data:post.title

Diskusi bersama Syaikh al-Albani: Penjelasan Penting tentang Kondisi Mesir

Diskusi bersama Syaikh al-Albani: Penjelasan Penting tentang Kondisi Mesir

Diskusi bersama Syaikh al-Albani: Penjelasan Penting tentang Kondisi Mesir

Oleh Syaikh Dr. ‘Abdul Akhir Hammad al-Ghunaimi

Hal penting yang perlu diingatkan di sini, banyak sekali orang berbicara tentang peristiwa yang terjadi di Mesir dan negeri-negeri lainnya, namun mereka tidak mengetahui banyak kondisi yang sebenarnya dari negara tersebut. Akibatnya timbullah kesalahan dalam menyimpulkan sebuah hukum. Contoh mudahnya adalah apa yang kami sebutkan sebelum ini tentang tuduhan bahwa Jama’ah Islamiyah Mesir mengeluarkan fatwa bolehnya bunuh diri bagi anggotanya yang ditangkap dan diinterogasi pemerintah. Contoh lain yang lebih penting, bahwa peristiwa yang terjadi beberapa tahun belakangan ini di Mesir bukanlah usaha menjatuhkan pemerintah Mesir, melainkan usaha darurat mempertahankan diri. Jama’ah Islamiyah Mesir memang menyatakan wajibnya keluar dari pemerintah kafir, namun Jama’ah Islamiyah Mesir memandang untuk mengakhirkan hal itu sampai persiapan untuk itu sempurna, sehingga maslahat keluar dari penguasa kafir adalah maslahat rajihah (kuat). Sebagai ganti dari itu semua, konsentrasi dialihkan kepada dakwah, mentarbiyah anggota, menyebarkan aqidah shahihah, konsentrasi dengan menuntut ilmu dengan disertai merubah kemungkaran yang dhahir yang mampu dirubah.
Namun pemerintah sekuler Mesir tetap tidak memberi kesempatan kepada Jama’ah Islamiyah Mesir untuk meneruskan dakwah seperti ini sampai waktu memetik buahnya. Pemerintah sekuler Mesir terus berusaha memberangus dakwah ini. Pemerintah memulai dengan penangkapan besar-besaran dan penyiksaan di luar batas kemanusiaan, menahan wanita-wanita, menyerbu masjid-masjid, membunuh para dai di jalan-jalan dan serambi masjid. Mereka tidak mempunyai alasan untuk melakukan itu semua, kecuali untuk mencekik dakwah dan mencegah perkembangannya. Bahkan tujuan utama pemerintah ini tidak tersembunyi lagi, yaitu menghancurkan Jama’ah Islamiyah Mesir dan jama’ah-jama’ah lain yang disebutnya dengan kaum fundamentalis. Seorang yang mengerti tentang pemerintah seperti pemerintahan Mesir ini tentu juga mengetahui, bahwa setelah jama’ah-jama’ah ”fundamentalis” ini berhasil dihancurkan, usaha pemerintah tidak akan selesai. Mereka akan meneruskannya dengan jama’ah-jama’ah yang terkadang disebutnya sebagai jama’ah “moderat”, seperti ikhwanul muslimin dan lain-lain.
Jama’ah Islamiyah Mesir pada tahun 1408 H telah mengeluarkan sebuah buku kecil dengan judul “Laporan Penting”, dalam buku itu Jama’ah Islamiyah Mesir menulis nama-nama dan jumlah anggota Jama’ah Islamiyah Mesir yang ditahan, disiksa, dibunuh, penahanan wanita dan pengguguran kandungan wanita-wanita anggotanya oleh rezim pemerintah sekuler Mesir. Di akhir buku kecil tersebut, Jama’ah Islamiyah melontarkan sebuah pertanyaan, ”Apakah jika kami mengangkat senjata setelah ini semua terjadi, untuk membela nyawa kami, kami masih tetap dikatakan da’i-da’i keras dan teroris?”
Dari sini Jama’ah Islamiyah melihat kondisinya adalah membela diri yang tidak mungkin ditunda-tunda. Tak diragukan lagi jihad membela diri (defensif) tidak disyaratkan syarat-syarat yang terdapat pada jihad menyerang (ofensif). Yang harus dilaksanakan adalah membela diri semampunya sesuai sarana yang ada. Sikap orang-orang yang membela diri ini mengatakan, ”Jika pemerintah yang durjana ini tidak bertujuan kecuali untuk membunuh kami, maka itu hanya akan terjadi setelah kami membuat mereka merasakan gelas kematian sebelum mereka menuangkan gelas kematian tersebut kepada kami. Kami harus menimpakan kepada mereka pelajaran yang membuat mereka berfikir seribu kali sebelum mereka berfikir sekali lagi untuk memerangi para dai.”
Sebagai akibat dari pemahaman ini, kita lihat para pemuda melawan tentara-tentara penakut yang menamakan dirinya secara dusta tentara-tentara keamanan, yang akan menciduk mereka. Mereka tidak menyerah, tetapi tetap berperang hingga terbunuh atau Allah menyelamatkan mereka dari tentara-tentara penakut tersebut. Mereka memahami betul perkataan Imam Ahmad mengenai kondisi seperti ini, ”Saya tidak senang jika ia ditawan. Jika ia berperang itu lebih aku sukai karena ditawan itu urusannya berat. Hendaklah ia berperang, meskipun mereka memberi jaminan keamanan karena mereka mungkin saja mengingkari jaminan tersebut.” [Al Furu’ karya Ibnu Muflih VI/201-202].
Para pemuda yang memberikan perlawan ini mengerti betul, urusannya tak begitu saja selesai dengan masuknya mereka ke penjara. Mereka akan disiksa dengan siksaan di luar ambang batas kemanusiaan sampai mereka mau menunjukkan tempat saudara-saudaranya dan mengakui tuduhan yang dilontarkan para penginterogator, padahal perbuatan yang dituduhkan tersebut tidak mereka lakukan. Belum lagi penghinaan terhadap saudara muslim yang tertawan ini dari pemerintah yang durjana ini. Para pemuda ini mengerti betul, mereka akhirnya pasti akan dibunuh, senbagian mereka dihukum mati melalui apa yang mereka namakan mahkamah militer. Tak diragukan lagi ia bertempur sampai mati dan tidak menyerah, dalam kondisi seperti ini adalah lebih baik dan lebih mulia.
Para pemuda tadi sudah berusaha memberitahukan kondisi sebenarnya yang terjadi di Mesir ini kepada saudara-saudara mereka, sesama umat Islam, namun usaha ini terbentur di satu pihak oleh keterbatasan sarana dan di lain pihak mass media pemerintah yang senantiasa memputar balikkan fakta tentang para da’i dan mujahidin dengan menggambarkan mereka sebagai kelompok teroris yang tak mempunyai keinginan selain merusak stabilitas nasional.
Untuk membantu menyampaikan kondisi sebenarnya yang terjadi di Mesir, di akhir buku ini kami lampirkan sebuah penjelasan resmi Jama’ah Islamiyah yang telah disebarkan bertepatan dengan hari Iedul Adha tahun 1413 H. Penjelasana tersebut ditulis oleh saudara Thal’at Yasin, seorang da’I dan pimpinan Jama’ah Islamiyah. Ketika pemerintah Mesir melancarkan penumpasan terhadap “teroris”, ia memimpin gerakan militer. Dalam penjelasana tersebut, ia mengisahkan dengan bahasa yang menggetarkan bagaimana seorang pemuda muslim berubah, dari sekedar berdakawah dengan lisan, menjadi seorang mujahid yang mengangkat senjata demi membela dien, nyawa dan kehormatan. Tak lebih dari satu tahun setelah penjelasan resmi ditulis, saudara Thal’at Yasin telah terbunuh di tangan tentara pemerintah. Departemen Dalam Negeri mengatakan ia terbunuh saat melawan tentara pemerintah yang akan menawannya. Kita berdoa kepada Allah semoga menerimanya di barisan syuhada’ dan menerima amalnya.


Sumber: http://mi-wp.blogspot.com/2011/06/bantahan-atas-syaikh-al-bani-bagian.html?m=1
  1. Beranda
  2. /
  3. Selainnya
  4. /
  5. Diskusi bersama Syaikh al-Albani: Penjelasan Penting tentang Kondisi Mesir