data:post.title

Biografi Syaikh Yusuf bin Shalih al-‘Uyyairi

Biografi Syaikh Yusuf bin Shalih al-‘Uyyairi

Biografi Syaikh Yusuf bin Shalih al-‘Uyyairi

Profil Syaikh Yusuf bin Shalih al-‘Uyyairi 

Nama: Yusuf bin Shalih bin Fahd al-‘Uyyairi
TTL: Arab Saudi, 24 April 1974

Riwayat Pendidikan:

1. Kamp Pelatihan al-Faruq

Daftar Kitab:

1. Haqiqah Harb
2. Tsawabit ’ala Darbil Jihad
3. Duran Nisa
4. Al-Mizan li Harakah Thaliban
5. Hidayyah
6. Silsilah Harb

Nama lengkapnya adalah Yusuf bin Shalih bin Fahd Al-Ayiri. Ia adalah seorang hafidz, ulama dan mujahid fi sabilillah. Seorang Arab yang lahir di daerah Dammam, pada hari Senin, 1 Rabiul Tsani 1394 H. Keluarganya adalah kalangan “berada”. Ayahnya seorang saudagar kaya yang diberi kemudahan Allah dalam hal rezeki. Namun, kondisi ini tidak membuat Yusuf lalai dan terbuai. Ia lebih memilih jalan jihad dan meraih kemuliaan hakiki dengan kesyahidannya.

Ayah Yusuf adalah seorang bijaksana. Dia tidak pernah memaksakan kehendak anak. Sebaliknya, ia sangat mendukung dan ridha dengan pilihan hidup anaknya sendiri. Terlebih lagi ibunda Yusuf, tak bosannya memberi motivasi keteguhan, pengukuhan hati dan nasihat kepada anak tercintanya.  Sungguh demi Allah, ia adalah seorang ibu mulia yang melahirkan seorang pahlawan gagah berani yang tidak takut mati.

Informasi tentang pendidikannya tidak terlalu mendetail. Yusuf hanya diketahui menamatkan jenjang mutawasithah dan tsanawiyah selama tiga bulan. Setelah itu, hatinya terpanggil dengan seruan jihad dari Afghanistan. Ya, di usia sebelia itu –sekitar 18 tahun—kesadaran hati Yusuf terhadap jihad sudah tumbuh. Kesadaran itu pun segera ia amalkan dengan hijrah ke bumi jihad Afghanistan.

Kehidupan di Afghanistan

Di umur yang masih belia, Yusuf hijrah ke Afghanistan untuk bergabung dengan para mujahid di sana. Di Afghan, Yusuf langsung ikut berbaur di barisan mujahidin dan menetap di kamp Al-Faruq. Karena keuletan dan kecerdasannya, ia diangkat sebagai salah satu pelatih di kamp itu pada masa perang pertama melawan Uni Soviet. Subhanallah, seperti Usamah bin Zaid yang diberi kepercayaan Rasul memimpin pasukan para sahabat, Yusuf pun di usia belia sudah dipercaya menjadi pelatih di kamp Al-Faruq.

Salah satu bentuk pelatihan yang ia ajarkan adalah tentang keuletan dan kesungguhan. Suatu hari saat latihan, Yusuf mengatakan pada mujahidin lain, “Saya akan mengadakan sebuah latihan yang tidak akan ada seorangpun mampu mengikuti dan menyelesaikannya selain orang-orang yang memiliki tekad kuat. Dalam training tersebut saya akan mulai dengan latihan senjata-senjata berat dan akan diakhiri dengan senjata-senjata ringan.”

Benar, pelatihan itu dimulai dengan tata cara mengendarai tank dan berjalan selama empat bulan. Setelah itu dilanjutkan dengan latihan menggunakan pistol. Sedikit sekali pemuda yang bertahan dalam latihan berat itu.

Salah satu alasan kenapa Yusuf dipilih menjadi pelatih dalam kamp adalah karena hafalannya yang luar biasa. Ia mampu menghafal berbagai persenjataan dan data-data yang sangat mendetail mengenai senjata-senjata tersebut. Di samping itu, Yusuf juga mempunyai kesabaran yang mengagumkan saat menghadapi berbagai kesulitan dalam perjuangan.

Pada tahun 1994, Yusuf dipercaya menjadi pengawal pribadi Syaikh Usamah bin Ladin Rahimahullah saat bepergian menuju Sudan. Karena kebersamaannya bersama Yusuf inilah, akhirnya Syaikh Usamah mengenal pribadi Yusuf. Amir Al-Qaidah ini mengagumi berbagai kemampuan dan kecemerlangan berfikir Yusuf Al-Ayiri, sehingga Syaikh Usamah menceritakan kepadanya beberapa urusan-urusan penting.

Begitu pula bagi Yusuf, pengalaman ini membuatnya benar-benar tahu bagaimana kepribadian Syaikh Usamah yang begitu santun. Hingga saat-saat tidak lagi bersama Syaikh Usamah membuat Yusuf merasa rindu untuk bersama beliau kembali. Yusuf juga berkesempatan bertemu dengan Syaikh Abu Hafs Al-Masri, besan Syaikh Usamah. Dia begitu mengagumi Syaikh Abu Hafs karena berbagai operasi serangan yang dipimpinnya saat di Somalia.

Yusuf juga berkesempatan ikut dalam lawatan ke berbagai negara yang menjadi bumi jihad. Ia ikut dalam peperangan yang berkecamuk di Somalia melawan pasukan Amerika. Mujahid Arab ini termasuk orang yang memiliki peran penting dalam mengusir dan mengalahkan pasukan Amerika, dimana pada saat itu para pemuda Islam seusianya tengah lalai dengan kondisi umat.

Yusuf pun menyempatkan diri untuk berkunjung ke Saudi dan bertemu beberapa ulama ternama saat itu. Secara khusus, Yusuf bertemu dengan Syaikh Salman Al-Audah untuk membicarakan beberapa proyek dan pekerjaan. Syaikh Salman berkata pada Yusuf, “Sungguh menjadi kehormatan bagiku menjadi salah satu tentara dari Abu Abdullah (Syaikh Usamah).

Ketika terjadi tragedi Bosnia, Yusuf segera berangkat dan membantu ikhwah di sana. Begitu pula krisis yang terjadi di Kosovo, ia berperan sebagai pengumpul dana dan memberikan bantuan kepada muslim Kosovo dengan harta pribadinya. Yusuf juga membuat sebuah program selama dua pekan bagi siapa saja yang ingin pergi ke Bosnia. Program itu berupa latihan fisik dan lain-lain yang dibutuhkan sebelum sampai ke bumi Bosnia.

Pengakuan yang Tak Diinginkan Saat di Penjara

Pada tahun 1996, terjadi ledakan pada pangkalan AS di Kobar, Saudi. Yusuf dituduh sebagai dalang dari operasi tersebut, ia pun dijebloskan ke dalam penjara reserse umum. Yusuf disiksa dengan siksaan yang keji dan interogasi yang keras. Salah satu saksi mata mengatakan, “Kami lihat Syaikh diangkut memakai usungan setiap kali selesai interogasi, lantaran berbagai siksaan berat yang ia alami. Syaikh Yusuf dicambuk dengan keras, dicabuti jenggot beliau yang suci dan berbagai siksaan lainnya. Akhirnya hal itu menyebabkan Syaikh Yusuf mengaku kepada anjing-anjing reserse Saudi bahwa dialah yang melakukan peledakan.”

Yusuf Al-Ayiri pun menyebutkan alasan mengapa ia mengaku sebagai pelaku pemboman. Ia menceritakan, “Setelah beberapa hari kulalui dalam penjara, dalam penyidikan dan penyiksaan yang luar biasa, saya meminta kepada polisi untuk bertemu dengan pimpinan penjara karena ingin menyampaikan kepadanya informasi penting. Benar, saat itu permintaanku dikabulkan. Saya pun dipanggil dari sel dan didudukkan di atas sofa yang sangat mewah pada sebuah ruangan. Kemudian mereka membawaku ke kantor pimpiman tertinggi yang di sekelilingnya para polisi yang telah siap dengan pena dan buku tulis di tangan yang akan menulis semua pengakuan yang akan kusampaikan kepada mereka. Ketika mereka mendudukkanku dalam keadaan dirantai, sipir penjara itu mengatakan kepadaku, ‘Informasi apa yang kamu miliki? Silahkan sampaikan pengakuanmu’.”

“Maka dengan nada dingin saya katakan kepada mereka, ‘Saya tahu bahwa kalian malu tidak mendapatkan informasi tentang orang yang melakukan peledakan itu. Akan tetapi saya akan merelakan diriku untuk kalian. Saya akan memberikan pengakuan bahwa dirikulah yang melakukan peledakan itu dan siap menebus tanggung jawab itu dengan nyawaku’.” kata Yusuf.

Seorang tentara AS berdiri di dekat reruntuhan bangunan di Kobar, Arab Saudi. Bom Kobar dilakukan oleh orang Syiah yang berafiliasi dengan Hizbullah.

Yusuf pun melanjutkan, “Demi Allah kami tidak sanggup merasakan penyiksaan. Iman kami hampir-hampir rusak karenanya. Maka kematian itu lebih ringan bagi kami daripada penyiksaan.”

“ Maka, ketika saya selesai berbicara sipir penjara langsung melemparkan asbak kaca ke wajahku, dan mengatakan,’ Keluarkan dan beri pelajaran padanya!!!’.” ujarnya menirukan.

Siksaan pun terus berlanjut dan justru lebih dahsyat. Sampai suatu saat Allah menyingkap siapa sebenarnya aktor dari peledakan itu. Yusuf pun kembali bercerita, “Suatu hari saya dibawa menghadap kepada polisi. Lalu dengan bisik-bisik dia mengatakan kepadaku, ‘Kusampaikan kabar gembira kepadamu. Kami telah mengetahui aktor peledakan yang sebenarnya. Dia bukan dari kelompokmu akan tetapi dari kalangan Rafidhah (Syiah) akan tetapi jangan kamu beritahukan kepada siapapun!!’.”

Yusuf melanjutkan, “Kemudian mereka mengembalikanku ke dalam sel. Mulai saat itu penyiksaan kepada para pemuda mujahidin berhenti, khususnya yang terkait dalam kasus peledakan. Kemudian pimpinan penjara mengumpulkan semua petugas dan mengatakan kepada mereka, ‘Berikan kepada masing-masing tersangka peledakan tuduhan lain yang dapat menjerat mereka secara hukum!!’. Akhirnya, masing-masing ikhwah diberikan satu tuduhan baik berupa takfir (suka mengkafirkan orang Islam) atau yang lainnya. Kemudian mereka dijatuhi hukuman oleh pengadilan syariat Saudi.”

Setelah tuduhan peledakan bom tidak terbukti, Yusuf masih mendekam di penjara. Pada suatu waktu, Yusuf dikumpulkan dengan orang-orang Rafidhah, diantara mereka ada yang setingkat ayatullah atau sayyid. Di sana, Yusuf berdialog dan berdiskusi dengan orang Syiah sampai-sampai ayatullah mereka melarang orang-orang Rafidhah lainnya untuk mendekati atau bergaul dengannya.

“Pernah suatu saat saya pura-pura tidur. Lalu ayatullah mereka mulai berbicara dan menyampaikan ceramah kepada Rafidhah lainnya. Lalu saya dengarkan ceramahnya, sampai ketika mendapatkan kesempatan yang tepat aku bangun dan membantah ceramah-ceramahnya.” jelas Yusuf. Mendengar penuturan bantahan yang begitu jelas dan lugas darinya, membuat para ayatullah heran dan kagum.

Setelah itu, Yusuf dipindahkan ke penjara umum bersama kalangan Ahlusunnah. Beberapa saat kemudian, Yusuf melakukan mogok makan karena ingin dipindahkan ke sel individu agar dapat menggunakan waktu secara maksimal untuk bertaqarrub pada Allah. Maka, permintaannya pun dipenuhi, ia dapat tinggal dalam sel pribadi selama satu setengah tahun lebih. Setelah itu, Yusuf Al-Ayiri bebas.

Kehidupan Yusuf di Sel Individu

“Demi Allah aku tidak memiliki waktu untuk mandi kecuali mandi janabat, dan aku tidak tidur kecuali sedikit. Aku berpacu dengan waktu!!” ujar Yusuf.  Waktu-waktu Yusuf digunakan untuk menghafal dan membaca buku-buku ilmiah. Dari situlah Yusuf berhasil menghafal Al-Qur’an secara lancar dan tepat, hafal Shahih Bukhari dan Muslim, juga dapat konsentrasi untuk membaca dan mentelaah kitab-kitab para ulama.

“Demi Allah, aku kasihan dengan kondisimu.” tukas salah satu sipir penjara.

Yusuf menjawab, “Demi Allah, justru dirikulah yang kasihan dengan kondisimu. Hendaknya kamu tahu bahwa seandainya ditawarkan kepadaku bahwa sehari itu diperpanjang menjadi 28 jam, pasti saya menyanggupinya karena saat ini aku tengah mencari waktu, wahai orang yang malang!!”

Hal inilah yang membuat sipir itu merasa heran dengan kondisi syaikh Yusuf dalam membaca dan menelaah. Yusuf tidak akan keluar untuk berjemur atau untuk yang lainnya kecuali untuk kepentingan yang mendesak. Keinginannya kuat, Yusuf pun memanfaatkan waktu secara maksimal dan anti membuang waktu untuk hal yang sia-sia.

Dia kembali bertutur, “Demi Allah, saya pernah merasakan hidup dalam keimanan dan kenikmatan di dalam penjara, di mana tidak ada yang mengetahui kenikmatan tersebut kecuali Allah. Dan tatkala datang utusan yang menyampaikan kebebasanku dari penjara, tanpa sadar aku gertak dia, ‘Semoga Alloh tidak akan memberikan kabar gembira kepadamu!!’ Itu saya lakukan di luar kesadaranku, akan tetapi itu ku lakukan karena begitu besarnya kenikmatan dan ilmu yang kudapatkan dalam penjara.”

Kembali Memasuki Gelanggang Jihad

Beberapa siksaan dan gangguan yang disematkan pada Syaikh Yusuf ketika di penjara ternyata tidak sedikitpun melunturkan semangat perjuangannya. Setelah keluar dari penjara, Yusuf segera menjalin komunikasi dengan para mujahidin, khususnya tokoh yang ia segani, Syaikh Usamah bin Ladin Rahimahullah.

Kala itu pertempuran di Chechnya jilid pertama tengah berkecamuk, yaitu berjalan dari tahun 1994-1996/1414-1417 H. Syaikh Yusuf pun berkontribusi dengan mengambil langkah yang tepat untuk para mujahidin. Ia menulis berbagai kajian syar’i yang dipublish dalam situs Shoutul Jihad. Beberapa torehan makalah atau tulisannya adalah Hidayatul Hayaro Fi Hukmil Usaro, Al ‘Amaliyat Al Istisyhadiyah Intiharun Am Syahadah, dan juga kajian-kajian strategis lainnya. Buku terakhir yang ia tulis adalah ‘Amaliyatul Masrohi Fi Moskow Wa Madza Istafada Minha Al Mujahidun.

Bentuk perhatian dan partisipasi Yusuf tidak hanya pada hal itu saja, ia juga menjalin hubungan surat-menyurat dengan komandan Khattab mengenai persoalan militer. Salah satu kisah yang terekam adalah pasca peperangan konvensional yang dihadapi mujahidin dan berlanjut dengan perang gerilya. Ketika itu posisi para mujahidin sedang sulit dan terhimpit.

Maka saat itu juga, Syaikh Yusuf mengirim surat kepada komandan Khattab yang berisi taktik perang yang mencengangkan. Isi surat Yusuf adalah 18 prediksi perang berikut apa yang harus dilakukan dari setiap prediksi yang disebutkan. Orang manapun yang membaca surat itu pasti akan tercengang dengan taktik-taktik cemerlangnya dalam membangun strategi. Komandan Khattab pun mengambil banyak manfaat darinya dan benar-benar berterimakasih pada Syaikh Yusuf Al-Ayiri.

Tidak hanya dengan pikiran dan ide saja, Syaikh Yusuf juga berkontribusi pada penggalangan dana bagi mujahidin Chechnya. Salah satu pengalaman pahit yang ia alami adalah ketika mendatangi kediaman Syaikh Salman Al-‘Audah. Ketika itu kondisi mujahidin di samping berjuang gerilya juga harus melawan dinginnya cuaca. Hingga komandan Khattab berkata, “Berikanlah satu juta dollar supaya kami dapat bertahan melawan Rusia sampai akhir musim dingin.”

Kondisi terjepit inilah yang menggugah Syaikh Yusuf untuk menemui beberapa ulama dan aghniya’ yang ada. Tiba-tiba ada salah seorang kaya raya yang menginfakkan dana sebesar 8 juta real tetapi dengan sebuah syarat. Syarat itu adalah mendapatkan memo atau rekomendasi dari Syaikh Salman Al-Audah atau menelepon beliau. Dengan sigap ia pergi menemui Syaikh Salman, namun beliau selalu mengulur-ulur waktu untuk bertemu dan akhirnya berkata padanya, “Sebenarnya aku ini tidak begitu yakin dengan persoalan Chechnya.”

Akan tetapi, Yusuf tetaplah Yusuf. Dirinya tidak pernah surut dengan ujian seperti itu. Ia tetap berkontribusi aktif pada kelangsungan bergulirnya jihad Chechnya.

Sebelumnya, Syaikh Yusuf sebenarnya memiliki hubungan kekeluargaan dengan Syaikh Sulaiman Al-Ulwan. Ia menikah dengan seorang wanita dari keluarga Ash-Shaq’abi, Buraidah. Istrinya adalah saudara kandung dari istri Syaikh Sulaiman Al-Ulwan. Dirinya juga dikaruniai oleh Allah tiga putri. Namun, tidak disebutkan secara pasti kapan dia menikah dan bagaimana kehidupan keluarganya.

Syaikh Sulaiman Al-Ulwan juga seorang ulama teladan seperti Yusuf Al-Ayiri. Beliau adalah seorang ulama yang secara lantang membela mujahidin, maka dari itu dirinya kerap kali masuk penjara karena pembelaannya. Lebih jelasnya silahkan baca di sini.

Yusuf Al-Ayiri dan Taliban

Hubungan Syaikh Yusuf dengan jihad Chechnya sebenarnya terus berlanjut dengan lancar. Namun, di sisi lain dirinya juga disibukkan dengan persoalan Afghanistan dan pemerintahan Taliban. Oleh sebab itu, mau tidak mau ia tersibukkan dengan hal itu dan mulai jarang berhubungan dengan jihad Chechnya. Mujahid Arab ini benar-benar mencurahkan segala kemampuannya untuk mempelajari Taliban dan kredibilitasnya.

Salah satunya adalah peristiwa penghancuran patung-patung Budha di Afghanistan. Syaikh Yusuf memusatkan perhatiannya pada persoalan itu dan membuat proyek-proyek buka puasa dan penyembelihan hewan qurban di Afghanistan. Dia juga berusaha untuk menghubungkan Amirul Mukminin dan para menteri Taliban dengan Syaikh Hamud bin ‘Uqla’ Rahimahullah.

Pada musim haji tahun 1421 H, Syaikh Yusuf bertemu dengan beberapa menteri Taliban yang datang untuk menunaikan haji. Ia bersama para menteri hendak menghubungkan komunikasi via telepon antara Amirul Mukminin dengan Syaikh Hamud bin ‘Uqla’, tepatnya setelah hari-hari tasyriq jam 9 malam. Siapakah Syaikh Hamud bin ‘Uqla’ Rahimahullah itu? Lebih jelasnya silahkan baca di sini.

“Kami berangkat meninggalkan Mekkah dan berpacu dengan waktu. Sementara itu kami tidak memiliki pilihan lain selain melanjutkan perjalanan karena Syaikh Hamud berada di Qoshim. Untuk mengatasi rasa capai, kami putuskan untuk mengemudikan mobil secara bergantian. Jika yang lain mengemudikan mobil maka aku usahakan tidur, kemudian aku mengemudikan mobil dan temanku istirahat. Kami pun meneruskan perjalanan sampai akhirnya aku ketiduran dan tidak terbangun kecuali saat mobil sudah terbalik setelah menabrak unta peliharaan. Maka usaha kami pun gagal untuk bertemu beliau,” jelas Yusuf.

Karena menabrak unta peliharaan itu, Syaikh Yusuf beserta temannya harus berurusan dengan polisi. Dengan izin Allah, ia bisa keluar dari penjara sebelum peristiwa 9/11. Setelah keluar dari penjara, ia pun menorehkan karya tulisan bertemakan jihad. Dalam tulisannya, ia mengupas berbagai persoalan jihad berdasarkan dalil syar’I, juga membela serta membantah berbagai syubhat yang disebarkan oleh para mukhadzil (pelemah semangat jihad) dan munafik. YSyaikh usuf juga ikut aktif di beberapa forum Paltalk dengan nama Azzam.

 

Syaikh Yusuf benar-benar fokus pada pembenahan dan perkembangan pemerintahan Taliban. Ia sibuk melatih para pemuda dan menghasung mereka agar pergi ke Afghanistan untuk bergabung dengan kamp-kamp latihan di sana. Selain itu, sebagai seorang ulama, ia juga menerbitkan empat kaset rekaman untuk mengobarkan semangat jihad dan i’dad. Di antaranya adalah sebuah kaset rekaman yang memuat materi fikih dengan suaranya.

Saat itu, terjadilah sebuah peristiwa yang membuat Syaikh Yusuf begitu senang. Apakah peristiwa itu? Ya, itu adalah peristiwa salah seorang ikhwah mujahidin yang bersegera melaksanakan seruan Syaikh Usamah bin Ladin. Bagaimanakah seruan amir Al-Qaidah pertama ini?

“Siapakah yang dapat menyelesaikan Ahmad Syah Mas’ud untukku, karena dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya,” seru Syaikh Usamah kepada para mujahidin.

Maka, bersegeralah beberapa ikhwah berangkat atas kesadaran mereka sendiri untuk membunuh Ahmad Syah Mas’ud dengan hanya mengharap pahala dari Allah yang Maha Mulia. Ahmad Syah Mas’ud adalah seorang komandan keji yang bekerja untuk Amerika.

Beberapa Karya Tulisan Yusuf Al-Ayiri

Setelah terbunuhnya komandan keji ini, terjadilah peristiwa yang tak akan dilupakan sejarah, yaitu operasi 9/11. Maka, Syaikh Yusuf pun segera mengadakan pertemuan dengan para ulama Qashim untuk membahas masalah ini. Dalam pertemuan itu terjadi diskusi dan beberapa ulama yang mengkritisi serangan yang terjadi di Amerika.

Akan tetapi, hasil akhirnya menelurkan kesimpulan bahwa para ulama mendukung jihad dan mujahidin. Setelah diskusi itu, Syaikh Yusuf mulai menulis sebuah buku yang berjudul Haqiqotul Harbish Sholibiyah. Dalam buku itu, ia mengemukakan dalil-dalil amaliyah istisyhadiyah dan membantah berbagai syubhat yang muncul seputar persoalan ini. Ia juga menghasung umat agar bangkit dari kelalaian yang tengah umat Islam alami.

Karya fenomenal ini ditulisnya hanya dalam waktu sembilan atau sepuluh hari. Sampai-sampai ketika buku itu sampai kepada Syaikh Usamah, beliau mengatakan kepada para ikhwah, “Sepertinya buku ini telah ditulis sebelum terjadi serangan. Karena tidak mungkin buku ini ditulis secepat itu.”

Demikianlah, jasa-jasa Syaikh Yusuf dalam legitimasi operasi 9/11. Karena buku yang ditulisnya, banyak dari kalangan ulama yang mendukung serangan 11 September. Dukungan itu muncul karena alasan-alasan ilmiyah yang ia ungkapkan dalam buku tersebut, yaitu dengan menggunakan ungkapan yang sederhana tetapi serius dan sarat dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Setelah selesainya buku itu, Syaikh Yusuf langsung melakukan koreksi akhir pada bukunya yang berjudul Al- Mizan Li Harakati Thaliban. Setelah rampung, buah karya itu pun segera ia sebarkan. Selain itu, ada beberapa karya lain yang tak kalah menakjubkan, yaitu:

1- Daurun Nisa’ Fi Jihadil A’da’ yang diterbitkan secara tidak resmi dengan menggunakan nama Abdullah Az-Zaid.

2- Tsawabit ‘Ala Thariqil Jihad, dalam buku ini Yusuf menulis prinsip-prinsip jihad yang ditulis dalam beberapa seri yang terpisah-pisah.

Selain itu, ada beberapa tulisan lainnya yang disebarkan di Markaz Ad-Dirasat dan di forum-forum umum di internet.

Beberapa hal yang sering membuat Syaikh Yusuf bersedih adalah adanya para ulama yang acuh dengan jihad. Karena kesedihannya yang mendalam, ia pernah menangis ketika berbicara mengenai sikap acuhnya para ulama pada jihad dan mujahidin. Akhirnya untuk mengobati kesedihannya, ia  menulis berbagai buku dan bantahan di mana tujuan pokoknya untuk membela kehormatan mujahidin yang berada di daerah-daerah perbatasan.

Dalam hal tulis menulis, Syaikh Yusuf berperan aktif dalam menulis serial perang Salib di Irak yang diangkat di situs Ad-Dirosat. Di situs itu, ia memiliki peran yang sangat besar bahkan 80% situs itu berisi tulisannya.

Syaikh Yusuf dikaruniai Allah dengan gaya penulisan dengan ungkapan-ungkapan yang sangat mendalam. Ia adalah seorang penyabar dan ulet. Hal itulah yang menjadikan Syaikh Yusuf tiada henti-hentinya dalam membuat tulisan syar’i dan analisa politik. Dirinya memang dikenal di kalangan ulama memiliki sifat-sifat tersebut, dimana mereka mengakui bahwa Syaikh Yusuf adalah orang yang memiliki kelebihan serta keunggulan dalam hal itu.

Sifat dan Perangai Yusuf Al-Ayiri

Syaikh Yusuf adalah orang yang sangat ulet dan sabar dalam menghadapi berbagai musibah dan kasus. Seringkali ia diuji dengan kawan atau orang yang ia cintai mati syahid, terluka atau tertawan. Akan tetapi, ia tetap ridha dengan ketetapan dan takdir Allah, serta pasrah dengan apa yang telah ditetapkan oleh Rabbnya.

Syaikh Yusuf juga orang yang berhati lembut, berperasaan sensitif dan mudah mengalirkan air mata. Terkhusus bila bercerita tentang mujahidin dan pengorbanannya di jalan Allah SWT. Saat itu Yusuf menceritakan tentang seorang mujahid yang bernama Abu Hajir Al-Iraqi yang ditahan di penjara Amerika mengenai profil dan pengorbanannya. Saat bertutu tentangnya, ia menangis terisak-isak seolah ikut merasakan pedihnya siksaan dan cobaan di penjara.

Apabila Syaikh Yusuf menyampaikan nasihat sering terdengar suara tangis, terkhusus jika bertema  dzikrullah, akhirat, jihad dan mati syahid di jalan Allah. Ia juga menegaskan tentang hubungan jihad dengan aqidah yang lurus disertai ilmu syar’i yang benar. Ia mengatakan bahwa seorang muslim harus menjelaskan kepada manusia bahwa jihad itu tidak lain adalah usaha untuk merealisasikan tauhid dan mewujudkan konsekuensi-konsekuensi kalimat syahadat Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah.

Syaikh Yusuf tiada hentinya mengingatkan umat Islam dengan sebuah perkataan Syaikh Abdullah Azzam Rahimahullah mengenai jihad, yaitu gambaran yang dibawa ketika baru datang ke medan jihad sejatinya berbeda dengan gambaran ketika menjalani amalan di dalamnya. Fantasi jihad yang dulu tergambar ketika berangkat, akan berbeda dalam kenyataan di medan jihad itu sendiri.

 

Oleh karena itu, hendaknya seorang mujahid itu berangkat berjihad berdasarkan sebuah keyakinan yang mendalam terhadap wajibnya menempuh jalan jihad dan sejauh mana hubungannya dengan tauhid. Kemudian menghidupkan tekad untuk mendakwahkannya di tengah-tengah manusia, dan berusaha menegakkan daulah yang melaksanakan dan merealisasikan amalan-amalan jihad. Inilah yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang berjuang menegakkan dien Allah.

Menteladani Sifat Para Sahabat Nabi

Telah dituliskan sebelumnya, Syaikh Yusuf Al-Ayiri ibarat sahabat Mush’ab bin Umair yang meninggalkan kenikmatan dunia untuk mengejar kekekalan akhirat. Dunia yang fana terpampang di depan mata, tetapi jiwanya menolak dan lebih memilih menapaki jalan jihad dan perjuangan. Subhanallah…

Syaikh Yusuf adalah seorang yang sangat tawadlu’ ibarat sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq, sampai-sampai ia “tidak menghargai dirinya sendiri”. Jika ada orang bersanding dengannya, pasti ia meyakini bahwa orang itu lebih mengerti, lebih faqih dan lebih paham dari dirinya. Ia tidak suka mendahului dalam berbicara, khususnya terhadap orang yang berilmu atau seorang penuntut ilmu. Ketawadhuannya ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buatnya, akan tetapi merupakan watak bawaan yang Allah anugerahkan kepadanya.

Syaikh Yusuf ibarat sahabat Abdullah bin Mas’ud yang kaya ilmunya dan menjadi “ensiklopedi berjalan” dalam semua persoalan. Jika ia berbicara mengenai ilmu syar’i, tentu kita akan mengatakan bahwa ia adalah seorang ulama yang faqih. Apabila ia berbicara mengenai persoalan politik, pasti kita akan mengatakan bahwa ia adalah seorang politikus yang handal.

Selain itu, Syaikh Yusuf juga memiliki perhatian mengenai ilmu komputer dan programming. Ia juga menguasai ilmu-ilmu militer sebagaimana seorang komandan yang cerdik, dan menguasai ilmu topografi, teknologi dan elektronik. Benar-benar seorang ulama multi talenta.

Allah SWT memberikan anugerah kepadanya agar diterima semua lapisan manusia. Sehingga, tidak ada seorangpun yang bertemu dengannya kecuali akan mencintainya. Belum pernah ditemukan seorangpun yang mencelanya dari sisi akhlaq atau karakter. Sebaliknya, ia justru diterima di hadapan manusia karena kebaikan akhlaknya dan perilakunya yang terpuji.

Dia, Yusuf Al-Ayiri Rahimahullah senantiasa mengajak para pemuda dan mujahidin agar meninggalkan kemewahan dan kenikmatan. Ia mengajak mereka untuk hidup secara sederhana agar jiwa itu terbiasa  bersabar dan memikul kesusahan di bumi jihad. Pernah, selama berhari-hari Syaikh Yusuf tidak makan kecuali sedikit padahal ia orang yang mampu. Hal itu dilakukannya semata-mata untuk membiasakan diri hidup susah.

Syaikh Yusuf adalah orang yang dermawan ibarat Utsman bin Affan. Ia tidak merasa berat untuk memberi dan berkorban kepada saudara-saudaranya. Ia adalah orang yang kuat memegang amanah dan sungguh-sungguh dalam menjaga harta mujahidin yang ada di tangannya, sehingga harta itu diberikan kepada orang yang benar-benar berhak untuk menerimanya.

Syahidnya “Sahabat” Abad Ini

Syaikh Yusuf masuk menjadi DPO (Daftar Pencarian Orang) Saudi atas permintaan Amerika. Mereka memintanya agar menyerahkan diri selama lebih dari setahun. Namun, ia menolak untuk menyerahkan diri atau menghinakan diri dalam persoalan agama. Alhamdulillah, selama setahun itu ia berjasa besar untuk Islam dengan karya-karyanya. Padahal secara hitungan matematika, jasa-jasa yang ia berikan sewajarnya tidak dapat dilakukan kecuali dalam tempo lima tahun.

Perjuangannya untuk Islam tidak mengenal lelah dan gelapnya malam. Pernah, Syaikh Yusuf selama berjam-jam tidak istirahat atau tidur. Bahkan, terkadang selama beberapa hari ia tidak tidur. Dalam jadwal hariannya, tidak ada waktu tidur kecuali hanya sedikit yang hanya cukup untuk menegakkan tulang punggungnya. Selama satu tahun itu, ia hidup sebagai buronan yang senantiasa waspada terhadap musuh siang dan malam. Senjatanya tidak pernah berpisah dengannya. Dia selalu siap siaga dan berhati-hati.

Dalam masa itu ia pernah mengatakan, “Akhi, kita ini bukan orang yang lebih mulia daripada para sahabat Rasul SAW, di mana mereka hidup di Madinah dalam keadaan takut dan was-was sampai mereka dapat mengusir orang-orang Yahudi dari sana,” jelas Yusuf kepada salah satu rekannya.

Setelah itu, ia menyampaikan sebuah perkataan seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, tidak ada yang ada pada diri kami selain perasaan takut, sementara masing-masing kita senantiasa memanggul pedang di atas pundaknya.” Inilah cara Yusuf menghibur dirinya dengan membandingkan pada kondisi para sahabat di zamannya.

Setelah memutuskan pergi meninggalkan fitnah dunia, Syaikh Yusuf jarang sekali melihat keluarganya — bapak-ibunya. Sampai pada masa-masa terakhir ketika perburuan semakin ketat, hubungan mereka terputus sama sekali. Bahkan hubungannya dengan ketiga puterinya juga terputus.

Puterinya yang paling besar namanya adalah Maryam. Pada hari-hari terakhir, Syaikh Yusuf menulis sebuah syair yang sangat berkesan untuk mereka, yang dicantumkan dalam suratnya sebelum kesyahidannya dalam sebuah perlawanan yang maksimal.

Syaikh Yusuf lebih memilih mati di jalan Allah seperti sahabat Ashim bin Tsabit daripada ditawan oleh musuh. Sebuah perkataan yang masyhur darinya senantiasa terngiang pada diri mujahidin, “Diriku, pada hari ini tidak akan mau tunduk dalam penguasaan orang kafir.” Sebuah ungkapan tegas, berani serta siap untuk menjemput syahid.

Kalimat tersebut pun terbukti, karena kepungan dan jumlah kekuatan yang tak berimbang, Syaikh Yusuf Al-Ayiri menjemput cita-citanya sebagai seorang syuhada. Ia tak sanggup bertahan dalam aksi baku tembak dengan tentara Saudi pada tahun 2003 di Arab Saudi. Saat itulah kematian mulia yang dulu ia kejar menjemputnya. Selamat jalan mujahid mulia, segala jasa-jasamu tidak akan lekang karena berubahnya zaman dan tak luntur karena silih bergantinya generasi umat Islam.

Penulis: Dhani El_Ashim

 

  1. Beranda
  2. /
  3. Profil
  4. /
  5. Biografi Syaikh Yusuf bin Shalih al-‘Uyyairi