Biografi Syaikh Sulaiman bin Nashir al-‘Ulwan
Biografi Syaikh Sulaiman bin Nashir al-‘Ulwan
Biografi Syaikh Sulaiman bin Nashir al-‘Ulwan
Profil Syaikh Sulaiman bin Nashir al-‘Ulwan
Nama: Abu ‘Abdillah Sulaiman bin Nashir bin ‘Abdullah al-‘Ulwan
TTL: Arab Saudi, 1969
Daftar Guru:
1. Hammad al-Anshari
2. Hamud bin al-‘Uqla asy-Syu‘aibi
Daftar Kitab:
1. At-Tibyan Syarh Nawaqidhil Islam
2. Risalah fi Ahkam Qiyamul Lail
3. Al-Jalasatul ‘Ilmiyyah
4. Al-Qaulul Mubin
5. Al-Qaulur Rasyid fi Haqiqatut Tauhid
6. Al-Ijabah al-Mukhtasharah
Beliau lahir dan dibesarkan di kota Buraydah, provinsi Al-Qasīm, Kerajaan Arab Saudi, pada tahun 1389 H atau 1969 M. Beliau merupakan salah satu dari sembilan putra; tiga kakak dan lima adik. Syaikh Sulaymān memulai studinya pada tahun 1404 H. ketika beliau berusia 15 tahun, di tahun ketiganya sekolah menengah. Setelah menyelesaikan sekolah menengah, beliau menghabiskan tidak lebih dari 15 hari di sekolah menengah atas sebelum memutuskan untuk meninggalkan institusi tersebut dan sepenuhnya masuk ke dalam studi ilmu Syari’ah dan ilmu-ilmu Islām, belajar dari para ulama dan membaca serta mengulas kitab-kitab mereka. Beliau menikah pada tahun 1410 H. dan memiliki tiga putra, yang tertua adalah ‘Abdullāh.
Selama hari-hari pertama, beliau menunjukkan kemampuan hebat dalam menghafal dan menunjukkan pemahaman yang sangat mendalam tentang tulisan-tulisan berbagai ilmu Syari’ah. Dan dari asal-mula studi eksklusifnya, Syaikh Sulaymān telah menghabiskan sebagian besar hari-harinya dengan membaca, menghafal dan mengulas kitab-kitab.
Awalnya, beliau memfokuskan pada tulisan-tulisan Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Aimmah Najd, Ibnu Rajab, Sīrah Nabawiyyah dari Ibnu Hisyam dan Al-Bidāyah wan-Nihāyah dari Ibnu Katsīr. Dan beliau akan mengulasnya dengan para ulama, tergantung pada bidang keahlian mereka. Beliau biasa mengunjungi empat ulama berbeda setiap hari; satu setelah Fajar, satu lagi setelah Zhuhur, satu lagi setelah Maghrib dan satu lagi setelah Isyā’. Dan beliau tetap mengikuti rutinitas ini setiap hari, kecuali hari Jum’at, sampai–sampai beliau mulai belajar dari semua aliran Fiqh [Madzāhib] dan fatāwa dari Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan Ibnu Hazm –rahimahumullāh-. Ketika ditanya tentang berapa banyak waktu yang dihabiskannya dalam membaca, menghafal dan mengulas, Syaikh menjawab, “Kurang lebih 15 jam per hari.” Pada tahun 1410 H, beliau mulai memberi durūs (pelajaran) di rumahnya, dan pada tahun 1411 H beliau mulai memberikan durūs di Masjid rutin selama seminggu setelah Shubuh, Zhuhur dan Maghrib.
Ketika beliau melakukan perjalanan ke Madīnah, beliau mulāzamah bersama Syaikh Hammād Al-Anshārī yang mengeluarkan Ijāzah untuk mengajarkan Kutūbus-Sittah (6 Kitab Hadits) serta “Musnad Ahmad”, “Muwaththa’ Imām Mālik”, Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibbān, dan Mushannaf ‘Abdur-Razzāq dan Ibnu Abī Syaibah. Syaikh Hammād juga mengeluarkan Ijāzah untuk Tafsir Ibnu Jarîr dan Tafsir Ibnu Katsir. Dan dalam tata bahasa Arab, Alfiyyah oleh Ibnu Mālik dan banyak kitab Fiqh. Dan selama mulāzamah ini, beliau mendengar Syaikh membacakan hadīts, “Yang Maha Penyayang [Ar-Rahmān] mengasihani mereka yang menunjukkan belas kasihan [kepada orang lain].” Dan inilah hadits pertama yang beliau dengar dengan sanad riwayat.
Beliau pergi ke Mekkah dan mulāzamah bersama para ulama di sana dan menerima Ijāzah serupa untuk mengajar kitab-kitab dari Sunnah, Tafsir dan Fiqh.
Syaikh Sulaymān Ibn Nāsir al-'Alwān telah hafal 9 kitab hadits [kutūb tis’ah], dan hafal kitab-kitab Madzāhib sampai-sampai beliau hafal kitāb Al-Mughnī karya Imām Ibn Qudāmah al-Maqdisī [رحمه الله].
Beliau berguru kepada Syaikh Prof. Dr. Hamūd ibn al-‘Uqlā’ asy-Syu'aibi [رحمه الله]. Sedikit berkisah tentang Syaikh Hamūd ibn al-‘Uqlā’, beliau merupakan ulama asal Bilādul Harāmain (Saudi) yang mendapat gelar Professor, seorang yang pernah mengajar di LIPIA Pusat di Riyadh selama sekitar 40 tahunan, menghasilkan murid-murid seperti Shālih al-Fauzan (Kibārul 'Ulamā), Salmān al-Audah, dan Syaikhunā 'Ali al-Khudhair -fakkAllāhu asrah-, Syaikhunā al-Muhaddits Sulaymān ibn Nāsir al-'Ulwān -fakkAllāhu asrah-, dan masih banyak lagi.
Namun murid yang 'Aqidah-nya mengikuti beliau hanyalah Syaikh Ali al-Khudhair dan Syaikh Sulayman al-'Ulwan -fakkullāhu asrahuma-, adapun selebihnya adalah para penjilat penguasa karena di akhir hidupnya murid-murid yang pernah beliau ajar sudah tak menganggap beliau sebagai ulama lagi, di antara murid yang durhaka itu adalah Shalih al-Fauzan. Sehingga Syaikh Hamud wafat di penjara Saudi, karena mengecam keberadaan pangkalan Salibis USA di Jazirah Arab.
Berikut perkataan Syaikh Hamūd al-‘Uqlā’ [رحمه الله] mengenai Syaikh Sulaymān al-‘Ulwān:
لقد التقيت بكثير من الحفظة لم أرى من جمع بين الحفظ والفهم إلا الشيخ سليمان فإني لا أعرف أحد في المملكة يضارعه في ذلك
"Sungguh aku telah bertemu dengan banyak dari Hāfizh, namun aku tak melihat seseorang yang terhimpun antara hafalan dan pemahaman kecuali Syaikh Sulaymān, karena sungguh tak kuketahui seorang pun di kerajaan (Saudi) ini yang bisa menandinginya dalam demikian.”
Beliau juga berkata:
كل شيوخ القصيم أنا شيخهم إلا العلوان فهو شيخي
“Setiap Syuyūkh al-Qasīm[1], aku adalah Syaikh mereka, kecuali al-‘Ulwān. Karena dia adalah Syaikh-ku.”
Beliau juga berguru kepada Ibn ‘Utsaimīn, saat itu Ibn ‘Utsaimīn berusia 40 tahun lebih tua dari Syaikh al-‘Alwān, namun telah membacakan kepada Syaikh Sulaymān al-‘Alwān & memintanya untuk memberikan komentar untuk Syarh-nya dari sebuah kitāb Fiqh dan merevisinya untuk kedua kalinya setelah Syaikh al-‘Alwān membuat lebih dari 30 komentar. Ibn ‘Utsaimīn biasa memanggil Syaikh dan bertanya kepadanya tentang keshahīhan ahādits tertentu dan mengikuti apa yang dia katakan, dan karena itulah kita akan menemukan secara online “Hadits ini dishahīhkan oleh al-‘Alwān, disetujui oleh Ibn ‘Utsaimīn”.
Syaikh Sulaymān al-‘Alwān bahkan diminta untuk berada di antara Ulamā Kibār setelah menjalani hukuman di penjara jika ia berbicara menentang otoritas, namun beliau tetap teguh. Beliau berkata kepada mereka, “Allah telah memberi saya restu untuk menjelaskan Kitāb at-Tauhīd 60 kali dalam hidupku, dan sekarang saya ‘menjelaskannya’ dengan tindakanku.”
Beliau kembali untuk memberikan pelajarannya di Masjid, menyajikan pelajaran dalam kitab-kitab hadīts, di antaranya:
Shahīh Al-Bukhārī, Jāmi’ At-Tirmidzī, Sunan Abi Dāwūd, Muwaththa’ Mālik, Bulūghul Marām, ‘Umdatul Ahkām, dan Al-Arba'īn An-Nawawiyyah. Beliau juga memberikan pelajaran dalam klasifikasi dan terminologi/peristilahan hadits (Musthalahul Hadīts) serta kecacatannya [‘Ilal], Fiqh, Nahwu Sharaf, dan Tafsir. Dan dari pelajaran yang beliau berikan dari kitab-kitab ‘Aqīdah diantaranya:
Al-‘Aqīdah At-Tadmuriyyah, Al-‘Aqīdah Al-Hamawiyyah, Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, Kitāb At-Tauhīd dari Imām Muhammad Ibn ‘Abdil-Wahhāb, Asy-Syari'ah dari Al-Ājurrī, As-Sunnah dari ‘Abdullāh Ibnu Imām Ahmad, As-Sunnah dari Ibnu Nashr, Al-Ibānah dari Ibnu Baththah, As-Sawā’iq dan An-Nūniyyah keduanya dari Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
Namun, Syaikh kemudian dilarang untuk memberikan pelajaran di Masjid oleh otoritas Saudi karena alasan yang tak jelas. Selama periode ini, Ibn Bāz melakukan beberapa upaya, dari menulis kepada otoritas Saudi dan meminta mereka untuk mengizinkan Syaikh al-‘Ulwān melanjutkan pelajarannya di Masjid. Namun permohonan ini diabaikan dari waktu ke waktu. Dan sebelumnya, Ibn Bāz mendorong Syaikh al-‘Ulwān untuk tetap sabar dan terus memberikan pelajarannya. Dan Ibn Bāz memuji kitab-kitab Syaikh dalam sebuah surat. Syaikh kemudian diizinkan untuk memberikan pelajaran kepada umum di Masjid lagi pada tanggal 6/3/1424 H setelah tujuh tahun dilarang.
Diriwayatkan pula bahwa Syaikh Sulaymān al-‘Ulwān telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’ān pada usia 18 tahun, dan telah menghafal Mutūn (matan-matan) dan mempelajari Syarah-nya dari:
Kitab at-Tauhid, al-Wasitiyyah, al-Hamawiyyah, al-Baiquniyyah, Umdatul Ahkam, al-Ajrumiyyah, Nukhbat al-Fikr, ar-Rahbiyyah, Bulughul Marām, al-Ushul ats-Tsalātsah, al-Waraqāt, Mulhat al-I’rab, Alfiyyah, dan Kasyfusy Syubuhāt. Serta enam kitab hadits yaitu al-Bukhārī, Muslim, at-Tirmidzī, Abu Dāwud, an-Nasā'ī, dan Ibnu Mājah.
Syaikh juga menghadapi beberapa pertentangan dari orang-orang sezamannya mengenai beberapa pendapat Fiqh yang beliau pegang, seperti sucinya darah dan alkohol [maksudnya bahwa pada dasarnya tidak najis] dan kebolehan membaca Al-Qur’ān (tanpa menyentuhnya) bagi orang-orang yang junub, dan lain-lain. Dan suatu waktu, Syaikh dipenjara karena sebuah risalah yang ditulisnya mengenai Bid’ah mengadakan perayaan dan ucapan selamat bagi mereka yang menyelesaikan hafalan Al-Qur’ān, karena pendapatnya bahwa perayaan ini tidak ada pada zaman Nabi -Shallallāhu ‘Alaihi Wasallam-, tidak pula zaman Shahābat, Tābi’īn, tidak pula zaman Aimmah Arba’ah. Sehingga beliau dipenjara bersama mereka yang memiliki pendapat yang sama di Riyādh, akhir bulan Dzulhijjah 1407 H selama delapan belas hari.
Syaikh Sulaymān juga ditangkap dan dipenjara lagi pada tanggal 28 April 2004 oleh otoritas Saudi hingga sembilan tahun berlalu tepat tanggal 5 Desember 2012 beliau dibebaskan. Belum genap setahun, rezim Saudi kembali memenjarakan ulama ahli hadits ini pada tanggal 3 Oktober 2013 dijatuhi hukuman 15 tahun penjara karena berbagai dakwaan terhadap beliau terkait pemberian dana untuk mujāhidin Irak, pemberian fatwa pembenaran serangan 9/11 dan istisyhadiyyah, tidak mengakui keabsahan kerajaan Saudi, mentakfir kerajaan Saudi, hingga beliau tak asing lagi dengan ‘Universitas Yusuf’ ini.
Di antaranya keteguhan beliau adalah setelah Syaikh Sulaymān al-‘Ulwān divonis penjara 15 tahun pada tahun 2013 lalu, beliau diminta untuk menyerah atas dua perkara dengan imbalan pembebasan segera dan dihentikannya penganiayaan;
- Menyatakan bahwa para penguasa Arab Saudi adalah penguasa yang sah dari ummat Islam.
- Menyatakan bahwa pengadilan Arab Saudi diatur oleh Syari’ah, dan bukan oleh keinginan raja (bukan menurut Hukum ALLAH).
Ketika menerima tawaran tersebut, Syaikh menjawab, “Walau kalian memenggal kepalaku, aku takkan mengatakannya!”
Pernah juga suatu ketika intelijen Saudi menginterogasi dan mengancam beliau dengan siksaan, mereka berkata, “Apakah engkau masih di atas manhajmu?” Maka Syaikh dengan tegas menjawab, “Cambuk tidak mengubah Imām Ahmad, tidak pula Ibnu Taimiyyah!”
Sebagai ulama, beliau tentu banyak menorehkan tulisan-tulisan beliau dalam banyak kitab diantaranya;
- Tanbīhul Akhyār ‘alā ‘Adam Finā’ an-Nār
- At-Tibyān Fī Syarh Nawāqidh al-Islām (sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia)
- Syarah Bulūghul Marām
- Ahkām Qiyām Lail
- Al-Istinfār Lidz dzabb ‘anish-Sahābah al-Akhyār
- Ala Inna Nasrullāhī Qarīb (sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia)
- Syarh al-Ushūl ats-Tsalātsah
- Syarh Kitāb at-Tauhīd
- Hukm ash-Shalāt ‘alal-Mayyit al-Ghāib
- Hukm al-’Ihtifāl bil-A‘yād.
Semoga Allah membebaskan beliau, serta menjaga & meneguhkan beliau di atas Kebenaran.
(Diterjemahkan dan disusun dari berbagai sumber oleh Abu Mu’ādz al-Jāwīy pada 26/03/1439 dan terakhir pada 13/10/1439)
[1] Al-Qasim merupakan salah satu provinsi di Arab Saudi.