data:post.title

Sikap Ulama terhadap Ibnu 'Arabi

Sikap Ulama terhadap Ibnu 'Arabi

Sikap Ulama terhadap Ibnu 'Arabi

Oleh Syaikh ‘Athiyyatullah al-Libi

Ibnu ‘Arabi adalah pencetus akidah al hulul wal ittihad (manunggaling kawulo lan gusti) yang kekejian dan kesesatannya tidak asing lagi bagi setiap orang yang berakal sehat sampai-sampai orang-orang awam sekalipun akan merasa jijik dan menolak akidah sesatnya tersebut, terlebih para ulama. Buku-buku Ibnu ‘Arabi mengucurkan akidah sesat tersebut. Ibnu ‘Arabi sendiri menyusun landasan paham atheisnya secara terus-menerus. Cukuplah sebagai contohnya, syairnya yang berbunyi,

Tuhan itu benar, hamba pun benar
Duhai, siapa gerangan yang menjadi mukalaf?
Jika kau jawab hamba, maka ia makhluk yang mati
Atau kau jawab Tuhan, bagaimana Tuhan dikenai taklif?

Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari ucapan orang yang zalim ini.

Ibnu ‘Arabi menuliskan kekafiran dan kezindikannya dengan penuh kesadaran, penghayatan, dan kelihaian. Apa yang ia tulis bukanlah ungkapan-ungkapan sekadar lewat, keseleo lidah, ketergelinciran ulama, atau ijtihad yang keliru.

Meski demikian, para ulama berbeda pendapat dalam hal mengafirkan Ibnu ‘Arabi. Anda akan mendapati sejumlah ulama yang terkenal luas kedalaman ilmunya dan jasa besarnya kepada umat Islam, saat mereka menyebutkan si atheis ini, mereka menghormatinya, mengagungkannya, dan menyematkan kepada namanya ungkapan “Semoga Allah mensucikan ruhnya,” dan ungkapan semisalnya. Mereka menjulukinya Al ‘Arif billah (orang yang sangat mengenal Allah) dan Asy Syaikh Al Akbar (ulama paling besar), seperti dilakukan oleh Imam Al Alusi dalam kitab tafsirnya.  

Para ulama tersebut, meski mereka memiliki ilmu yang sangat dalam dan pemahaman yang sangat jeli, namun mereka menjadikan akal mereka terlalu pendek dan terlalu dangkal untuk memahami makna ungkapan-ungkapan orang-orang zindik. Maka mereka memposisikan dirinya di hadapan ungkapan-ungkapan orang-orang zindik itu dalam posisi orang yang lemah dan menerima begitu saja, di mana mereka menganggap kebenaran perkataan-perkataan kaum zindik tersebut adalah hukum pokok yang pasti. Meskipun perkataan-perkataan kaum zindik tersebut adalah kebohongan dan kekejian belaka.

Jika sebagian ulama tersebut mampu melakukan takwil atau takhrij (pencarian sumber) terhadap perkataan para zindik tersebut, niscaya hal itulah yang akan mereka lakukan. Namun jika mereka tidak mampu melakukannya, maka berkomentar, “Kaum (shufi yang zindik) itu lebih paham dengan apa yang mereka katakan.”

Lihatlah misalnya kisah yang disebutkan oleh Imam Al Alusi saat menceritakan pemimpin kaum zindik, Ibnu ‘Arabi. Imam Al Alusi berkata, “Saya telah mendengar sebagian mereka berkata bahwa Asy Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibnu ‘Arabi —semoga Allah mensucikan ruhnya- terjatuh dari keledainya sehingga kakinya terluka, maka orang-orang datang untuk mengusungnya, namun ia mengatakan, “Beri aku waktu sebentar!” Mereka pun memberinya waktu sebentar. Ia lalu memberi izin kepada mereka untuk mengusungnya, maka ia pun ditanya tentang hal itu. Ia menjawab, “Aku merenungkan kitab Allah, ternyata berita tentang peristiwa ini telah saya dapatkan di dalam surat Al-Fatihah.” Ini adalah perkara yang akal kami tidak mampu menjangkaunya.”

Begitulah kata Imam Al-Alusi.

Apakah kalian melihat para ulama yang mengafirkan Ibnu ‘Arabi —dan betapa banyaknya jumlah mereka- juga mengafirkan individu-individu saudara-saudara mereka dari kalangan ulama yang tidak mengafirkan Ibnu ‘Arabi —dan betapa banyak juga jumlah mereka-?

Bahkan apakah para ulama yang mengafirkan Ibnu ‘Arabi juga mengafirkan ulama yang tidak memandang Ibnu ‘Arabi sebagai orang sesat?

Apakah para ulama yang mengafirkan Ibnu ‘Arabi mempergunakan kaidah, “Barang siapa tidak mengafirkan orang kafir atau ragu-ragu atas kekafiran orang kafir, maka ia telah kafir,” atau mereka menghunuskan kaidah tersebut sebagai pedang yang tajam lagi membinasakan terhadap setiap orang yang berbeda pendapat dengan mereka dan berdebat dengan mereka dalam menilai kafir dan murtadnya Ibnu ‘Arabi?

Hal itu tidak lain karena kekuatan bashirah para ulama tersebut, pencarian bukti-bukti dalam ilmu mereka, kehati-hatian mereka dalam agama, dan pengetahuan mereka tentang uzur-uzur. Sebagian ulama kita telah mengatakan, “Semakin dalam ilmu seorang ulama, niscaya ia akan semakin mengetahui uzur-uzur dan semakin lebar memberi uzur kepada masyarakat.” Ungkapan ini benar bagi siapa yang mau mengambil pelajaran. Tidak samar lagi bahwa ungkapan ini dibatasi dengan batasan syar’i yang benar dan fikih yang kuat yang disertai ketakwaan kepada Allah Ta’ala. 

Intinya, para ulama terlibat perdebatan seputar orang zindik ini, Ibnu ‘Arabi, dan mereka menulis buku-buku untuk membongkar kekejiannya dan menyingkap tirai yang menutupi kezindikannya. Terkadang hal itu berlanjut sampai tarap adu sumpah berani mati (mubahalah) tentang kesesatan Ibnu ‘Arabi. Namun hal itu tidak sampai menjadikan mereka mengafirkan orang yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah ini, seperti kisah yang diriwayatkan tentang Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani yang berdebat dengan salah seorang pecinta Ibnu ‘Arabi.

Demikianlah, keagungan para ulama yang menyelisihi dalam perkara kezindikan Ibnu ‘Arabi tetap seperti sedia kala, ilmu mereka tetap diambil, buku-buku mereka tetap diambil manfaatnya, dan kekeliruan mereka yang terlalu longgar lagi keterlaluan dalam memberi uzur kepada orang-orang zindik tersebut dibantah dengan ilmu dan kajian yang mendalam. Namun hal itu tidak menjadi sebab untuk mengafirkan mereka, tidak pula mendorong untuk memvonis mereka sebagai orang-orang sesat, kecuali menurut orang-orang yang bodoh akalnya, muda usianya, dan melesat keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat keluar dari tubuh hewan buruan!

Sumber: Syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim as-Syitwi al-Misrati (Athiyatullah al-Libi), Jawabu Sual fi Jihad ad-Daf’i, (1434 H: Dar al-Jabhah, Al-Jabhah al-I’lamiyah al-Islamiyah al-‘AIamiyah (Global Islamic Media Front), dan  Mimbar at-Tauhid wa al-Jihad), hlm. 52-54.

Penulis: 'Athiyyatullah Al Libbi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umar
  1. Beranda
  2. /
  3. Akidah
  4. /
  5. Fikih
  6. /
  7. Sikap Ulama terhadap Ibnu 'Arabi