data:post.title

Siapa yang Dimaksud dengan Shahawat?

Siapa yang Dimaksud dengan Shahawat?

Siapa yang Dimaksud dengan Shahawat?

Oleh Syaikh Dr. ’Iyyad Qunaibi

Kepada orang yang menyerukan dengan dusta bahwa saya mengkhianati mayoritas kelompok-kelompok perlawanan, maka ini adalah sebagian dari pernyataan saya yang berjudul: “Apa yang Kalian Maksud dengan Shahawat?!”

Sebagian orang menggolongkan para pejuang menjadi dua golongan, yaitu golongan mujahidin dan golongan shahawat, dan itu didasari dengan tiga tahapan berikut:

PERTAMA: Menganggap bahwa sebuah jamaah tertentu memiliki manhaj yang bersih dan proyek yang benar. Jikapun ia melakukan kesalahan, maka itu adalah kesalahan tingkah laku yang tidak mengurangi kebersihan manhajnya, ini adalah sifat jamaah mujahidin yang paling utama.

KEDUA: Lalu katakanlah terjadi perbedaan pendapat antara jamaah ini dengan jamaah-jamaah lainnya, maka kebenaran haruslah ada pada jamaahnya, sedangkan jamaah-jamaah lainnya memerangi jamaah tersebut karena kebersihan manhajnya dan pola proyeknya yang Islami, serta dengan tujuan mencegah penegakan negara Islam.

KETIGA: Lalu pada tahapan selanjutnya mulai ada pemberian gelar shahawat terhadap jamaah-jamaah yang memerangi – menurut anggapan mereka – mujahidin yang ikhlas, dan mulai ada pembenaran, bahkan penggalangan kekuatan untuk memerangi para ‘shahawat’ tersebut.

Terlepas dari perdebatan yang ada wahai saudaraku, saya tidak akan berhenti begitu saja pada tahapan pertama. Saya juga tidak akan membahas apakah jamaah si fulan itu manhajnya bersih dan proyeknya benar atau tidak, marilah kita bersama-sama melewati fase ini dan bersepakat dalam satu hal, yaitu pengertian mujahidin.

Mujahidin adalah semua orang yang berjihad demi menegakkan agama Allah di dunia dan mengasihi orang-orang yang tertindas, mereka bersikap rendah hati di hadapan orang-orang yang beriman dari kalangan masyarakat awam dan juga kalangan kelompok-kelompok mujahidin, dan keras serta terhormat di hadapan orang-orang kafir. Anda melihat sebagian besar kekuatan mereka tertuju untuk melawan orang-orang kafir yang memerangi.

Siapakah mereka? Biarlah kita melewati tahapan ini, karena terkadang anda melihat bahwa mereka adalah yang berada di jamaah tertentu, namun saya tidak setuju dengan anda dalam hal ini karena sumber kita, tindakan kita, dan tolok ukur kita berbeda.

Namun terlepas dari semua itu, apakah dengan menganggap bahwa jamaah tertentu adalah mujahidin, maka jamaah-jamaah yang lain dianggap sebagai shahawat? Seakan-akan kita dihadapkan dengan sifat genetik yang sudah turun-temurun, ada beberapa orang yang ‘ketahuan’ memiliki ‘gen shahawat’, maka ia harus diperlakukan seperti shahawat!!

Bukankah di hadapan kita di medan perang bumi Syam terdapat berbagai macam golongan manusia yang memiliki sikap berbeda-beda terhadap penegakan negara Islam dan Syariat?

  1. Yang pertama ada golongan kotor yang rela menjual harga diri mereka kepada pemerintahan internasional beserta para wakilnya di tingkat lokal. Kepentingan mereka adalah memerangi proyek jihad dan berupaya untuk menggagalkan penegakan negara Islam. Tidak ada kepentingan lainnya selain itu, dan mereka bersemangat dalam menjalankannya.
  2. Golongan kedua adalah golongan yang sangat lemah imannya. Golongan ini mendapatkan bayaran dari pemerintahan internasional dengan syarat harus memerangi orang-orang yang menganut faham jihad atau sebagian dari mereka, namun sebenarnya ia tidak ingin melakukannya, dan ada kemungkinan ia berhenti ikut memerangi mereka jika ia mendapatkan bayaran sesuai dengan bayaran yang diberikan oleh orang-orang kafir, atau jika kebutuhan hidupnya dipenuhi.
  3. Selanjutnya adalah golongan yang membuat orang-orang kafir senang dengan memerangi para penganut faham jihad, selanjutnya mereka menerima bayaran atas pekerjaan tersebut. Namun jika suatu saat golongan ini berada pada posisi terancam, ia tidak akan memenuhi janjinya, bahkan bisa jadi ia akan bergabung dengan mereka (para penganut faham jihad), atau meletakkan senjata dan kabur.
  4. Berikutnya ada golongan yang memiliki perilaku zhalim terhadap para penganut faham jihad, ia tidak membedakan antara kebaikan mereka dan keburukan mereka. Namun jika tokohnya mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang baik, maka seolah-olah di tangannya ada sebuah cincin, yang ia rela mengorbankan nyawanya untuk membela mereka!
  5. Ada juga golongan yang tidak memiliki kepentingan apapun kecuali menjatuhkan rezim dan menghentikan perang antar sesama saudara, namun di dalam fikirannya tidak ada sikap yang jelas mengenai konsep negara yang harus didirikan setelah misinya selesai.
  6. Golongan selanjutnya adalah golongan yang ingin menjatuhkan rezim, dan mengulang-ulang semboyan yang ia dengarkan dari media massa, yaitu: “Kami akan memutuskan hukum melalui kotak-kotak suara”, namun ia tidak mengetahui sejauh mana arti dan penyimpangan dari semboyan ini terhadap syariat, golongan ini dapat diatasi dengan melakukan sesi diskusi.
  7. Golongan selanjutnya adalah golongan yang yakin dengan semboyan ini dan ia tidak merubah keyakinannya tersebut, namun ia tidak siap bila diperintahkan untuk berperang membela semboyan ini, ia mencukupkan diri dengan memerangi rezim saja.
  8. Selanjutnya adalah golongan yang meyakini demokrasi dan siap untuk berperang demi membelanya, dan ia memandang bahwa penegakan negara Islam adalah salah satu bentuk kediktatoran.
  9. Selanjutnya ada golongan yang dapat ditingkatkan keyakinannya dan keterlibatannya dalam proyek islami, namun para setan-setan manusia dari negara-negara ‘pendukung’ revolusi menghancurkan pola pikir yang kami bangun dengan melakukan diskusi di dalam ruangan tertutup. Karena orang dari golongan ini buta akan penjagaan aqidah dan manhaj, namun ada kemungkinan ia dapat dinetralkan dengan cara ‘dibikin malu’, ‘dihidangkan makanan’, dan diberikan penghormatan-penghormatan lainnya, dengan tujuan jika ia tidak mau memberikan sumbangsih terhadap pembangunan negara Islam, maka jangan sampai ia memberikan sumbangsih untuk menghancurkannya.
  10. Golongan selanjutnya adalah golongan yang menginginkan negara demokrasi dan mengajak orang-orang untuk berpegang kepadanya sebagai sebuah agama! Sebabnya adalah karena dirinya telah terpatri dengan dakwah yang bathil ini atau karena ia bingung dalam memahami fiqh maslahat dan mafsadat, namun ia tidak akan melawan jika negara Islam berhasil didirikan.
  11. Golongan selanjutnya adalah golongan yang mengajak orang kepada demokrasi sebagai sebuah agama, dan ia siap untuk memberikan dukungan kepada pemerintahan internasional dalam memerangi negara Islam!
  12. Selanjutnya adalah golongan yang pro dengan penegakan negara Islam namun ia tidak keberatan jika ada pengulangan model palsu dari salah satu negara fungsional yang didasarkan pada lembaga keagamaan. Bersamaan dengan itu, ia juga tidak keberatan jika negara ini siap untuk bersikap lunak dengan pemerintahan internasional dan melaksanakan agenda-agendanya.
  13. Golongan selanjutnya adalah golongan yang pro dengan penegakan negara Islam, namun hanya terbatas pada teritorial tertentu yang tidak melanggar batas wilayah yang telah ditetapkan, dan tetap menjaga ‘hubungan baik’ dengan negara tetangga dan pemerintahan internasional, ia beralasan karena tidak mendominasi pihak yang lain.
  14. Yang terakhir adalah golongan yang memberikan paradigma internal dan mendidik para anggotanya untuk mau menerima negara Islam yang benar, bahkan kekhilafahan internasional yang tidak mengenal batas-batas negara, namun pada waktu bersamaan ia berusaha untuk menghindari permusuhan dari dunia internasional, maka pernyataan-pernyataan yang muncul darinya terkadang benar dan terkadang salah, dan ia bersikap diam pada kesempatan yang seharusnya tidak boleh diam. Akan tetapi misinya yang sebenarnya darinya adalah memerangi orang-orang kafir.

Dan saya mengklaim bahwa empat belas macam golongan ini semuanya ada di medan perang Syam! “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya” [Qs. Al An’am: 132].

Maka dari itu ketika saudara bertanya kepadaku, “apakah anda membela para shahawat?”, “apakah anda ingin agar kami tidak memerangi shahawat?”, maka siapakah sebenarnya shahawat yang kalian bicarakan itu? Dari 14 golongan di atas, termasuk dari golongan manakah shahawat itu?!?

Bukankah di antara perbuatan zhalim yang nyata dan kemungkaran yang besar adalah meletakkan 14 golongan di atas pada satu wadah yang sama, lalu kita memperlakukannya dengan perlakuan yang sama?! Dan kita tidak membedakan motif dari peperangan ini: apakah yang diperangi adalah antek dan pengkhianat, atau perang ini merupakan bentuk mempertahankan diri dari serangan dan mengembalikan hak?!

Bukankah di antara pencampur-adukan yang jelek itu adalah menganggap bahwa mereka semua atau mayoritas dari adalah orang-orang yang memerangi mujahidin, memiliki rasa dengki terhadap agama Islam, merampas kehormatan mereka dan mencampakkan jasad mereka?! Padahal ini semua tidaklah dilakukan kecuali oleh golongan yang pertama saja!

Tujuannya di sini bukanlah memberikan pembenaran atau tidak memberikannya terhadap peperangan ini, namun ini adalah upaya untuk merunutkan konsep yang jika ia terus tercampur aduk, maka akan menimbulkan lebih banyak lagi semangat buta dalam membela lingkaran setan peperangan dan pembalasannya ini.

[Disalin dari Dr. Iyad Qunaibi : “Apa yang Kalian Maksud dengan Shahawat?”]

  1. Beranda
  2. /
  3. Selainnya
  4. /
  5. Siapa yang Dimaksud dengan Shahawat?