Kisah Terbunuhnya Abu Khalid as-Suri dan Abu Sa‘ad al-Hadhrami
Kisah Terbunuhnya Abu Khalid as-Suri dan Abu Sa‘ad al-Hadhrami
Kisah Terbunuhnya Abu Khalid as-Suri dan Abu Sa‘ad al-Hadhrami
Oleh Syaikh Abu Firas as-Suri
Yang pertama: Masalah ancaman kepada Abu Khalid As-Suri
Yang kedua: Jamaah Daulah mengkafirkan dalam perkara ketaataan (kepada All么h).
Adapun tentang mengkafirkan Abu Khalid As-Suri, maka di tempat ini saya bertemu dengan Abu Khalid rohimahull么h beberapa jam sebelum wafatnya. Ia berkata: "Mereka telah mencantumkan namaku dalam black-list, dan mereka bermaksud untuk membunuhku". Maka akupun tersenyum dan aku katakan: "Ajal ditangan Allah Azza wa Jalla". Ia malah berkata: "Engkau juga waspadalah, sebab engkau juga ditarget…".
Saya tidak berkomentar banyak tentang hal itu dan kami tidak dipusingkan dengannya, saya katakan bahwa urusan ditangan Allah. Akan tetapi sikap cuekku tidak menyenangkannya dan ia terus menasihatkan agar aku selalu waspada. Ia berkata: “Kita ini dijadikan target dan masuk dalam daftar teratas”.
Saya katakan: “Tawakal kepada Allah dan jagalah dirimu”. Ia berkata: “Telah datang kepadaku ancaman mereka berulang kali... ini bukan sekedar prasangka tetapi benar-benar telah sampai kepadaku ancaman mereka memperingatkanku dalam perkara ini”.
Dan dihari kedua, setelah beberapa saat saya mendapatkan berita kesyahidannya
Adapun poin kedua: Yaitu mereka mengkafirkan dalam hal ketaatan (kepada All么h –pent).
Sejak terjadinya pertikaian dengan faksi-faksi jihad lain melawan mereka sejak hari pertama. Kami mengupayakan adanya perdamaian atas arahan Syaikh Abu Muhammad Jaulani untuk menyelesaikan konflik dan mencoba mendamaikan diantara faksi-faksi jihad.
Kami jelaskan kepada pihak Daulah bahwa kita sedang mengupayakan perjanjian damai dan menyelesaikan permasalahan pada pertemuan pertama, Abu Ali Al-Anbari berkata: “Apa yang kalian inginkan?".
Kami katakan: "Kami mengusulkan 3 poin yang merupakan 1 kesatuan yang tak terpisah satu sama lain".
Pertama : penghentian baku tembak.
Kedua : pertukaran tawanan...
Ketiga : mengadakan peradilan syar'i yang memutuskan semua perkara pertikaian.
Namun dia menolak hal ini.
Pembicaraan ini disaksikan oleh komisi yang terdiri dari 4 orang dari Jabhah Nushrah, mereka adalah Abu Hasan Taftanaz, saya hamba Al-faqir, Abu Hammam Asy-Syami, dan Abu Ubaidah At-Tunisi penanggung jawab urusan syariah di bidang militer, demikian juga hadir Abu Abdullah dari katibah Al-Faruq dan akh Mansur dari Jundul Aqsha serta Syaikh Al-Muhaisini. Dengan kehadiran mereka semua.
Kemudian Abu Ali Al-Anbari mencela kami dan berkata bagaimana kami ini menjadi juru damai antara Daulah dengan Murtadin, kami katakan bahwa kami tidak menganggap mereka murtad.
Dia berkata: "Inilah perbedaan kami dengan kalian".
Dia tetap bersikukuh bahwa kita tidak boleh menjadi juru damai antara kita dengan "murtadin".
Setelah perdebatan yang panjang seputar masalah ini dia berkata: "Berikan aku waktu untuk bermusyarah dulu". Lalu dia pergi selama 1,5 jam kemudian kembali. Dia berkata: "Kami akan sampaikan pendapat kami besok pagi".
Pada hari kedua kami menemuinya dipagi hari mereka saat itu mengumumkan bahwa mereka telah mengeksekusi Abu Saad Al-Hadhrami, amir Jabhah Nushrah wilayah Raqqah.
Dan kami tidak membuka kasus ini (pembunuhan Abu Saad) hingga kami dapat melanjutkan upaya perundingan damai. Lalu mereka meminta anggota Jabhah Nushrah menemui mereka secara khusus ditempat terpisah.
Lalu kami keluar menuju kamar kedua, lalu mereka berkata: "Apa yang kalian buat?" Kami menjawab: "Tentang apa?".
Mereka berkata: "Kalian tidak faham apa yang kalian kerjakan? Kami katakan: "Tentang apa itu, terangkan!"
Mereka berkata: "Mengapa kalian mengibarkan bendera kalian di markaz Dier-Izzah?"
Kami katakan bahwa kami mengibarkan bendera kami di markaz Dier-izzah agar menjaga tawanan kalian sebab pasukan Jaisyul-Hur menyerang tempat itu, dan mereka hampir menawan siapa saja yang berada disitu atau membunuhnya, sehingga datanglah penanggung jawab askari wilayah kemudian ia melarang pasukan Jaisyul Hur menyerang tempat itu hingga ikhwan kami menyerahkan personal kalian kepada kalian dalam keadaan mulia dan terhormat.
Mereka menyanggah: "Kami tidak mau.... kami tidak butuh mediasi kalian walau mereka mati semua !... dan tidak boleh mengibarkan bendera kalian di markaz kami !".
Kami katakan: "Apakah hanya karena bendera manusia dibiarkan mati? mereka adalah saudara kalian!... kalian korbankan manusia mati hanya untuk mengibarkan bendera?!... kalau mau kibarkan, sekarang ini !... biarkan mereka selamat”.
Saya katakan: "Masalah seperti ini diperlukan hikmah" .
Mereka jawab: "Kami tak peduli, kami yang melenyapkan mereka atau mereka (Jaisyul-Hur) yang melenyapkan (kami)!".
Saya katakan: "Wahai syaikh, masalah ini diperlukan sifat hikmah dan bijaksana... saya tanya kepadamu: "Apakah merupakan sikap bijaksana mengumumkan pembunuhan Abu Saad Al-Hadhrami amir Jabhah Nushrah di Raqqah?".
Dia menjawab: "Kami tidak peduli... itu tidak penting bagi kami !".
Saya katakan: "Penting atau tidak penting saya tanya, "apakah itu sikap bijaksana dan benarkah ditinjau dari kajian siyasah syar'iyah mengumumkan pembunuhannya?"
Dia menjawab: "itu tidak penting bagi kami !".
Lalu Abu Ubaidah at-Tunisia inisiatif bertanya: "Mengapa kalian membunuhnya?"
Dia jawab: "Karena dia murtad dan mengakui kemurtadanya".
Ditanya lagi: "Dengan alasan apa kalian menganggapnya murtad?"
Dia jawab: "Karena dia mengambil bai'at dari Jaisyul-Hurr".
Lalu saya bertanya: "Hai Abu Ali, apakah mengambil bai'at dari Jaisyul-hurr amalan kemurtadan?.... Abu Saad mengambil bai'at dari manusia untuk berjihad,... bukankah ini ketaatan, lalu kalian anggap murtad ?!".
Dia menjawab: "Iya !...karena dia mengambil bai'at dari Jaisyul-hurr".
Ini adalah pengkafiran bukan dengan sebab maksiat, bukan pula dosa besar, bukan pula karena dosa-dosa, tapi ini pengkafiran karena melakukan ketaatan (kepada All么h) !.
Dan perkataan ini diucapkan di hadapan Abu Ubaidah Tunis, Abul Hasan Taftanas, dan saya.
Saya bersumpah atas nama All么h tentang hal itu, dan saya siap mempersaksikannya dihadapan All么h dan dihadapan manusia semua dan semua yang saya sebutkan, secara khusus Abu Khalid rohimahull么h. Dan Abu Saad Al-Hadhrami bahwa Abu Saad dibunuh disebabkan mengambil bai'at dari Jaisyul-Hurr.
Saya bersumpah atas hal itu, saya tegaskan dan bersumpah atas nama All么h Yang Maha Agung, bahwa sungguh mereka mengatakan hal ini dan saya mendengarkan perkataan langsung dari Abu Khalid, juga ucapan Abu Ali Al-anbari, semuanya saya mendengarnya langsung bukan menukil perkataan orang lain dan saya bersumpah atas nama All么h Yang Maha Agung tentang hal ini !.
Sholawat dan salam semoga terlimpah atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan juga para shahabatnya.