Silsilah Ilmiah dalam Penjelasan Masalah Manhajiah (1)
Silsilah Ilmiah dalam Penjelasan Masalah Manhajiah (1)
Silsilah Ilmiah dalam Penjelasan Masalah Manhajiah (1)
Oleh Syaikh Abu Muhammad al-Mishri
الحمد لله ربّ العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلّا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلّا الله وحده لا شريك له، الملك الحقّ المبين، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله إمام الأولين والآخرين، أمّا بعد:
Ini adalah siaran berseri dalam penjelasan dan penjabaran sebagian masalah-masalah manhaj dan akidah yang terjadi di dalamnya kebingungan dan kerancuan di kalangan para putra-putra kami dan saudara-saudara kami dari para tentara negara Islam dan seluruh kaum muslimin baik di dalam negara kekhalifahan atau yang ada di luarnya, yang demikian karena disebabkan oleh memorandum dari Komisi Delegasi (Lajnah Mufawwadhah) yang diberi judul dengan ayat,
ﻟِﻴَﻬْﻠِﻚَ ﻣَﻦْ ﻫَﻠَﻚَ ﻋَﻦْ ﺑَﻴِّﻨَﺔٍ ﻭَﻳَﺤْﻴَﻰٰ ﻣَﻦْ ﺣَﻲَّ ﻋَﻦْ ﺑَﻴِّﻨَﺔٍ
“Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata,” yang telah selesai dianulir dan dihentikan pengamalannya karena di dalamnya terdapat kesalahan-kesalahan ilmiah dan manhajiyyah, juga bahasa yang ambigu yang membawa banyak sisi yang menimbulkan terjadinya perselisihan dan bantah-bantahan sehingga sudah menjadi keharusan bagi kami untuk tidak menunda dalam memberikan penjelasan dari waktu yang mana kebutuhan sudah sangat mendesak ini, bahkan telah menjadi hal darurat, itu demi menyatukan kalimat negara, menjalin hati para tentaranya di atas kebenaran, dan agar membuat mereka fokus dalam menahan serangan umat-umat kafir atasnya, serta membela benteng Islam dan kehormatannya.Allah telah memperingatkan kita dari sikap berbantah-bantahan dan perselisihan dengan peringatan yang keras. Allah berfirman,
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْا ؕ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berbantah-bantahan yang menyebabkan kalian menjadi gagal dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”(QS. Al Anfal: 46)
Dan dalam waktu yang sama, Dia memerintahkan kita untuk berjemaah dan mengagungkan masalah ini, Nabi ﷺ bersabda, “Hendaklah kalian berjemaah,” dan beliau ﷺ juga bersabda, “Tangan Allah bersama al jama’ah,” dan juga bersabda, “dan janganlah kalian berpecah belah karena sesungguhnya setan bersama orang yang satu, adapun dari orang yang berdua dia lebih jauh.” Dan disebutkan di dalam hadis yang dikeluarkan oleh At Tirmidzi dan disahihkannya, beliau ﷺ bersabda, “Dan aku perintahkan kalian dengan lima hal yang Allah telah memerintahku dengannya: mendengar, taat, jihad, hijrah, dan jemaah, maka sesungguhnya siapa yang memisahkan diri dari jemaah meski satu jengkal, maka dia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.”
Dan sesungguhnya di antara sebab-sebab fitnah, perselisihan, dan saling berbantah-bantah, adalah sikap meninggalkan i'tisham (berpegang teguh) kepada Alquran dan As Sunnah sesuai pemahaman salaful ummah dan bersandar kepada hawa nafsu dan pendapat-pendapat orang. Allah berfirman,
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا
“Dan berpegang teguhlah pada tali Allah dan janganlah berpecah belah.”(QS. Ali 'Imran: 103)
Dan juga berfirman,
وَكَيْفَ تَكْفُرُوْنَ وَاَنْـتُمْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ اٰيٰتُ اللّٰهِ وَفِيْكُمْ رَسُوْلُهٗ ؕ وَمَنْ يَّعْتَصِمْ بِاللّٰهِ فَقَدْ هُدِيَ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
“Dan bagaimanakah kalian bisa menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? Barang siapa yang berpegang teguh kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”(QS. Ali 'Imran: 101)
Dan bersabda Rasulullah ﷺ, “Aku tinggalkan bagi kalian apa yang jika kalian berpegang teguh dengannya, maka kalian tidak akan tersesat setelah aku tiada: Kitabullah dan sunahku.”
Dan di dalam Shahih Muslim dari hadis Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah meridai bagi kalian tiga hal dan benci terhadap kalian dari tiga hal. Dia rida kepada kalian (dengan) kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, kalian berpegang teguh dengan tali Allah secara bersama-sama dan janganlah berpecah belah, dan saling nasihat-menasihati terhadap siapa yang telah Allah serahkan urusan kalian kepadanya (ulil amri). (Dan Dia murka terhadap kalian dari tiga hal): qila wa qala, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.”
Dan adalah Nabi ﷺ apabila berkhotbah beliau bersabda, “Amma ba'du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ dan seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang baru (bidah).”
Dan berkata Ibnu 'Abbas radhiallahu 'anhuma, “Allah memerintahkan kaum mukminin untuk berjemaah dan melarang mereka dari perselisihan dan berpecah belah dan memberitahukan kepada mereka bahwa sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum mereka tidak lain adalah perdebatan, persengketaan dalam agama Allah Ta’ala.”
Dan dari seorang tabi'in yang mulia, Ibnu Syihab Az Zuhri, dia berkata, “Adalah orang-orang yang telah berlalu dari para ulama-ulama kami, mereka mengatakan bahwa berpegang teguh dengan sunah adalah keselamatan.”
Dan berkata Imam Al Auza’i rahimahullah, “Hendaknya kalian berpegang dengan atsar (peninggalan) orang-orang salaf meski manusia menolakmu dan janganlah kalian mengikuti pendapat orang-orang meski manusia menghiasinya untukmu dengan kata-kata karena sesungguhnya urusannya jelas(ketika dia menjadi jelas) dan engkau di atas jalan yang lurus.”
Dan berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, “Dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengikuti Al Kitab dan As Sunnah, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengkuti kebenaran dan menyayangi makhluk.”
Dan dia juga berkata, “Fitnah dan pepecahan tidak akan terjadi, kecuali karena sikap meninggalkan apa yang telah Allah perintahkan dan Allah telah memerintahkan dengan al haqq, berlaku adil, dan memerintah berlaku sabar, maka fitnah terjadi karena meninggalkan al haqq atau meninggalkan kesabaran.”
Dan di antara sebab perselisihan dan berbantah-bantahan adalah tidak bisa membedakan antara sunah dan bidah oleh sebagian orang-orang junior yang menisbatkan diri kepada ilmu, setengah belajar, yang menjadikan diri mereka layaknya di barisan para imam mujtahid, sehingga engkau temui salah satu dari mereka mengklaim bahwa dia orang yang mendapat petunjuk dan menyangka bahwa sunah ada padanya dan siapa yang menyelisihinya adalah sesat dan ahli bidah atau bisa jadi kafir, sehingga tumbuhlah dari itu perpecahan dan keburukan yang hanya Allah yang tahu, padahal sunah adalah apa yang telah Allah dan Rasul-Nya perintahkan dan bidah adalah apa yang tidak Allah syariatkan dari agama, dan Allah telah berfirman,
فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”(QS. An Nahl: 43)
Dan diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim, dari ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash radhiallahu ‘anhuma bahwa dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari para hamba dalam sekali cabut, akan tetapi menahannya dengan mewafatkan para ulama hingga ketika tidak tersisa orang yang berilmu, maka manusia menjadikan para pemimpin kebodohan yang kemudian mereka ditanya dan memberikan fatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”
Dan dari Muhammad ibn Sirin rahimahullah, dia berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Dan di antara sifat para kepala kesesatan ahli bidah adalah mereka membumbui kebatilan mereka dengan istilah-istilah syariat yang merdu, seperti menjaga benteng tauhid, millah Ibrahim, tauhid murni, dan istilah-istilah lainnya, seperti yang pernah dikatakan oleh Khawarij kepada 'Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, “Tidak ada hukum, kecuali milik Allah,” dan mereka juga berkata, “kita tidak berhukum kepada laki-laki, kita ingin hukum Allah.” Perkataan-perkataan ini tidak laku bagi ahli ilmu, sebagaimana tidak lakunya dinar palsu bagi penukar uang yang cerdas, dan 'Ali radhiallahu ‘anhu telah paham maksud dari perkataan Al Haruriyyah ini sehingga tidak laku baginya perkataan mereka, “Tidak ada hukum, kecuali milik Allah,” sebagaimana laku kerasnya perkataan ini bagi orang-orang bodoh, di mana 'Ali radhiallahu ‘anhu berkata, “tidak ada hukum, kecuali milik Allah. Sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkanmu. Apakah yang kalian ketehui dari apa yang dikatakan oleh mereka? Mereka sebenarnya mengatakan, ‘tidak ada kepemimpinan,’ wahai, manusia, sesungguhnya tidak ada yang membuat kalian baik, kecuali amir, baik atau pun fajir.”
Dan di dalam Shahih Muslim dari ‘Ubaidillah bin Abi Rafi’ maula Rasulillah ﷺ, bahwa orang-orang Haruriyyah ketika muncul dan mereka bersama 'Ali ibn Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, mereka berkata, “Tidak ada hukum, kecuali milik Allah.” 'Ali berkata, “Kalimat haqq, tapi dimaksudkan untuk kebatilan. Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah menyifati segolongan manusia yang sungguh aku mengetahui sifat-sifat mereka ada pada orang-orang ini, mereka mengatakan kebenaran dengan lisan mereka, tapi tidak melewati ini dari mereka (sambil menunjuk ke arah lehernya). Mereka adalah makhluk yang paling dimurkai oleh Allah.”
An Nawawi rahimahullah berkata, “Perkataannya ‘Kalimat haqq, tapi dimaksudkan untuk kebatilan,’ artinya adalah bahwa kata-kata ini asalnya adalah benar, Allah berfirman,
اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ
‘Sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah,’ (QS. Yusuf: 40) akan tetapi mereka hanya ingin mengingkari 'Ali radhiallahu ‘anhu dengan kata-kata ini dalam tahkimnya.”
Oleh karena itu, wajib bagi seorang pencari kebenaran untuk mencari kebenaran itu dari sumbernya, bukan dari para murjifin (pembuat onar) yang setengah terpelajar, tidak juga dari para ulama sesat, dan bahwasanya Sufyan ibn ‘Uyainah dan yang lainnya dari para ulama seperti Imam Ahmad dan ‘Abdullah ibnul Mubarak mengatakan, “Jika manusia berselisih, maka lihatlah apa yang dipegang oleh ahluts tsughur karena sesungguhnya Allah berfirman,
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
‘Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.’
(QS Al 'Ankabut: 69)”
Maka bagaimana bisa engkau, saudara mujahid, meninggalkan ahluts tsughur dari para ulama yang telah berangkat berperang menuju negeri jihad dan Islam, bagaimana bisa engkau meninggalkan mata air yang jernih ini, lalu pergi untuk mengambil agamamu dari para qa’idun (orang-orang yang duduk tidak berjihad) yang ada di pangkuan para tagut Jazirah 'Arab dan selainnya yang tidak mengafirkan mereka, tidak juga mengingkari mereka, berbaur dengan para tentaranya, pasukan keamanannya, para intelijennya, tanpa menjelaskan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat dari pembatal-pembatal keislaman, dan janganlah engkau tertipu, hai, saudaraku, lantaran tagut memenjarakan salah seorang dari mereka karena bisa jadi itu adalah pemoles dan pembuat masyhur untuknya dan kata-katanya dan untuk memasukkannya ke dalam barisan ikhwah di dalam penjara agar menimbulkan keruwetan berpikir dan melontarkan syubhat-syubhat di antara mereka, padahal mereka telah memiliki kesempatan luas (jika mereka memang orang-orang yang benar dan jujur) untuk pergi berperang ke negeri jihad dan berhijrah ke negeri Islam karena sesungguhnya para tagut yang melindungi orang-orang semacam mereka dari orang-orang yang berpandangan ghuluw dalam takfir dan membiarkan mereka memperdagangkan bidah mereka adalah tagut yang sama yang melindungi orang-orang Jahmiyyah dan Murji’ah dan yang menolong mereka melariskan bidah mereka, yang demikian tidak lain karena dua sisi dari dua manhaj ini sama-sama mengarah kepada hasil yang satu, yaitu menikam ahlul haqq dan meninggalkan hijrah dan jihad di jalan Allah.
Saudara mujahidku, bagaimana mungkin setelah engkau diselamatkan oleh Allah dari jaring-jaring ulama tagut para ahlul irja’, engkau kembali dan jatuh ke dalam jaring-jaring ulama tagut yang memasarkan pandangan ghuluw dan sumber dari syubhat agar membuatmu duduk dari jihad dan mengembalikanmu dari hijrahmu sehingga selamatlah para majikan mereka para musuh Allah dari pukulanmu, telah berkata sebagian salaf, “Tidaklah Allah memerintahkan dengan sesuatu, kecuali setan memiliki dua cara (untuk memalingkan manusia darinya): entah dengan ghuluw (berlebih-lebihan) atau dengan taqshir (meremehkan), dan dengan yang mana pun dari keduanya setan itu berhasil, maka dia puas.”
Bagaimana engkau akan meninggalkan ilmu orang yang memanggul senjata bersamamu, berperang bersamamu di barisan, dari kalangan ahli ilmu dan fikih (yang kami maksud bukan mereka yang setengah belajar) dan menyerahkan akal dan pikiranmu kepada siapa yang tidak bisa menyelamatkan agamanya, dia hidup dengan nyaman dan selamat, menyerahkan diri kepada para tagut, dan membuat-buat teori untukmu dari jauh.
Sebab ketiga dari sebab-sebab perselisihan dan berbantah-bantahan adalah sikap berlebih-lebihan (al baghyu). Dikatakan Fulan bersikap baghyu kepada Fulan, artinya Fulan menyerang si Fulan dengan perkataan atau perbuatan dan melampaui batasnya. Allah berfirman,
وَمَا تَفَرَّقُوْۤا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ
“Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan karena sikap melampaui batas di antara mereka.”(QS. Asy Syura: 14)
Allah juga berfirman,
فَمَا اخْتَلَفُوْۤا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْعِلْمُ ۙ بَغْيًاۢ بَيْنَهُم
“Maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena sikap melampaui batas yang ada di antara mereka.”(QS. Al Jatsiah: 17)
كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةً ۙ فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۖ وَاَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتٰبَ بِالْحَـقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ ؕ وَمَا اخْتَلَفَ فِيْهِ اِلَّا الَّذِيْنَ اُوْتُوْهُ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْ ۚ فَهَدَى اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنَ الْحَـقِّ بِاِذْنِهٖ ؕ وَاللّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
“Manusia itu dahulu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata karena sikap melampaui batas di antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”(QS. Al Baqarah: 213)
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, “Ijtihad yang dibolehkan tidak akan mencapai derajat fitnah dan perpecahan, kecuali dibarengi sikap baghyu (melampaui batas), bukan murni ijtihad, tidak akan terjadi fitnah dan perpecahan dengan adanya ijtihad yang diperbolehkan, akan tetapi itu terjadi jika dibarengi unsur baghyu dan setiap sesuatu yang menimbulkan fitnah dan perpecahan bukanlah bukan dari agama, baik itu perkataan atau perbuatan.”
Beliau juga mengatakan, “Dan kebanyakan apa yang terjadi perselisihan di dalamnya di kalangan golongan kaum mukminin dari masalah-masalah usul dan yang lainnya dalam bab sifat, kadar, imamah, dan lainnya, adalah masuk ke dalam bab ini, di dalamnya ada mujtahid yang benar dan di dalamnya ada juga mujtahid yang keliru dan mujtahid yang keliru ini menjadi orang yang bersikap baghyu (melampaui batas) dan di dalamnya juga ada orang yang bersikap baghyu tanpa berijtihad dan ada juga yang kurang dalam apa yang diperintahkan baginya dari sikap sabar.”
Dan di antara sikap baghyu ini adalah mengecap keburukan terhadap orang yang menyelisihi, mencurigai niatnya, dan melemparkan tuduhan kepada muslim dengan kafir dan bidah secara zalim dan berlebih-lebihan, membabi buta tanpa bukti. Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya, dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu 'anhu, dia menceritakan kepadanya, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
(إن مما أتخوف عليكم رجل قرأ القرآن، حتى إذا رؤيت بهجته عليه وكان رداؤه الإسلام اعتراه إلى ما شاء الله انسلخ منه ونبذه وراء ظهره وسعى على جاره بالسيف ورماه بالشرك)، قال قلت يا نبي الله أيهما أولى بالشرك المرمي أو الرامي؟، قال: (بل الرامي)
“Sesungguhnya di antara hal yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah seseorang yang membaca Al Qur'an hingga ketika dia terlihat kebagusannya di dalamnya (Al Qur'an) dan selendangnya (kebanggaannya) adalah Islam, dia lalu melepaskannya kepada apa yang Allah kehendaki, dia melepaskan diri darinya dan melemparkannya ke belakang punggungnya, serta dia menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya berbuat syirik.” Hudzaifah bertanya, “Wahai, Nabiyullah, antara penuduh dan yang dituduh tersebut mana yang lebih pantas dianggap berbuat syirik?” Nabi bersabda, “Penuduh itu yang lebih pantas.”Berkata Imam Al Ajjuri rahimahullah, “Sesungguhnya Allah dengan karunia dan kemulian-Nya memberitakan kepada kita di dalam kitab-Nya tentang orang-orang sebelum kita yang telah mendapat Al Kitab: Yahudi dan Nashrani, bahwa mereka semua binasa ketika mereka berselisih di dalam agama mereka dan Dia Yang Mahamulia juga memberitahukan kepada kita bahwa apa yang menyeret mereka kepada perpecahan dari pada berjemaah dan condong kepada kebatilan yang telah dilarang tidak lain adalah sikap baghyu dan hasad setelah mereka mengetahui apa yang tidak diketahui oleh kaum yang lain sehingga sikap baghyu dan hasad ini membawa mereka kepada perpecahan sehingga mereka binasa, maka Allah memperingatkan kita agar tidak menjadi seperti mereka sehingga binasa sebagaimana mereka binasa, akan tetapi Allah memerintahkan kita untuk melazimi jemaah dan melarang kita dari perpecahan, begitu juga Nabi ﷺ memperingatkan kita dari perpecahan dan memerintahkan kita untuk berjemaah, begitu juga para imam salaf dari kalangan ulama kaum muslimin, seluruhnya memperingatkan kita untuk melazimi jemaah dan melarang kita dari perpecahan.”
Karena itu kami mengingkari dengan pengingkaran yang sangat kepada siapa yang bersikap baghyu (melampaui batas) sehingga mengafirkan para ulama seperti Ibnu Qudamah Al Maqdisi, An Nawawi, Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, dan lain sebagainya rahimahumullah yang mereka memiliki andil besar terhadap Islam dalam menyebarkan ilmu dan menolong syariat, bahkan kami akan menjaga kedudukan mereka dan mendoakan rahmat untuk mereka serta menguzur apa yang tampak dari kekeliruan dan ketergelinciran mereka.
Asy Sya’bi rahimahullah, salah satu imam dari kalangan tabiin berkata, “Semua umat, ulama mereka adalah yang paling buruk dari mereka, kecuali umat Islam, karena sesungguhnya ulama-ulama mereka adalah yang terbaik dari mereka.”
Dan berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, “Melawan takfir terhadap ulama kaum muslimin meski mereka berbuat keliru adalah termasuk tujuan syariah yang paling berhak.”
Dan berkata Syaikh ‘Abdullah ibn Imamul Mujaddid Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab rahimahullah, “Dan begitu juga kami tidak berpendapat kafirnya siapa yang benar agamanya, terkenal kesalehannya, diketahui sikap warak dan zuhudnya, dan bagus sirahnya, dan nasihatnya sampai kepada umat, mencurahkan jiwanya untuk mengajarkan ilmu yang bermanfaat, dan membuat karya tulis tentangnya, meski mereka keliru dalam masalah ini atau selainnya.”
Penulis: Abu Muhammad Al Mishri, Abu Muslim Al Mishri, Abu Ya'qub Al Maqdisi
Penerjemah: Selotip
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari