Kesulitan dan Solusinya
Kesulitan dan Solusinya
Kesulitan dan Solusinya
Oleh Syaikh Muhammad Wail al-Halwani
Segala puji bagi Alloh, sholawat serta salam atas Rasululloh –ShollaAllohu ‘alayhi wa sallam-, atas keluarganya, para Shohabatnya dan orang-orang setelahnya, amma ba’du :
Sesungguhnya seorang hamba akan senantiasa berputar diantara tiga keadaan yang ia tidak terlepas darinya,
Pertama : nikmat-nikmat dari Alloh yang datang secara berturut-turut. Ini pengikatnya adalah bersyukur kepada Alloh agar nikmat tersebut terus berlanjut dan bertambah. Dan mensyukurinya dengan cara mengakuinya di dalam hati, menceritakannya dengan lisan dan menggunakan kenikmatan tersebut untuk hal yang diridhoi Alloh.
Kedua : ujian-ujian yang Alloh timpakan atas hamba-Nya. Yang diwajibkan darinya adalah bersabar, yaitu dengan cara menahan hati dari rasa ketidak relaan, menahan lisan dari mengeluh, dan menahan diri dari perbuatan maksiat, seperti memukul-mukul dan semisal.
Ketiga : dosa-dosa yang ada pada seorang hamba. Ini obatnya adalah istighfar.
Dan sungguh setiap hamba yang berada di dalam keadaan-keadaan ini terdapat beberapa derajat yang berbeda, dan dalam masa-masa seperti ini mereka bertingkat-tingkat, terutama dalam menghadapi ujian dan cobaan, dan sesungguhnya seseorang akan diuji sesuai dengan tingkatan agamanya, semakin imannya kuat maka akan semakin besar ujian yang akan ia dapatkan.
Jika seperti itu, tentu orang yang sedang berjalan di atas jalan jihad fii sabilillah adalah orang yang akan mendapatkan ujian yang paling besar, terkhusus di saat seperti ini, dimana orang-orang kafir bahkan dari kaum musliminin sendiripun menginginkan kehancuran dan kekalahan mujahidin. Dalam masa penuh ujian dan kesulitan seperti ini yang kedatangannya tidak bisa dihindari lagi, lama atau cepatnya ia berlalu, ini semua merupakan sunnah Alloh atas hamba-hambanya, Alloh berfirman :
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”[Qs. Al-Ankabut : 2]
Oleh sebab itu seorang mujahid harus memiliki bekal yang dapat membantunya agar bisa tetap bertahan, dan harus memiliki penolong yang bisa memegang tangannya untuk membantu menyeberangi masa-masa sulit tersebut ke titik aman dengan tetap menjaga pahala sabar yang akan diperoleh darinya.
Betapa banyak hal yang bisa membantu kita untuk menghadapi masa-masa tersebut dari syari’at dan agama kita. Saya akan mencukupkan dengan menyebutkan sebuah kalimat yang dahulu Nabi –ShollaAllohu ‘alayhi wa sallam- mengucapkannya ketika ia mendapatkan kesulitan. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwasannya Nabi –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- ketika mendapatkan kesulitan membaca :
لَا إلٰهَ إلَّا اللهُ العَظِيمُ الحَلِيمِ، لَا إلٰهَ إلَّا اللهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ، لَا إلٰهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَ رَبُّ الأَرْضِ وَ رَبُّ العَرْشِ الكَرِيْمِ
“tidak ada ilah kecuali Alloh yang Maha Agung dan Maha Penyantun, tidak ada ilah kecuali Alloh yang menguasai ‘Arsy yang Agung, tidak ada ilah kecuali Alloh yang menguasai tujuh langit, menguasai bumi dan menguasai ‘Arsy yang mulia.” [Muttafaq ‘alayh]
Sesungguhnya bagi siapa yang merenungi kalimat tersebut secara kesuluruan, maka ia akan mendapati bahwasannya yang terkumpul dan tergabung diantara kalimat tersebut ialah kalimat yang mentauhidkan Alloh subhanahu wa ta’ala, tauhid Uluhiyah terkandung dalam kalimat (لَا إلٰهَ إلَّا اللهُ) “tidak ada ilah kecuali Alloh “ tauhid Rububiyah dalam kalimat (رَبُّ العَرْشِ الكَرِيْمِ) “yang menguasai ‘Arsy yang mulia” dan tauhid Al-Asma’ Wash-Shifat dalam kalimat (العَظِيمُ الحَلِيمِ) “yang Maha Agung dan Maha Penyantun”. Tauhid inilah yang menjadi tempat kembalinya musuh-musuh Alloh untuk membukakan kesulitan-kesulitan dunia, Alloh ta’ala berfirman ketika menceritkan tentang-orang-orang kafir :
فَإِذَا رَكِبُواْ فِي ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ ٦٥
“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alloh).” [QS. Al-Ankabut : 65]
Adapun wali-wali Alloh mereka bersegera menghadap Alloh dengan mentauhidkan-Nya agar Alloh memberikan kelapangan dari kesulitan-kesulitan dunia dan dari kerasnya adzab akhirat.
Hadits ini datang dengan lafazh pemberitahuan, yaitu tercakup padanya perintah yang apabila seorang hamba terjebak dalam kesulitan, maka yang dituntut darinya adalah membaca لَا إلٰهَ إلَّا اللهُ … (hingga akhir).”
Sifat Alloh ta’ala (العَظِيمُ) “yang maha Agung” menunjukan kesempurnaan kekuatan dan kemampuan-Nya untuk memberikan kelapangan terhadap kesulitan dan mengangkat bala. Dan sifat Alloh ta’ala (الحَلِيمِ) “yang maha Penyantun” menunjukan kesempurnaan kasih sayang, kebaikan dan pemaaf-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, dan terkumpulnya dua sifat dalam satu kalimat ini merupakan hal terbesar yang bisa membantu seorang hamba untuk menghilangkan kesulitannya dan meghapus kegundahannya.
Ibnu Qayyim –rohimahulloh- berkata : “pengetahuan hati terhadap hal tersebut dapat menghantarkan kepada kecintaan kepada-Nya, memuliakan dan mentauhidkan-Nya yang hal tersebut memberikan kebahagiaan, kenikmatan dan kegembiraan yang bisa menghilangkan sakitnya suatu kesulitan, kesedihan dan kegundahan.” [Zaadul Ma’ad : 4/185]
Kita memohon kepada Alloh dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi untuk menghilangkan kesedihan kita, melapangkan kesulitan kita, mengaruniakan kita kesabaran terhadap masalah-masalah di dunia dan musibah-musibahnya, dan kita berharap kepada Alloh agar Ia menyegerakan pertolongan terhadap wali-wali-Nya, dan kemenangan atas musuh-musuh-Nya, sesungguhnya Alloh sebaik-baiknya tempat berlindung dan sebaik-baiknya penolong.
Penulis: Maisarah Al Gharib
Penerjemah: Hajra Alim