Tema-Tema Pilihan Fikih Jihad (1)
Tema-Tema Pilihan Fikih Jihad (1)
Tema-Tema Pilihan Fikih Jihad (1)
Oleh Syaikh Turki bin Mubarak al-Bin'ali
Segala puji bagi Alloh yang Maha besar dan tinggi dan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- kepada keluarganya dan para sahabatnya, Amma ba’du :
Alloh ta’ala berfirman :
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرَىٰةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْءَانِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِۦ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِى بَايَعْتُم بِهِۦ ۚ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“sesungguhnya Alloh membeli dari orang-orang beriman, baik jiwa dan harta mereka dengan surga. Mereka berperang di jalan Alloh sehingga mereka membunuh atau terbunuh sebagai janji yang benar dari Alloh di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur-an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Alloh? Maka bergembiralah dengan jual beli yang kalian lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.” (Qs. At-Taubah : 111)
Rosululloh –shollaAllohu ‘alayhi wa sallam- bersabda :
إنَّ أَبوَابَ الجَنَّةِ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوْف
“Sesungguhnya pintu-pintu surga di bawah kilatan pedang.” (HR. Ahmad)
Imam Al-Hasan Al-Bashri –rohimahulloh- berkata :
إنَّ لِكُلِّ طَريْقٍ مُخْتَصَراً وَ مُختَصَرُ الجَنَّةِ الجِهَادُ
“Sesungguhnya segala sesuatu memiliki jalan pintas, dan jalan pintas menuju surga adalah jihad.” [Hilyatul Awliya : 6/157]
Dikarenakan jalan jihad inilah yang mengantarkan kepada surga, maka haruslah dilakukan sesuai dengan tuntunan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Adapun siapa yang mengaku dirinya telah berjihad akan tetapi ia lalai dan bodoh terhadap hukum-hukum dien maka ia telah tersesat walaupun ia menginginkan petunjuk dan telah membuat kerusakan di bumi walaupun ia tidak bermaksud demikian.
Oleh karena itu ulama memberikan perhatian khusus terhadap bidang ilmu ini, mereka banyak menyusun tulisan dan memenuhi perpustakaan dengannya. Bahkan jika dihitung maka ada lebih empat ratus kitab yang telah disusun ulama salaf maupun khalaf tentang “Fiqh jihad.”
Kami (Maktab al-Buhuts wad Dirosat) juga ikut menyusunnya dengan judul “Al-Masail Al-Jiyad Fii Fiqhil Jihad” agar tulisan ini –dengan pertolongan Alloh- bisa menjadi pegangan bagi pemula dan menjadi penghibur bagi orang-orang yang lebih dahulu. Dan akhir kata kami, segala puji bagi Alloh penguasa semesta alam dan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad –shollaAllohu ‘alayhi wasallam-
Pengertian Jihad
Secara bahasa berasal dari kata Al-Juhdu yang bermakna Al-Masyaqqah (kesukaran) dan Ath-Thaqah (kemampuan).
Di dalam kitab Lisaanul ‘Arob : Jihad adalah bersungguh-sungguh mengeluarkan kemampuan dalam peperangan, dengan lisan atau dengan apapun yang ia mampu.
Secara istilah syar’i : mengerahkan kesungguhan dan mengeluarkan kemampuan untuk memerangi pelaku kekafiran dan pembangkangan terhadap syari’at. Dengan tujuan meninggikan kalimat (dien) Alloh dan merendahkan kalimat orang-orang kafir.
Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah –rohimahulloh- berkata : “Hakikat jihad ialah kesungguhan untuk meraih apa yang Alloh cintai berupa iman dan amal sholih dan melawan apa yang Alloh benci berupa kekafiran, kefasiqan dan kemaksiatan.” [Al-Fatawa Al-Kubro : 5/187]
Ibnu Hammam menjelaskan tentang jihad : “membasmi kerusakan yang ada di muka bumi.” [Fathul Qadir : 5/434]
Berkata Sayyid Qutb : “Jihad ialah usaha berkepanjangan dan perlawanan yang berkelanjutan demi menegakkan sistem al-Haq, bukan selainnya. Inilah jihad yang dijadikan al-Qur-an sebagai timbangan keimanan dan keikhalasan seseorang seseorang terhadap diin ini.” [Fii Zhilalil Qur-an : 2/1321]
Hikmah Disyariatkannya Jihad
Sesungguhnya jihad fii sabilillah memiliki hikmah yang banyak dan tujuan yang agung, diantaranya : Menegakkan agama Alloh dan mewujudkan penghambaan terhadap Rabb semesta alam.
Melawan kesyirikan yang ia merupakan kezhaliman yang paling zhalim dan kerusakan yang paling besar. Alloh ta’ala berfirman :
وَقٰتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّـهِ ۖ فَإِنِ انتَهَوْا فَلَا عُدْوٰنَ إِلَّا عَلَى الظّٰلِمِينَ
“dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah (kesyirikan) dan agama hanya milik Alloh. Jika mereka berhenti maka tidak ada lagi permusuhan kecuali terhadap orang zhalim.” (Qs. Al-Baqoroh : 193)
Membuka jalur hidayah bagi manusia dan menghilangkan penghalang-penghalang da’wah. Menjaga lima kepentingan utama : agama, jiwa, kehormatan, akal dan harta.
Mendapatkan kekuasaan di muka bumi untuk ditegakkannya syari’at Alloh dan menghilangkan kerusakan agama maupun dunia.
Bentuk perwujudan nyata dari prinsip al-Wala’ wal Baro’, dengan berloyal kepada orang-orang yang bertauhid dan menolong mereka, memusuhi orang-orang kafir dan memerangi mereka.
Memberantas kezhaliman dan menunaikan hak kepada yang memilikinya dan menghalangi terjadinya kerusakan di muka bumi. Alloh ta’ala berfirman :
وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلٰكِنَّ اللهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعٰلَمِينَ
“dan jika Alloh tidak melindungi manusia dengan sebagian manusia yang lain niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Alloh memiliki karunia yang dilimpahkanNya atas seluruh alam.” (Qs. Al-Baqoroh : 251)
Menjaga keutuhan dan kemuliaan kaum muslimin, kemurniannya, dan menolong kaum yang lemah. Alloh ta’ala berfirman :
وَمَا لَكُمْ لَا تُقٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدٰنِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا مِنْ هٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا
“mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Alloh dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdo’a : Wahai Rabb kami keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zhalim. Berikanlah kami pelindung dari sisi-Mu dan berikanlah kami penolong dari sisi-Mu.” (Qs. An-Nisa : 75)
Membongkar kedok kaum munafiq dan menyaring barisan orang-orang beriman. Alloh ta’ala berfirman :
مَّا كَانَ اللهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَآ أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِى مِن رُّسُلِهِۦ مَن يَشَآءُ ۖ فَـَٔامِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ۚ وَإِن تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Alloh tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kamu sekarang ini. Sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik. Alloh tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, tetapi Alloh memilih siapa saja yang Dia kehendaki diantara rosul-rosul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Alloh dan rosul-rosul-Nya. Jika kamu beriman dan berafdhol, maka kamu akan mendapatkan pahala yang besar” (Qs. Ali ‘Imron : 179)