data:post.title

Hukum Menghadiahkan Pahala Bacaan al-Qur'an dan Tutorialnya

Hukum Menghadiahkan Pahala Bacaan al-Qur'an dan Tutorialnya

Hukum Menghadiahkan Pahala Bacaan al-Qur'an dan Tutorialnya

Oleh Syaikh ‘Abdurrazzaq bin Ghalib al-Mahdi 
 
Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwasanya sedekah atas nama mayit serta doa dan istighfar atasnya itu disyariatkan, bahkan hukumnya mandub, dan mayit mendapatkan manfaat dari semua itu.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

وكذلك الحج والعمرة عنه والعتق والأضحية.

“Begitu juga dengan haji, umrah, memerdekan budak, dan udhhiyyah atas mayit.”

Kemudian beliau berkata,

واختلفوا في الصلاة عنه وصيام التطوع وقراءة القرآن. فذهب المالكية والشافعية وبعض أهل العلم إلى أنه لا يصل. وذهب الحنفية والحنابلة وبعض المالكية، وبعض الشافعية إلى أنه يصل..

“Dan terjadi perselisihan dalam (perkara mengirim pahala) shalat, puasa sunnah, dan membacakan al-Qur‘an atas mayit. Malikiyyah, Syafi‘iyyah, dan sebagian ulama berpendapat bahwa itu tidak sampai. Sedangkan Hanafiyyah, Hanabilah, sebagian Malikiyyah, dan sebagian Syafi’iyyah berpendapat bahwa itu sampai.”

Kemudian Ibnu Taimiyyah berkata,

والصواب أن جميع ذلك يصل..

“Dan pendapat yang benar bahwa semua amalan tersebut adalah sampai.”

Dalam mazhab Hanafi terdapat bab pada (sebagian) kitab mereka,

باب وصول ثواب القرآن للميت

“Bab Sampainya Pahala al-Qur‘an kepada Mayit”

Dalam al-Mughni (salah satu kitab fikih mazhab Hanabilah),

وأي قربة فعلها، وجعل ثوابها للميت المسلم، نفعه ذلك..

“Dan apa pun ibadah yang dia kerjakan serta dia hadiahkan pahalanya kepada mayit yang muslim, maka akan memberi manfaat untuknya…”

Penulis al-Mughni juga berkata,

ومن ذلك قراءة القرآن.

“Dan begitu pula bacaan al-Qur‘an.”

Silahkan lihat al-Mughni karya Ibnu Qudamah, 2/225.

Mutaakhirin dari Malikiyyah pun juga berpendapat bolehnya mengirimkan pahala bacaan al-Qur'an.

Ad-Dardir, salah satu ahli fikih dari Malikiyyah, dalam Syarh Mukhtashar Khalil berkata,

المُتَأَخِّرُونَ عَلَى أَنَّهُ لاَ بَأسَ بِقِرَاءَةِ القُرْاَنِ والذِّكْرِ وَجَعْلِ ثَواَبِهِ لِلْمَيِّتِ وَيَحْصُلُ لَهُ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ الله..

“Al-Mutaakhirun (dari mazhab Maliki) berpendapat bolehnya membacakan al-Qur'an serta zikir dan menjadikan pahalanya kepada mayit dan sampai padanya ganjaran, in syaa Allah.” (Syarh Mukhtashar Khalil, 1/423)

Komentar saya:

Pendapat sampainya pahala bacaan al-Qur'an kepada mayit juga merupakan pendapat banyak ulama mutaakhirin dari Syafi‘iyyah dan ulama kontemporer secara umum selain masyayikh Hijaz. Ibnu Baz dan sebagian ulama berpendapat tidak boleh, sedangkan Ibnu ‘Utsaimin dan sebagian ulama yang lain berpendapat boleh.

Pendapat yang rajih adalah boleh dan mayit mendapatkan manfaat dari itu karena Allah Subhanahu wa Ta'ala Mahadermawan lagi Yang Paling Mulia Kemuliaan-Nya.

Format kata dalam menghadiahkan pahala oleh orang yang hendak mengirimkan pahala sebagai berikut:

اللهم أوصل ثواب هذه القراءة لفلان..

“Ya Allah, sampaikan pahala bacaan ini kepada Fulan…”

Sebagian Syafi’iyyah mensyaratkan dengan format seperti ini:

اللهم إن كنت قبلت قراءتي هذه فاجعل ثوابها لفلان.

“Yaa Allah, jika Engkau menerima bacaan-Ku, maka berikan pahalanya kepada Fulan.”

Wallahu Ta‘ala a‘lam.

Penerjemah: Akh M. Febby Angga ghafarallahu la hu

  1. Beranda
  2. /
  3. Fikih
  4. /
  5. Hukum Menghadiahkan Pahala Bacaan al-Qur'an dan Tutorialnya