Menimbang Gerakan Thaliban
Menimbang Gerakan Thaliban
Menimbang Gerakan Thaliban
Oleh Syaikh ‘Athiyyatullah al-Libi
Thaliban adalah gerakan yang berpegang teguh terhadap syariat dan memiliki ghirah untuk mengamalkan ajaran Islam, berkemauan kuat untuk meraih, menegakkan dan menyebarkan kebaikan serta ishlah melalui jalur politik maupun sosial.
Ia tumbuh secara spontan dan tidak terencanakan sebelumnya, kemudian bertumbuh dan berkembang seiring dengan keadaan sosial, politik dan moral di sekitarnya yang kacau dan rusak, lalu masyarakat mulai merasa simpati kepadanya, mencari dukungan untuk kelangsungannya, membuka wilayah-wilayah mereka untuknya, dan menyambutnya dengan hangat. Allah membukakan hati masyarakat untuk menerimanya. Karena kegeraman masyarakat terhadap kezhaliman partai-partai dan para komandan perang, para pemimpin yang korup dan suka memeras rakyat serta berbagai kejahatan dan kerusakan yang mencengangkan dan kekacauan serta ketidakamanan.
Mereka (gerakan Thaliban, atau kumpulan para pelajar ilmu syariat) adalah orang-orang baik, dekat dengan agama, kuat memegang syariat, semangat dalam menjalankan ajaran agama, giat melakukan amar makruf nahi mungkar, menjadi pelopor untuk memperbaiki keadaan dan menegakkan hukum syariat, masyarakat menilai mereka sebagai orang-orang yang bertekad untuk menyelamatkan masyarakat dari kenyataan hidup yang pahit dan kelam.
Kemudian sedikit demi sedikit mereka mulai bisa mengadaptasikan kegiatan mereka dengan situasi dan kondisi yang ada, serta mulai jelas arahnya, para pemimpinnya juga mempunyai cita-cita yang tinggi, dan berkat ketulusan dan keikhlasan mereka dalam beramal, Allah pun mengkaruniakan pertolongan, bantuan dan petunjuk-Nya kepada mereka, sehingga mereka mampu menaklukkan mayoritas wilayah dan mendirikan negara.
Gerakan ini adalah gerakan tradisional, artinya ia adalah gerakan yang memegang teguh madzhab Hanafi khususnya ajaran Deobandi, gerakan ini masih memerlukan beberapa pembaharuan ideologi, karena pola ideologinya tidak sama dengan pola gerakan-gerakan salafi dan Islam modern yang biasanya berideologi Islam dan berorientasi kepada revolusi, kemerdekaan dan kebebasan seperti Ikhwanul Muslimin dan gerakan-gerakan serupa lainnya.
Namun gerakan ini mempunyai nilai plus tersendiri, mereka adalah orang yang taat beragama, bertaqwa, dan berkomitmen serta mengagungkan syariat, setidaknya itu yang saya lihat dari diri para pemimpinnya yang merupakan tulang punggung dan pemegang keputusan di dalam gerakan ini.
Untungnya Allah menganugerahkan gerakan ini para komandan yang kualitasnya nomor satu, yaitu kualitas sekelas Imaduddin Zanki, Shalahuddin Al Ayyubi, Mahmud Al Ghaznawi dan para pahlawan lainnya. Mereka adalah sosok-sosok yang tulus, ikhlas, memegang erat agama, yakin kepada Allah, berkomitmen kepada syariat, bertaqwa, wara’, senantiasa menjaga batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Allah, berorientasi akhirat, tidak terlena dengan dunia dan hidup sederhana (walau sebenarnya mereka mampu).
Belum lagi dengan karakter-karakter luhur mereka yang lain seperti berani, tegar, mulia, suka berkorban dan memberi, rendah hati, sederhana.
Belum lagi dengan karakter-karakter luhur mereka yang lain seperti berani, tegar, mulia, suka berkorban dan memberi, rendah hati, sederhana, semangat, suka membantu, dan berbudi luhur. Saya harap deskripsi saya mengenai Thaliban ini dapat memberikan manfaat. Gerakan ini sama seperti gerakan dan organisasi lainnya, ia masih jauh dari kata sempurna, dan tentu saja ia memiliki kekurangan dan kecacatan.
Di dalamnya terdapat kebaikan dan keburukan, yang bergabung pula ada yang baik dan ada pula yang buruk perangainya, kita terbiasa menilai sesuatu dari hal yang paling dominan darinya, dan Thaliban dikenal dengan kelompok yang anggota dan simpatisannya paling banyak, paling kuat dan paling berpengaruh, secara umum Thaliban ini adalah kelompok yang baik dan insyaa Allah diberkahi, kelompok yang menebar keadilan, menegakkan sistem pemerintahan agama dan syariat, mengamankan negeri, membuat para hamba Allah hidup dengan nyaman, sehingga negeri itu pun berjalan dengan baik, sektor perdagangan berkembang, dan keberkahan pun menjadi berlimpah.
Bahkan saking aman dan tenteramnya, ketika waktu adzan tiba, para pekerja jasa penukaran uang asing di trotoar kota Kabul dan Kandahar akan langsung menunjuk salah seorang dari mereka [Thaliban] untuk menjaga uang-uang yang tergeletak di atas sorban atau kain lainnya kemudian orang tadi pergi mendirikan shalat. Ia tidak merasa khawatir terhadap pencurian dan perampokan.
Mereka juga sangat memperhatikan sekolah dan pendidikan, karena mereka adalah orang yang taat beragama dan mengerti bahwa ilmu itu sangat bernilai. Mereka juga patut dibanggakan dan dipuji karena sikap mereka yang selalu menolong para Mujahidin dan menjadikan Syaikh Usamah bin Laden beserta para sahabat beliau sebagai panutan, mereka rela berkorban untuk para masyayikh itu.
Adapun mengenai kekurangan Thaliban, memang tidak dipungkiri bahwa gerakan ini mempunyai kekurangan, sebagian darinya adalah kesalahan syar’i yang timbul akibat komitmen sempit mereka terhadap suatu madzhab fiqh atau aqidah. Dan kami berharap semoga kesalahan mereka itu dimaafkan Insyaa Allah, karena memang hanya sampai sedemikian pemahaman agama mereka, dan juga karena ada beberapa persoalan yang belum mampu mereka carikan solusinya, belum mampu mempelajarinya dan tidak mereka ketahui dengan baik.
Contohnya adalah ketika mereka berupaya untuk mendaftarkan diri ke PBB, namun setelah mereka mengetahui bahwa hal itu keliru, mereka langsung menghentikan upaya itu, alhamdulillah. Contoh lain adalah hubungan antar negara yang mereka jalin, di dalamnya terdapat kelemahan dari segi komitmen terhadap nilai-nilai syariat. Contoh lain lagi adalah dalam penerapan amar ma’ruf dan nahyi munkar, masyarakat masih terpaksa untuk berpegang teguh kepada hukum syariat, sebagiannya masih ada beberapa pendapat dan kebanyakan darinya masih bisa diijtihadi.
Kekurangan mereka yang lain adalah kurang mempunyai kesadaran dan skill, serta kurang faham urusan dunia, agama, politik, dan yang sejenisnya. Yang kami bicarakan di sini adalah kekurangan yang ada secara umum bukan individunya. Begitu pula dalam urusan perencanaan peperangan dan pembuatan strategi, para ikhwah Arab sering kali membantu mereka namun mereka masih saja belum berhasil mengubah metode peperangan mereka yang tradisional dan kurang matang. Padahal para ikhwah Arab mempunyai skill yang tinggi dan ide yang matang dalam menjalani peperangan, membuat strategi dan merencanakan taktik.
Di antara kekurangan lainnya adalah, gerakan ini dimasuki oleh orang-orang yang tidak baik, mereka bergabung karena faktor suku dan faktor bangsa Pashtun, terutama dari daerah Kandahar, Ghazni, dan Helmand. Mereka bukanlah orang-orang yang relijius dan baik, mereka dianggap Thaliban hanya karena mereka mengenakan sorban hitam, mereka bergabung dengan Thaliban berdasarkan prinsip kesukuan, mereka adalah penyebab terjadinya kerusakan di dalam tubuh Thaliban dan negaranya.
Mereka mencemarkan reputasi Thaliban dengan melakukan kezhaliman terhadap masyarakat terutama di ibukota Kabul. Sebagian dari mereka adalah orang-orang zhalim yang suka merusak, sebagian dari mereka adalah orang-orang cinta dunia dan suka menumpuk harta, mereka adalah orang-orang yang sombong, arogan dan suka membangga-banggakan bangsa Pashtun.
Thaliban memiliki sistem peradilan yang berlandaskan syariat dan telah berdiri dengan sempurna. Tentunya syariat yang mereka terapkan adalah syariat yang mereka fahami dari madzhab Hanafi.
Sebagian ikhwah memaklumi sebagian kesalahan mereka yang kami singgung di atas, dikarenakan kondisi yang mereka alami, dan tuntutan sosial yang sulit mereka atasi. Namun, saya kira ke depannya kondisi mereka akan menjadi lebih baik, wallahu a’lam.
Walaupun gerakan ini adalah gerakan agama, sering kali sentimen kesukuan menjadi faktor terkuat yang menjalankan gerakan ini. Namun, kami tidak ingin menyamaratakan stigma ini, apalagi di tingkat pimpinan pusat dan pelaksana, jadi selalu ada pengecualian pada segala sesuatunya.
Suku Pashtun dan Qandahariyah adalah suku yang tamak terhadap segala sesuatu, namun kondisi mereka telah mengalami kemajuan yang signifikan. Mereka kini memberikan loyalitasnya kepada Thaliban, mereka membanggakan nama Thaliban, mereka mengenakan sorban hitam yang bahkan hari ini telah menjadi semacam kewajiban dan adat mereka. Di dalam Thaliban juga ada gerakan lain selain gerakan utama yang sudah ada, di dalamnya ada yang baik dan ada pula yang tidak baik.
Namun Allah memuliakan Thaliban berkat kebaikan para pemimpinnya, terutama Mulla Muhammad Umar Hafizhahullah beserta saudara-saudara beliau yaitu para komandan senior. Jadi ini adalah pendapat umum saya mengenai Thaliban, tidak diragukan lagi bahwa secara umum ia adalah gerakan yang baik, dan kebaikannya mampu menutupi keburukannya sebagaimana yang telah kami sampaikan.
Kini setelah mendapatkan pengalaman yang besar, kami berharap semoga Allah menyaring mereka sehingga mereka menjadi bertambah baik dan mulia, hubungan mereka dengan para ikhwah Arab Al-Qaeda dan jamaah lainnya kini bertambah baik.
Karenanya kami katakan jika Allah memudahkan mereka untuk memperbaiki keadaan, maka mereka akan menjadi lebih mulia dan lebih baik, dengan izin Allah. Saya akan menyebutkan beberapa manfaat yang bisa diambil dari pengalaman yang mahal ini:
Pengalaman ini menunjukkan bahwa yang penting dari segala sesuatu itu adalah agama, keimanan, tauhid yang sebenar-benarnya, yaitu tauhid dengan mengerjakan ibadah dan menegakan perintah-perintah Allah dengan disertai rasa cinta, takut, penuh harap, merendah, tunduk, khusyuk, sabar, syukur, tawakkal, pengagungan terhadap perintah dan larangan Allah Azza wa Jalla dan lain sebagainya.
Kami menasehatkan kepada kaum Muslimin agar mengulurkan bantuannya kepada saudara-saudara mereka, agama mereka, dan Ummat mereka yang tengah berperang, kaum muslimin wajib bersatu padu untuk melawan pihak lain yang menyerang. Mereka harus saling menolong dan saling menopang. Kita bagaikan bangunan yang kokoh, bagaikan satu tubuh, jika ada satu bagian tubuh yang sakit, maka seluruh badan akan merasakan demam. (sampai di sini perkataan Syaikh Athiyatullah Al Libi)