data:post.title

Kematian Jamal 'Abdunnashir dan Perkembangan Islam di Mesir

Kematian Jamal 'Abdunnashir dan Perkembangan Islam di Mesir

Kematian Jamal 'Abdunnashir dan Perkembangan Islam di Mesir

Oleh Syaikh Dr. Hani as-Sayyid as-Siba‘i

Presiden Jamal 'Abdunnashir meninggal dunia pada 1970, dan wakilnya, Anwar Sadat, dilantik menggantikannya. Saat itulah dimulai sebuah era baru yang sering disebut sebagai era ―Al-Infitah‖ (keterbukaan). Mesir memberikan ruang bernapas yang lebih lega kepada kelompok-kelompok Islam. Presiden Anwar Sadat berusaha membangun basis dukungan di kalangan rakyat untuk menghadapi musuh-musuh politiknya.

Anwar Sadat membutuhkan kelompok yang memiliki basis dukungan kuat. Kelompok Islam terbesar waktu itu adalah Jamaah Al-Ikhwanul Muslimun[1]. Mereka memiliki basis dukungan sangat besar di dalam negeri yang mayoritas muslim ini. Namun, kebanyakan anggota Al-Ikhwanul Muslimun dipenjarakan oleh Nashir, akhirnya Sadat pun membebaskan mereka.

Jamaah Al-Ikhwanul Muslimun pun mulai aktif lagi, mereka masuk ke dalam perkampungan dan merekrut tokoh-tokoh masyarakat. Mereka juga aktif berkecimpung di berbagai uni-versitas, perusahaan, dan koperasi di Mesir. Di ruang pemikiran, mereka mengeluarkan buku-buku yang mengecam Gamal Abdul Nasser dan menyingkap kebobrokan pemerintahannya. Atmosfer politik Mesir pun berubah. Jika di era 1960-an, umat Islam mengalami kemunduran yang parah. Syariat Islam ditinggalkan dalam kehidupan masyarakat.[2]

Setelah masa Sadat, banyak perempuan yang memakai jilbab dan nikab (cadar), para pria mulai memanjangkan jenggot dan mengenakan baju gamis menggantikan baju ala Eropa.

Berdirinya Jamaah Islamiyah

Jamaah Al-Ikhwanul Muslimun mulai memelopori pelaksanaan berbagai syari‘at Islam waktu itu. Namun, Anwar Sadat tidak suka kalau jamaah ini masuk ke kampus-kampus di Mesir dengan membawa nama Jamaah Al-Ikhwanul Muslimun. Dipakailah nama yang baru, yaitu Jamaah Islamiyah. Al-Ikhwanul Muslimun masuk dalam organisasi ―Persatuan Mahasiswa dan Pelajar Mesir[3] dengan ini memakai nama Jamaah Islamiyah, hal ini supaya mereka diterima oleh pemerintah dan tidak dilarang seperti ketika nama ―Al-Ikhwanul Muslimun digunakan.

Jamaah Islamiyah mulai menerbitkan pelbagai judul buku dan media, seperti ―Shaut Al-Haq dan ―Shaut Al-Jama‘ah Al-Islamiyya. Melalui organisasi ―Persatuan Mahasiswa dan Pelajar, jamaah ini mulai menyebar di berbagai universitas. Pada setiap universitas dan fakultas terdapat kepengurusan organisasi tersebut. Para pengurus berkumpul setiap hari Kamis, biasanya di kawasan Al-Qashr Al-Aini, di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo. Tempat ini adalah pusat aktivitas Al-Ikhwan kala itu. Ini terjadi di lapisan bawah, di permukaan yang menonjol adalah nama ―Jamaah Islamiyah, yang didukung oleh Jamaah Al-Ikhwanul Muslimun. Pembinaan jaringan ini tidak hanya dilakukan di ibukota Mesir, Kairo, namun mereka juga aktif melakukan hal yang sama di Universitas Asyuth, di selatan Mesir.

Fase Awal Jamaah Jihad

Pada dekade 1980-an ini pula, di Mesir tumbuh jamaah dan gerakan lain yang bertekad untuk berjihad di jalan Allah. Salah satunya adalah Jamaah Jihad, jamaah ini muncul di bawah pimpinan Dr. Aiman Azh-Zhawahiri, sebagaimana yang saya (Penulis) dengar sendiri darinya. Aiman dan rekan-rekannya mendirikan jamaah ini pada usia yang sangat muda. Waktu itu mereka masih bersekolah di Tsanawiyah (setingkat SMA di Indonesia, ed.) di daerah Ma‘adi. Mereka terkesan dan termotivasi untuk mendirikan jamaah itu setelah membaca tulisan Sayyid Quthub, yang membuatnya divonis mati pada 1966.[4]

Aiman sangat terkesan dan terpengaruh oleh konsep Sayyid Quthub mengenai realitas kehidupan manusia. Bagi Aiman, Sayyid Quthub adalah seorang dokter yang mampu mendiagnosis semua penyakit umat manusia secara rinci dan mendalam.

Ada hal lain yang mendorong Aiman mendirikan Jamaah Jihad. Ia pernah mempelajari koleksi buku yang ada di perpustakaan milik kakeknya. Kakek Aiman adalah Syaikh Al-Ahmadi Azh-Zhawahiri, mantan Syaikh (Rektor) Al-Azhar. Di perpustakaan itulah ia membaca banyak buku klasik tentang Islam. Hal itu membuat nilai-nilai Islam tertanam kuat dalam dirinya meskipun ia berasal dari sebuah keluarga yang kaya raya.

Lingkungan keluarga Aiman merupakan lingkungan yang penuh dengan wawasan. Ia mengagumi Dr. Abdul Wahab Azzam Basya, Duta Besar Mesir di Pakistan (sekaligus kakek dari pihak ibu, ed.), yang telah menerjemahkan syair-syair penyair besar Pakistan, Muhammad Iqbal, ke dalam bahasa Arab. Dr. Basya menguasai beberapa bahasa asing. Ia juga menulis parafrase syair Al-Mutanabbi yang sangat populer.

Ada versi lain yang menyebutkan bahwa pendiri Jamaah Jihad adalah Nabil Al- Bara‘i. Ia dianggap mendirikan jamaah ini bersama Ismail Ath-Thanthawi, seorang insinyur, serta beberapa orang lain. Namun yang benar adalah Dr. Aiman Azh-Zhawahiri dan Dr. Sayyid Imam (pengarang kitab Al-Jami fî Thalabil Ilmi Asy-Syarîf, yang kemudian dikenal sebagai Dr. Abdul Qadir bin Abdul Aziz, ed.).

Perkumpulan yang dibentuk di Al-Ma‘adi ini menghimpun para pelajar Tsanawiyah umum yang biasa berjamaah di masjid. Jadi, mereka adalah kawan di sekolah. Ketika jamaah kecil ini didirikan, mereka menunjuk Aiman Azh-Zhawahiri sebagai pimpinannya.

Dalam perkumpulan kecil itu ada beberapa tokoh lain selain Aiman, yaitu Nabil Al-Bara‘i, Ismail At-Thanthawi, dan Sayyid Imam. Sebagian besar mereka adalah penduduk daerah Al-Ma‘adi yang masih bersekolah di tingkat Tsanawiyah.

Perkumpulan ini berdiri pada 1968. Mereka berjamaah di salah satu masjid di kawasan Abidin, Kairo, yaitu Masjid Al-Kihkaya milik Jamaah Ansharus Sunnah Al-Muhammadiyyah. Jamaah ini adalah jamaah yang memfokuskan diri dalam masalah tauhid. Mereka sangat peduli dengan permasalahan akidah dan menentang segala bentuk bid‘ah, seperti penyembahan terhadap kuburan dan thawaf (berkeliling untuk meminta keberkahan) di sekitarnya.

Aiman Azh-Zhawahiri dan kawan-kawan sering datang ke masjid Ansharus Sunnah ini. Di sana mereka berkumpul, mendengarkan pelajaran agama, dan kajian Al-Quran. Tadinya kajian itu hanyalah majelis tilawah Al-Quran dan ilmu tajwid di bawah bimbingan seorang syaikh, namun kemudian berkembang menjadi kajian kitab-kitab tafsir. Setelah itu, dilanjutkan dengan mengkaji kitab-kitab salafiyah, seperti kitab karangan Ibnu Taimiyah, yang fatwa-fatwanya sangat mengesankan dan mempengaruhi mereka.

Pada awalnya jamaah yang dipimpin Aiman ini masih sangat sederhana. Kegiatannya hanyalah mengkaji agama. Namun hal itu berubah sejak Mesir dikalahkan secara telak oleh Israel pada Perang 5 Juni 1967. [5]

Peristiwa itu semakin mengarahkan mereka pada sebuah ide besar. Intinya, mereka harus menciptakan perubahan di Mesir. Meskipun mereka masih sangat muda, para anggota jamaah ini sadar betapa menyakitkannya kekalahan tersebut. Mereka menganggap bahwa penyebab utama kekalahan itu adalah ditinggalkannya syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Semua faktor di atas berpengaruh terhadap pembentukan konsep dan ideologi Jamaah Jihad. Mereka menginginkan pelaksanaan syariat Islam secara total dalam kehidupan. Namun mereka menghadapi tantangan besar: negara mereka justru berasaskan sekularisme. Ideologi sekuler ini dikawal oleh kekuasaan, militer, dan sistem yang established (mapan).

Selanjutnya, kelompok Aiman Azh-Zhawahiri memperluas kegiatannya dari sekadar kajian agama menjadi rekrutmen dan tarbiyah serta pelatihan militer bagi setiap anggotanya. Mereka memfokuskan rekrutmen di kalangan militer, karena mereka mengetahui bahwa tentara adalah unsur yang paling mungkin menciptakan perubahan.

Di antara para tentara yang bisa direkrut adalah Isham Al-Qamari—Semoga Allah merahmatinya. Aiman merekrutnya melalui sebuah proses perkenalan. Dari rekrutmen itu, banyak prajurit dan tentara muslim yang berubah pola hidupnya menjadi islami.

Isham Al-Qamari adalah sosok yang istimewa. Ia lulus dari Tsanawiyah umum dengan nilai rata-rata yang sangat tinggi. Bukannya berebut kuliah di universitas seperti pemuda Mesir lainnya, Isham malah ingin masuk ke Akademi Militer. Ia berkata kepada ayahnya bahwa ia ingin masuk ke Akademi Militer agar bisa membunuh Presiden Anwar Sadat dan melakukan kudeta.

Isham Al-Qamari masuk ke dalam barisan militer untuk misi tersebut. Ia bertekad untuk meniti karier militer dan menghindar dari menikah.

Menurutnya, beristri itu akan menyusahkan bagi seorang pejuang, karena ia akan menjadi perangkat musuh untuk menekan.

Ketika berencana kabur dari penjara—setelah ditangkap pada 1980-an— seorang teman berkata kepadanya, ―Saya mau kabur bersamamu, katakan kepadaku kapan kamu akan kabur? Isham menjawab, ―Kalau kamu mau kabur bersamaku, ceraikan dulu istrimu ketika ia membesuk. Ini supaya mereka tidak memperalat istrimu untuk menekanmu…. Isham Al-Qamari— Semoga Allah merahmatinya — akhirnya meninggal dunia dalam keadaan tetap membujang.

Gerakan-Gerakan Islam dan Pelatihan Militer

Era keterbukaan di Mesir memunculkan berbagai jamaah yang bertekad memperjuangkan Islam. Namun demikian, belum ada kerja sama di antara mereka. Beragam jamaah ini secara intern berusaha memanfaatkan suasana yang relatif tenang.

Para anggota jamaah Aiman Azh-Zhawahiri memanfaatkannya dengan berlatih memanah, menggunakan senjata, dan beberapa latihan perang sederhana lainnya. Pelatihan di Kairo dilakukan di padang Dahsyur, di daerah dekat Piramida Giza, serta Thaffat Al-Khathathibah . Sementara pelatihan di daerah lain berlangsung di areal pegunungan.

Latihan ini berlangsung dengan tujuan persiapan menghadapi berbagai kemungkinan di masa mendatang. Sebenarnya tidak ada niatan untuk menentang pemerintah secara langsung. Konsep kelompok Aiman Azh-Zhawahiri sangat berbeda dengan kelompok lain. Kelompok radikal lain secara tegas menyatakan penentangannya pada pemerintah dan dengan segera melakukan ammaliyat (aksi bersenjata). Namun, Aiman berpendapat bahwa cara seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah. Keberhasilan sebuah operasi kecil tidak menjamin keberlangsungan jihad secara kontinu, yang diperlukan untuk menegakkan syariat Islam.

Menurut Aiman, gerakan Islam di Mesir belum memiliki pengaruh signifikan di tubuh militer. Mereka belum menguasai jabatan-jabatan strategis di dalamnya. Misalnya terjadi kudeta, mereka akan berada pada posisi yang sulit karena kekuatan Angkatan Bersenjata akan berhadapan dengan mereka. Meskipun beberapa kesatuan dan korps bisa dikuasai, kegagalan akan segera ditemui. Yang penting dilakukan bukanlah asal melakukan kudeta, tetapi harus ada persiapan yang matang dan cengkraman yang kuat di tubuh militer.

[Disalin dari Balada Jamaah Jihad karya Dr. Hani As Siba'i]

Catatan kaki:

1. Jamaah yang didirikan oleh Hasan Al-Banna pada tahun 1928 ini konon merupakan yang terbesar di Mesir.

2. Dalam buku Fi Zhilali Suratit Taubah, Dr. Abdullah Azzam menggambarkan bahwa masa itu di Universitas Al-Azhar hampir tidak ada mahasiswi yang mengenakan jilbab. Hanya saudara perempuan Sayyid Quthub yang mengenakan busana syar‘i ini (ed.)

3. Wadah berbagai organisasi resmi pelajar di Universitas dan Sekolah.

4. Asy-syahid Sayyid Quthub adalah salah seorang pemikir islam Mesir terkemuka yang menjelang akhir hayatnya bergabung dengan anggota Al-Ikhwanul Muslimin. Ia divonis mati dengan cara digantung karen tulisan-tulisannya. Sayyid Quthub menginginkan penerapan Islam secara menyeluruh, konsep yang sangat bertentangan dengan gaya sekuler Gamal Abdul Nasser.

5. Mesir menderita kekalahan melawan Israel yang dibantu oleh Amerika, Inggris dan Barat. Kerugian yang diderita Mesir sangat besar, para pengamat menganggap bahwa kesalahan utama kebijakan Presiden Gamal Abdul Nasser adalah ia tidak mau turun langsung ke medan pertempuran.

Penulis: Hani As Siba'i

  1. Beranda
  2. /
  3. Sejarah
  4. /
  5. Kematian Jamal 'Abdunnashir dan Perkembangan Islam di Mesir