperti kebanyakan negeri-negeri kaum muslimin yang lainnya.
Kedua. Seluruh negeri Islam dari ujung barat hingga ujung timur, para pemerintah murtad telah sangat jauh meninggalkan syariat Allah, dan bahkan terang-terangan menyatakan permusuhan, dan mereka menghukumi dengan selain apa yang telah diturunkan oleh Allah, mereka mengganti syareat Allah dan mengangkat pemimpin dari musuh-musuh Allah.
Ketiga. Seluruh negeri Islam baik orang Islam secara umum maupun orang yang beragama dan berdakwah serta beriltizam dengan Islam secara khusus telah dihinakan. Kezaliman, kefasikan, pembunuhan, pelecehan kehormatan, penjara, dan siksaan yang telah diketahui baik oleh orang yang pandai maupun orang awam.
Apakah masuk akal dalam keadaan seperti ini akan kita katakan bahwa tha'ifatul manshurah pada hari ini adalah mereka orang-orang yang tidak menghiraukan ini semua, dan mereka malah menyibukkan diri untuk mencari dan meneliti sanad-sanad hadis, mengarang kitab-kitab, dan meriwayatkan hadis?!
Apakah masuk akal bahwa tha'ifatul manshurah adalah orang-orang yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin sedikit pun dan hanya menyibukkan diri untuk beribadah dan mengulang-ulang wirid serta menyendiri di pojok-pojok masjid?!
Apakah masuk akal bahwa tha'ifatul manshurah adalah orang-orang yang tidak membahas semua tragedi-tragedi di atas dengan mulut mereka, kemudian kesibukan mereka tidak lebih hanya menjernihkan akidah yang benar menurut mereka sendiri, dan memerangi penyembah kuburan dan makam-makam serta syirik terhadap orang-orang yang sudah mati?! Padahal kekufuran telah menguasai mereka dan ada di sekeliling mereka, dan kefasikan serta kemaksiatan telah masuk pada mereka dan telah masuk ke dalam rumah-rumah kaum muslimin dengan segala macam media informasi! Dan keadaan mereka bersama kekafiran merasa senang.
Atau apakah tha'ifatul manshurah itu adalah mereka orang-orang yang duduk dan tinggal di negeri kafir dan di tengah-tengah mereka kemudian mereka berdakwah dan memfatwakan hukum-hukum jihad dan hijrah?! Serta mereka membuka pusat-pusat Islam sesuai dengan Islam menurut pandangan Barat.
Atau kalian berpendapat mereka adalah orang-orang yang duduk di bawah pemerintahan murtad atau kafir, bekerja untuk mencari harta, istri, dan anak, lalu mereka menggigit daging para mujahidin di jalan Allah dan orang-orang yang hijrah kepada Allah dengan berbagai macam tuduhan, baik tuduhan tergesa-gesa, menghancurkan dakwah, terlalu cepat dalam melewati tahapan, kemaslahatan bendera, dan terlalu banyak bicara?!!
Kami tidak ragu untuk sementara waktu menyimpulkan bahwa tha'ifatul manshurah pada zaman ini dan dalam keadaan seperti ini mereka itu adalah ahli jihad (orang-orang yang berjihad)…. Orang-orang yang berperang… Orang-orang yang memegang senjata, para mujahidin di bawah bendera Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah, mereka yang mempertahankan diri dari musuh kafir dan murtad.
DR. ‘Abdul Qadir bin 'Abdul 'Aziz hafizhahullah pengarang kitab Al Umdah fi I’dadil Uddah mengatakan di akhir perkataannya tentang tha'ifatul manshurah, siapakah mereka, dan bagaimana mereka, serta perkataan ahli ilmu dalam hal itu. Dia berkata pada halaman ke 80 yang berjudul “Kewajiban yang Paling Utama bagi Tha'ifatul Manshuroh pada Zaman Ini”, “Dan sungguh kewajiban yang paling besar bagi tha'ifatul manshurah pada zaman ini adalah jihad melawan pemerintah murtad yang telah mengganti syariat Allah dan yang menghukumi kaum muslimin dengan undang-undang kafir,” hingga beliau berkata, “dan kerusakan para penguasa tersebut adalah penggantian mereka akan syariat dan pemahaman Islam, serta tersebarnya kejahatan mereka kepada kaum muslimin, jika para sahabat radhiallahu'anhum hidup pada hari ini sungguh pasti amalan mereka yang paling besar adalah jihad melawan para pemerintah ini.” Hingga beliau berkata, “Dan saya belum melihat seorang pun yang mengatasnamakan dirinya kepada ilmu syar’i pada zaman kita ini yang mengatakan tentang masalah ini sebagai kemungkaran dan menghasung kaum muslimin untuk berjihad, saya tidak melihat orang yang seperti ini hingga dia bertemu dengan Allah melainkan Allah dalam keadaan murka kepadanya. Allah Ta'ala berfirman
إن الذين يكتمون ما أنزلنا من البينات والهدى من بعد ما بيناه للناس في الكتاب أولئك يلعنهم الله ويلعنهم اللاعنون
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk setelah apa yang telah kami terangkan kepada manusia di dalam kitab, maka mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh makhluk yang dapat melaknat.”(QS. Al Baqarah: 159)
Jika begitu sungguh musuh kafir telah masuk dan bergabung dengan musuh orang-orang murtad dan munafik, jika tha'ifatul manshurah adalah orang-orang pilihan dari pemeluk agama ini, maka tidak mungkin dia akan meremehkan kewajiban yang paling utama setelah bertauhid —yaitu mempertahankan diri dari musuh- dengan alasan melaksanakan amalan yang menurut ijmak para ulama di bawah kewajiban tersebut di atas. Karena orang yang melakukan hal itu, maka dia termasuk dari tha'ifatul madhuroh (yang kalah dan terusir), bukan dari tha'ifatul manshurah (yang menang). Sesungguhnya dia termasuk dari kelompok yang qa'idun (duduk-duduk) dan lari dari peperangan, inilah hukumnya. Kita telah dikejutkan dengan kedatangan musuh ke negeri kita, maka tha'ifatul manshurah pada zaman ini adalah mereka yang membawa pedang dan bendera jihad untuk mempertahankan diri dari musuh ini.
Pertama. Mempertahankan diri dari musuh kafir asli, yaitu Yahudi, Nashrani, orang-orang musyrik, sekuler, dan orang-orang murtad, serta para penolong mereka.
Mempertahankan diri dari mereka dengan senjata dan pedang dan ini merupakan jihadus sinan (jihad dengan pedang dan tombak). Barang siapa yang melakukan hal itu maka dia termasuk keturunan tha'ifatul manshurah, penolongnya dan pelakunya baik dia sendirian maupun secara berjemaah.
Kedua. Mempertahankan diri dari musuh kaum munafik dan orang-orang yang mendebat tentang musuh-musuh dengan kebatilan dari kalangan para ulama penguasa dan dai-dai yang berbuat bidah, penggembos, dan pelemah semangat kaum muslimin. Kita mempertahankan diri dari mereka dengan hujjah dan keterangan, dengan firman Allah dan sabda Rosulullah, dan ini adalah merupakan jihadul bayan (jihad dengan penjelasan) yang telah diterangkan oleh para ulama. Barang siapa yang melaksanakannya pada hari ini dan dalam melakukan itu dia mendapatkan kesulitan dengan menjadi buronan atau diperangi atau dicela, maka dia termasuk penolong tha'ifatul manshurah dan kami ingin supaya dapat berkumpul dengan mereka. Namun mereka bukan orang yang berperang selama dia tidak memiliki uzur syar’i dan itu sudah jelas bagi kami.
Sedangkan orang yang menyatukan pedang dengan pena dan peluru dengan pena dari bulu, juga menyatukan peperangan dengan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar, maka tidak diragukan lagi dia termasuk tokoh dan pentolan tha'ifatul manshurah, termasuk pemimpin dan ulama tha'ifatul manshurah juga termasuk dainya para mujahidin, dan tidak diragukan lagi derajat mereka lebih tinggi dari dua kelompok di atas.
Kita memohon kepada Allah Yang Mahatinggi dan Mahamampu dengan rahmat dan keutamaannya yang Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, untuk menjadikan kita termasuk dari tha'ifatul manshurah dan dapat bersama dengan mereka, baik di dunia maupun di akhirat di bawah satu bendara Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.”
Sumber: https://dakwahwaljihad.wordpress.com/2014/03/13/firqoh-najiyyah-dan-thoifah-manshuroh/#more-1486, dengan penyesuaian.
Penulis: Abu Mush'ab As Suri
Penerjemah: Abu Sumayyah
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari
/i