data:post.title

Virus Corona, Nyata atau Kepanikan?

Virus Corona, Nyata atau Kepanikan?

Virus Corona, Nyata atau Kepanikan?

Oleh Syaikh Abu ‘Abdirrahman ‘Umar al-Hasyimi 

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah pada Nabi kita Muhammad, keluarga dan semua sahabatnya.

Ahibbatil kirom (saudara dan kawan-kawanku yang mulia).

As-salamu ‘alaykum wa rohmatulloh wa barokaatuh.

Kita semua telah mendengar mengenai (tersebarnya) virus corona yang telah diperbincangkan oleh para presiden, para menteri, para menteri kesehatan, WHO, dan ini telah merebak ke negeri-negeri di seluruh dunia, baik negeri-negeri islamis dan negeri-negeri non islamis.

Di awal pembicaraan mengenai virus ini, saya ingin memperingatkan beberap perkara yang selayaknya kita miliki dalam menyikapi keberadaan virus ini.

Pertama, seorang muslim haruslah yaqin bahwa tidak ada yang akan menimpanya kecuali apa yang Alloh tetapkan baginya.

Karena kecemasan yang menimpa mayoritas negara yang terjangkiti virus ini atau telah dinyatakan positif munculnya virus ini pada beberapa orang yang terinfeksi, tidak berarti kita hidup (seolah) dalam keadaan sakit. Sebagian orang berprilaku panik seolah dirinya sudah terjangkit wabah, padahal sebenarnya tidak!

Orang itu bersikap seolah benar-benar terjangkit corona. Sementara kondisi psikis orang membuatnya berhalusinasi terhadap sesuatu yang tidak ada.

Bahkan sekiranya dia mengalami sesak nafas, (mungkin) karena kekhawatiran dan kepanikan, bukan disebabkan karena penyakit, virus ataupun sejenisnya.

Sudah ma’lum di kalangan para ahli psikolog, bahwa di antara sebab sesak nafas yang paling nyata dan banyak tersebar adalah berhalusinasi, panik dan cemas yang terlalu sering.

Mengapa orang bisa mengalami kepanikan? Karena dia sendiri yang membisikkan jiwanya apa-apa yang tidak dia alami.

Bahkan jika benar-benar dialami sekalipun, bahkan meskipun terjangkit virus, --semoga tidak Alloh taqdirkan hal itu, semoga Alloh menjaga keselamatan kita semua-, jadi meskipun benar-benar terjangkit virus sekalipun, itu bukanlah akhir dari segalanya. Siapa bilang orang yang terjangkit pasti akan mati ?

Seorang mu’min harus besar kepercayaannya, keyakinannya dan husnuzh zhon pada Alloh tabaroka wa ta’ala. Dalam hadits Qudsi Alloh berfirman, “Aku (bertindak) sesuai prasangka hamba terhadap-Ku, maka berprasangkalah seumaunya.”

Apabila orang-orang yang terjangkit penyakit kronis dari kalangan ahlul iman dan orang yang bertaqwa berangan-angan agar Alloh tabaroka ta’ala menyembuhkannya, berinteraksi dengan spirit tinggi dan bersabar dengan penyakit dan apa yang menimpanya. Maka siapa yang positif terjangkit corona bukanlah akhir dari kehidupannya.

Kadang orang positif terjangkit corona dan ter-recovery (bisa disembuhkan), atau bahkan kalau saja terjadi kematian.

Kematian pasti datang, baik masih lama atau sebentar lagi, baik berumur panjang atau pendek usia.

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

“katakanlah, sungguh kematian yang kalian lari darinya pasti akan menjemput kalian, kemudian kalian akan dikembalikan pada Dzat Yang mengetahui yang ghoib dan yang lahir.” (al-Jumu’ah: 8)

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Alu ‘Imron: 185)

Terjangkit virus corona adalah perkara yang bisa saja terjadi, bisa juga tidak terjadi. Sementara jika terjadi terjadi itu hanya dengan taqdir Alloh dan jika terjadi juga karena taqdir Alloh

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا

“katakan, tidak akan menimpa kami kecuali apa-apa yang telah Alloh tetapkan untuk kami.” (at-Tawbah : 51)

Oleh karena itu Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam bersabda,

" لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ،

"Tidak ada 'adwa (meyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Alloh), tidak ada thiyarah (prediksi nasib buruk karena burung tertentu atau karena gejala alam lainnya).” Diriwayatkan oleh al-Bukhoriy

Tidak ada ‘adwa (penyakit menular) maksdunya adalah penularan penyakit bukanlah sesuatu yang lazim pasti terjadi. Sampai orang berkeyakinan dan berangan-angan bahwa keberadaan virus berarati (dipastikan) penularan penyakit dari orang ke orang.

Padahal bisa saja Anda bergaul dengan seseorang yang terjangkit penyakit menular, sementara Anda tidak tertulari penyakitnya.

Terinfeksi penyakit dan penularan bukanlah sesuatu yang pasti terjadi, namun itu bersifat prediksi. Hingga kalau saja terjadi sebagaimana telah saya sebutkan baru saja, maka keyaqinan seorang muslim menjadikannya berbeda dalam kondisi sakitnya.

Seorang muslim yang sabar terhadap penyakit yang menjangkitinya, mengharap pahala hanya pada Alloh tabaroka wa ta‘ala, berharap kebaikan pada Alloh tabaroka wa ta’ala agar menyembuhkannya dan menyelamatkannya.

Poin Kedua, wahai saudara-saudara tercinta yang mulia, barangsiapa yang positif terjangkit virus ini, selayaknya bertindak sesuai dengan tanggungjawab syar’iy yang dibebankan oleh Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam terkait dengan penyakit wabah.

Jangan bercampur dengan manusia, jangan mengganggu orang dengan mencampuri mereka, jangan bepergian ke negeri lain, jangan keluar dari kota asalnya.

Demikian pula kota yang juga positif terjangkiti penyakit wabah ini, tidak boleh mereka keluar dari kota mereka, bukan sekedar dari negeri namun dari kota, juga jangan (orang sehat) bepergian menuju kota yang terjangkit wabah. Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam shohihayn (al-Bukhori dan Muslim),

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

"Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu karena ingin lari." (Diriwayatkan oleh al-Bukhori)

Adapun terkait dengan orang yang terjangkiti (penyakit/virus), Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam bersabda,

«لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ»

“'Yang sakit tidak boleh mendekat kepada yang sehat.”

Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam bersabda,

فر من المجذوم فرارك من الأسد

“Larilah dari orang yang terjangkit lepra seperti engkau lari dari singa.” (HR. Al-Bukhori)

Maka orang yang terjangkiti virus ini hendaknya mengasingkan diri dan tidak mengganggu hamba Alloh dengan menyebarkan ujian atau wabah ini, hingga Alloh tabaroka wa ta’ala menyembuhkannya.

Point Ketiga, hendaknya orang yang terjangkiti wabah ini menyadari bahwa kalau saja dia mati disebabkan wabah ini maka dia mendapat pahala syahid.

Siapa saja yang mati oleh sebab wabah penyakit seperti ini dia akan mendapat pahala syahid di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala.

لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ»

"Tidak seorangpun yang terjangkit tho'un lalu tetap berada di daerahnya dalam keadaan sabar dan mengharap (pahala), serta dalam keadaan mengetahui bahwa wabah tersebut tidak akan menimpa selain pada siapa yang telah Alloh tetapkan, melainkan baginya pahala syahid." (Diriwayatkan oleh al-Bukhoriy)

Maka ini adalah petunjuk dari Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam terhadap siapa saja yang terjangkit penyakit ini, hendaknya dia menyadari bahwa itu semua adalah ujian dari Alloh tabaroka wa ta’ala. Bahkan Mu’adz bin Jabal rodhiyaAllohu ‘anhu menganggapnya sebagai rohmah ketika datang tho’un ‘amwas, beliau berkata,

اللهُمَّ آتِ آلَ مُعَاذٍ النَّصِيبَ الْأَوْفَرَ مِنْ هَذِهِ الرَّحْمَةِ،

“Yaa Alloh, berikan jatah terbesar untuk keluarga Mu'adz dalam rohmah ini." [ Hilyatul Awliya: 1/240 ]

Maka Mu’adz rodhiyaAllohu ‘anhu pun meninggal bersama sejumlah keluarganya disebabkan oleh tho’un ini, mati dalam keadaan syahid, mendapatkan pahala syahid di sisi Alloh tabaroka wa ta’ala.

Kita memang tidak mengharap tertimpa ujian dan wabah ini, namun barangsiapa yang terjangkit di antara kita maka hendaknya bersabar terlebih dahulu, selanjutnya tidak bergaul dengan manusia, karena hal itu telah diperintahkan oleh Nabi kita shollaAllohu ‘alayhi wa sallam.

Karena agama islam telah lebih dahulu dalam hadits pengobatan; yaitu untuk tidak mendekati orang yang terjangkit dan tidak mendekati kota yang positif terjangkit (wabah). Dan ini semua adalah sangat menunjukkan toleransi keluasan syari’ah Islam, dan penjagaannya untuk kepentingan kebaikan manusia di dunia dan akhirat.

Resep ini juga cocok untuk segala masa dan di semua tempat. Hal ini juga diketahui dan diyaqini oleh setiap kaum beriman di kalangan laki-laki dan perempuan.

Alloh tabaroka wa ta’ala tidaklah memerintahkan pada manusia melainkan demi kepentingan mereka dan tidak melarang mereka kecuali karena di dalamnya ada kerusakan bagi mereka.

Terakhir, saudara-saudara yang tercinta lagi mulia, dalam kondisi seperti wabah ini ada ayat-ayat yang Alloh hendak menanamkan rasa takut pada hamba-hamba-Nya,

ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ يَاعِبَادِ فَاتَّقُونِ (16)

“Demikianlah Alloh menanamkan rasa takut pada hamba-hamba-Nya. wahai hamba-hamba-Ku, bertaqwalah kalian pada-Ku.” (az-Zumar : 16)

Ini adalah penanaman rasa takut dengan ayat-ayat semisal ini. Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا (59)

“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.” (al-Isro’ : 59)

Dan tatkala Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam menyebutkan mengenai wabah, beliau mengabarkan bahwa wabah adalah ‘adzab yang dengannya Alloh tabaroka wa ta’ala mengadzab siapa saja yang dikehendaki dari manusia di bumi ini, namun wabah juga rohmah bagi orang-orang beriman. Sebagaimana Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhoriy,

أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ،

"itu adalah 'adzab yang Alloh kirimkan pada siapa saja yang Dia kehendaki dan Alloh menjadikannya sebagai rohmah untuk kaum mu'minin.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhoriy dalam kitab Shohih-nya)

Maka jika ini adalah ‘adzab dan ujian dari Alloh tabaroka wa ta’ala, maka yang wajib dalam kondisi wabah seperti ini adalah taubat pada Alloh tabaroka wa ta’ala, kembali pada Alloh ‘azza wa jalla, taqollul dan takhoffuf (meminimalisir) berbagai kemaksiatan yang menjadi sebab turunnya mushibah seperti ini. Kemaksiatan tersebut di antaranya; bersoleknya kaum perempuan, mencela agama Alloh, mencela syari’ah Alloh ‘azza wa jalla dan orang-orang yang kemitmen terhadap agama, menolak syari’ah Alloh tabaroka wa ta’ala, dan berbagai perkara lainnya yang membuat Alloh tabaroka wa ta’ala murka.

‘Aliy bin Abi Tholib rodhiyaAllohu ‘anh berkata,

ما نزل البلاء إلا بذنب وما رفع إلا بتوبة

“tidaklah turun mushibah melainkan disebabkan oleh dosa, dan tidak akan terangkat kecuali dengan taubat.”

Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (41)

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Alloh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)

Maka bertaqwalah kalian pada Alloh, saya ingatkan diri saya pribadi dan kepada kalian semua agar bertaubat pada Alloh tabaroka wa ta’ala. Karena sungguh Alloh ‘azza wa jalla menerima taubat orang-orang yang bertaubat pada-Nya dengan segera, Alloh menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (at-Tahrim : 8)

Penulis: 'Umar Al Hasyimi
Penerjemah: Abu Hafsh Al Gharib

  1. Beranda
  2. /
  3. Fikih
  4. /
  5. Virus Corona, Nyata atau Kepanikan?