data:post.title

Diskusi bersama Syaikh al-Albani: Kalimat Terakhir

Diskusi bersama Syaikh al-Albani: Kalimat Terakhir

Diskusi bersama Syaikh al-Albani: Kalimat Terakhir

Oleh Syaikh Dr. ‘Abdul Akhir Hammad al-Ghunaimi

Kalimat terakhir ini saya tujukan kepada beliau syaikh Al Albani hafidzahullah, sebagai bentuk nasehat yang Allah wajibkan atas kaum muslimin. Saya katakan: “Wahai syaikh, telah banyak majelis anda yang membahas orang-orang yang tidak sependapat dengan anda seperti dalam masalah-masalah yang kami sebutkan pada lembaran-lembaran sebelum ini, atau di tempat lain. Kami menyaksikan — sebagaimana orang lain menyaksikan — sikap anda yang sangat keras terhadap orang yang tidak sependapat dengan anda. Anda menuduh mereka bodoh, sedikit ilmu, menyelisihi firqah najiyah, dan tuduhan-tuduhan lain yang anda sebutkan dalam banyak majelis. Boleh jadi inilah pendapat anda terhadap orang-orang yang tidak sependapat dengan anda. Namun apa pendapat anda mengenai para penguasa sekuler yang memegang kekuasaan di negeri-negeri kaum muslimin, berhukum dengan selain hukum Allah dan menimpakan bermacam-macam siksaan kepada para da’i? Sekalipun anda tidak meyakini kafirnya mereka, kami mengira paling tidak anda meyakini mereka itu fasiq, dzalim dan jauh dari syariat Allah.
Jika anda tidak mampu mengkritik mereka secara terang-terangan, apakah anda tidak bisa bersikap seimbang dalam perkataan anda, misalnya dengan mengatakan —selain keras terhadap orang-orang yang tidak sependapat dengan anda—,” Sesungguhnya sebab kerusakan yang terjadi adalah para penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, kalau mereka berhukum dengan syariat Allah tentulah mereka telah mampu menyelesaikan berbagai problem yang ada.”
Bahkan saya meminta syaikh untuk melakukan hal yang lebih mudah dari hal ini, hendaklah beliau memberikan nasehat yang lunak kepada para penguasa tersebut; terangkan kepada mereka wajibnya menerapkan syariah Allah, bersikap lemah lembut kepada rakyat dan beramal sholih untuk kebaikan umat. Jika syaikh Albani berpendapat hal ini sama sekali tak ada gunanya, kenapa beliau tidak pernah memperhitungkan kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan beliau terhadap orang-orang yang tidak sependapat dengan beliau? Bukankah mereka juga saudara beliau yang mencintai dan menghormati beliau, banyak di antara mereka yang belajar melalui buku-buku beliau atau mengambil manfaat dari beliau? Apakah lantang menyuarakan kebenaran itu hanya di hadapan orang-orang lemah tertindas, yang dhahir amal mereka menunjukkan mereka beramal hanya demi kebenaran semata?
Secara jujur saya katakan kepada syaikh, ”Sungguh kalimat-kalimat anda ini kepada para pemuda Mesir yang disiksa ini lebih menyakitkan dari siksaan cemeti para penyiksa. Karena para penyiksa itu sudah sama-sama diketahui memusuhi dakwah. Dari mereka tak mungkin ditunggu selain pemberangusan dan penyiksaan para da’i. Adapun anda, para pemuda yang disiksa ini tetap melihat anda dengan menganggap anda seorang ulama umat Islam, mereka meminta bantuan kepada anda meski sekedar doa yang benar”.
Tetapi ternyata mereka mendapati anda —mungkin tanpa kesengajaan anda— berada di parit para thaghut, anda membela para thaghut dan membodoh-bodohkan mereka yang mengkafirkan para thaghut, anda menuduh mereka dengan tuduhan-tuduhan keji. Sungguh para thaghut adalah orang yang paling bahagia dengan perkataan-perkataan anda, wahai syaikh yang terhormat. Mereka memanfaatkannya semaksimal mungkin —perkataan anda— untuk meruntuhkan semangat para pemuda dan menggoyang kepercayaan para pemuda terhadap para ulama mereka dengan membuat perselisihan antara para pemuda dakwah dengan para ulama mereka.
Terakhir saya katakan kepada syaikh, sesungguhnya rasa cinta kami kepada beliaulah yang mendorong kami menulis tulisan ini sebagai sebuah koreksi, nasehat dan kecintaan terhadap perbaikan. Saya berdoa kepada Allah untuk diri saya sendiri, untuk anda dan segenap kaum muslimin agar dikarunia keikhlasan dalam berkata dan berbuat, kembali kepada kebenaran dan husnul khatimah. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas hal itu. Amien.
Walhamdulillahi Rabbil ’alamien.
Catatan Blogger:


Sumber: http://mi-wp.blogspot.com/2011/06/bantahan-atas-syaikh-al-bani-bagian.html?m=1
  1. Beranda
  2. /
  3. Selainnya
  4. /
  5. Diskusi bersama Syaikh al-Albani: Kalimat Terakhir