Sejarah Panjang Pengkhianatan ‘Arab Sa‘udi
Sejarah Panjang Pengkhianatan ‘Arab Sa‘udi
Sejarah Panjang Pengkhianatan ‘Arab Sa‘udi
Oleh Syaikh Dr. Aiman bin Muhammad azh-Zhawahiri
Saudara-saudaraku kaum muslimin dan mujahidin…
Semua orang mengikuti berita Konferensi Riyadh terbaru, yang dilanjutkan dengan pengumuman Arab Saudi tentang pembentukan aliansi untuk memerangi apa yang dinamakan terorisme, sebagai bentuk pelayanan atas kepentingan-kepentingan Tuan Besar Amerika. Dua tindakan Arab Saudi tersebut tidak lain hanyalah dua episode dalam serial upaya-upaya Arab Saudi dan negara-negara keji semisalnya untuk menyelewengkan perjalanan jihad secara umum dan perjalanan jihad Suriah secara khusus dari jalannya yang lurus, untuk kemudian menceburkannya dalam lumpur negara nasionalis. Kemudian mengubahnya sebagai sebuah hibah yang gagal, sama persis sebagaimana yang mereka lakukan terhadap hibah-hibah dan perlawanan-perlawanan rakyat yang mereka namakan Arab Spring.
Oleh karena itu saya menyerukan kepada saudara-saudaraku mujahidin di negeri jihad dan ribath Syam, hendaklah mereka mewaspadai Pemerintah Arab Saudi yang keji ini, dan janganlah mereka sekali-kali melupakan sejarah keburukan Pemerintah Arab Saudi demi melayani musuh-musuh Islam.
Abdul Aziz Alu Sa’ud (pendiri Kerajaan Arab Saudi modern, edt) adalah orang yang menandatangani Treaty of Darin [1] dengan Inggris pada tahun 1915 M, saat Inggris tengah menerjuni Perang Dunia I melawan Daulah Utsmaniyah. Kedua belah pihak sepakat bahwa Inggris akan melindungi kekuasaan Abdul Aziz Alu Sa’ud, dengan imbalan Abdul Aziz Alu Sa’ud berjanji tidak akan mengikat kerjasama atau perjanjian damai dengan negara asing manapun selain Inggris. Sasaran tembak utama dari perjanjian itu adalah Daulah Utsmaniyah.
Ketika meletus revolusi terbesar rakyat di Palestina (melawan penjajah Inggris dan geng-geng teroris zionis, edt) pada tahun 1936 M, Abdul Aziz Alu Saud (saat itu sudah menjadi Raja Arab Saudi, edt) mengutus kedua orang putranya untuk menenangkan revolusi tersebut. Bersama dengan Raja Ghazi dan Amir Abdullah, Abdul Aziz mengirimkan pernyataan sikap yang terkenal dalam sejarah.
Dalam pernyataan itu Abdul Aziz Alu Saud mengatakan kepada rakyat Palestina, “Kami merasakan kesedihan yang dalam atas kekacauan yang melanda Palestina. Maka kami bersepakat dengan saudara- saudara kami, para raja Arab dan Amir Abdullah, kami mengajak kalian untuk kembali bersikap tenang demi mencegah pertumpahan darah. Kita bersandar kepada kebaikan niat negara sahabat kita, Inggris, dan keinginannya yang telah diumumkan untuk menegakkan keadilan. Percayalah, kami akan terus berupaya untuk membantu kalian.”
Dengan cara itu, rakyat Palestina dikelabui, dan revolusi melawan penjajah Inggris di Palestina pun padam.
Dengan berakhirnya Perang Dunia Kedua, Abdul Aziz Alu Saud menemui Rosevelt (Franklin D. Rosevelt, Presiden AS, edt) pada 1945 untuk mengalihkan loyalitasnya dari Inggris kepada Amerika. Abdul Aziz Alu Saud menyerahkan kekayaan alam Jazirah Arab, dan hak mengelola tanah dan udara Jazirah Arab kepada Amerika. Sebagai imbalannya, Amerika menjamin kelanggengan kekuasaan atas Jazirah Arab bagi anak keturunan Abdul Aziz Alu Saud.
Pengkhianatan demi pengkhianatan Kerajaan Arab Saudi terus berlanjut. Ketika jihad Afghanistan melawan komunis Rusia hampir meraih kemenangan, Arab Saudi dan Pakistan melakukan intervensi untuk membentuk pemerintahan mujahidin di bawah kepemimpinan (Shibghatullah) Mujaddidi, agen Amerika hari ini di Kabul.
Kemudian Pemerintah Arab Saudi merancang usaha pembunuhan terhadap Syaikh Usamah bin Ladin di Pakistan, sehingga beliau berhijrah ke Sudan. Lalu Pemerintah Arab Saudi menekan Sudan untuk mengusir Syaikh Usamah bin Ladin dan rekan-rekannya dari Sudan.
Ketika Syaikh Usamah bin Ladin menjadi tamu Syaikh Yunus Khalis di Jalalabad, Pemerintah Arab Saudi menuntut Syaikh Yunus untuk mengusir Syaikh Usamah.
Pemerintah Arab Saudi kemudian berulang kali menuntut Taliban agar mengusir Syaikh Usamah bin Ladin dan rekan-rekannya, atau menyerahkannya kepada Amerika. Bahkan, Pangeran Turki Al-Faishal datang sendiri ke Kandahar menuntut Mulla Muhammad Umar untuk mengusir Syaikh Usamah bin Ladin dan rekan-rekannya. Namun Mulla Muhammad Umar justru mengusir Pangeran Turki Al-Faishal dan mengucapkan perkataan yang tegas kepadanya.
Ketika terjadi perang saudara di Sudan, Pemerintah Arab Saudi memasok senjata bagi John Garang (Pemberontak Kristen di Sudan Selatan, edt). Ketika terjadi perang saudara di Yaman, Pemerintah Saudi juga memasok senjata bagi pemberontak komunis di Yaman selatan.
Lalu Raja Fahd, kemudian Raja Abdullah, mengeluarkan Proposal “Perdamaian” yang keji, yang berisi penyerahan diri terhadap hak penjajah Israel atas wilayah Palestina yang mereka duduki sebelum Perang 1967 M.
Dari pangkalan-pangkalan militer di Arab Saudi pula pesawat-pesawat tempur Salibis (AS dan NATO) berangkat, untuk membombardir Irak dan Afghanistan, dan pada hari ini membombardir Suriah dan Irak.
Ketika terjadi revolusi rakyat di negara-negara Arab, pemerintah Arab Saudi justru menampung Zaenal Abidin (diktator Tunisia yang jatuh oleh revolusi rakyat, edt), dan juga berkonspirasi untuk mengangkat Abdu Rabbih Manshur Hadi wakil presiden terguling sebagai presiden baru Yaman menggantikan presiden terguling (Ali Abdullah Saleh, edt). Arab Saudi juga menjadi pendukung utama kudeta militer pimpinan Abdel Fattah As-Sisi terhadap pemerintahan Ikhwanul Muslimin (Presiden Muhammad Mursi di Mesir, edt).
Konspirasi Jahat Rezim Arab Saudi Terhadap Jihad di Syam
Peran yang keji ini sejak dahulu senantiasa dilakukan oleh Pemerintah Arab Saudi, sampai hari ini, terhadap jihad dan mujahidin.
Pada saat ini Pemerintah Arab Saudi berupaya untuk menimbulkan fitnah (perpecahan) di antara mujahidin di Syam, mengulang peran kejinya dahulu di Afghanistan, dengan harapan barisan jihad di Syam akan terpecah-belah, sehingga negeri Syam dikuasai oleh “agen-agen” seperti Mujaddidi, Abdu Rabbih Manshur Hadi, As-Sisi, Al-Baji, dan Qayid As-Sabsi, demi melayani kepentingan-kepentingan Amerika dan menjaga keamanan Israel.
Wahai para mujahidin…
Di hadapan kalian ada pengalaman-pengalaman yang berbicara dan peristiwa-peristiwa sejarah yang bercerita kepada kalian. Arab Saudi tidak berupaya kecuali untuk meruntuhkan Syam, menjaga keamanan Israel, dan mengaborsi upaya apapun yang bertujuan menegakkan pemerintahan Islam di Syam. Maka waspadailah Arab Saudi! Waspadailah konspirasi dalam konferensi-konferensi Arab Saudi!
Seseorang tidak akan mempersembahkan bagi Israel dan Amerika lebih dari apa yang bisa dipersembahkan oleh Muhammad Mursi. Meskipun begitu, mereka tetap saja melengserkannya. Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang berakal!
Arab Saudi sekali-kali tidak akan menyediakan kemerdekaan, kemuliaan, ataupun kejayaan, karena pihak yang tidak memiliki hal itu sudah tentu tidak akan mampu memberikannya kepada orang lain.
Pada hari ini, Pemerintah Arab Saudi dan rezim-rezim sepertinya adalah alat salibis Barat untuk membangun sebuah negara sekularis nasionalis yang tunduk kepada undang-undang internasional, di dunia Islam dan dunia Arab.
Oleh karena itu setiap mujahid pada hari ini harus mewaspadai istilah-istilah seperti negara sipil, multipartai, pluralisme, dan istilah semisalnya. Istilah-istilah itu oleh orang-orang sekuler dikehendaki dengan makna-makna tertentu, yang berujung kepada pencampakan agama, berhukum kepada hawa nafsu manusia, dan mengekor di belakang norma-norma pemuasan kenikmatan dan keuntungan, sebagai referensi dunia modern.
Bersambung…
Ket: [1] Treaty of Darin adalah perjanjian yang ditandatangani oleh penguasa Nejed, Abdul Aziz Alu Sa’ud, dengan wakil pemerintah Inggris, Sir Percy Cox pada tanggal 26 Desember 1915 M di Pulau Darin, Teluk Persia. Isi perjanjian tersebut adalah pertama, wilayah kekuasaan Abdul Aziz Alu Sa’ud menjadi bagian dari wilayah protektorat (perlindungan) Inggris. Kedua, Abdul Aziz Alu Sa’ud tidak menyerang wilayah-wilayah protektorat Inggris lainnya seperti Kuwait dan Qatar. Ketiga, Abdul Aziz Alu Sa’ud sebagai aliansi Inggris setuju berperang melawan Turki Utsmani. Pada tahap pertama Inggris menyerahkan senjata dan dana sebesar 20.000 poundsterling secara tunai kepada Abdul Aziz Alu Saud, untuk menyerang aliansi Turki Utsmani di Arabia timur. Selanjutnya dana tersebut dinaikkan menjadi 60.000 poundsterling. Lihat: http://www.crescent-online.net/2014/01/aal-saud-become-british- agents-4211-articles.html