Biografi Syaikh Abul Walid al-Anshari
Biografi Syaikh Abul Walid al-Anshari
Biografi Syaikh Abul Walid al-Anshari
Nama lengkap Abu Al-Walid adalah Abu Al-Walid Khalid bin Fathiy bin Khalid bin Husain bin Qasim bin Khalil bin Khalid bin Muhammad bin Husain bin Ibrahim Al-Ghaza Al-Anshari. Lahir pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal –sama dengan tanggal kelahiran Nabi SAW—tahun 1386 H atau bertepatan dengan bulan Agustus 1966 M di Gaza. Setelah pendudukan dan invasi kaum zionis di Palestina (1967 M), keluarganya membawa Al-Anshari pindah ke tanah Hijaz, Arab Saudi. Al-Anshari kecil tumbuh dan berkembang di Arab Saudi serta menyelesaikan studinya di tanah Haramain ini. Pertengahan 80-an, Al-Anshari muda terinspirasi dengan buku Syaikh Abdullah Azzam tentang jihad Afghanistan dan berinteraksi dengan para mujahid yang terlibat dalam konflik, termasuk Syaikh Syamsudin Al-Afghani serta Syaikh Abdullah Azzam sendiri yang mengajaknya untuk ikut bergabung. Akhirnya pada tahun 1986 Al-Anshari meninggalkan Saudi dan hijrah ke Peshawar.
Meskipun Al-Anshari mempunyai predikat sebagai “jihadi leader” (pemimpin jihad), Al-Anshari mempunyai profil yang cukup umum dibandingkan dengan rekan-rekannya sesama Arab-Afghan. Selain Al-Ansari mempunyai sebuah situs web “Aknaf Bayt Al-Maqdis” (The Enviross of Jerussalem) yang ia gunakan untuk mengumpulkan publikasinya yang teranyar ketika sedang offline, ia juga memiliki twitter yang akunnya dikelola oleh sebagian muridnya. Lebih mengejutkan, email dan kontak Skype di share pada akun pribadinya dan informasi pribadi yang berkaitan dengan keluarganya, termasuk wanita yang ia nikahi pada tahun 2013 dan putrinya yang lahir pada tahun 2010, kesemuanya ada di halaman webnya. Bahkan forum Shabakat Ansar Al-Mujahidin telah mengumumkan “Rapat Terbuka” dengan Al-Anshari pada akhir Mei 2013, meskipun acara itu tidak pernah terwujud.
Selama jihad melawan komunis Soviet, Al-Anshari lebih dikenal sebagai seorang penuntut ilmu daripada seorang pejuang yang aktif. Imigran muda ini ahli dan spesialis dalam ulumuddien, termasuk ilmu tafsir Al-Quran dan hukum Islam. Selain berguru dengan Syaikh Abdullah Azzam, Al-Anshari juga belajar pada beberapa tokoh Arab lainnya terutama dari Afrika Utara, namun sebagian besarnya ia lebih mendapat bimbingan dari ulama Pakistan. Banyak dari gurunya berafiliasi kepada Salafi, seperti guru utamanya Naqib Al-Ribati, profesor di University Imam Bukhari yang mengajarinya ilmu nahwu, ushul fiqh dan tafsir. Selain itu Ikram Al-Din Al-Badkhashi, direktur Universitas Dakwah Quran dan Sunnah juga pernah menjadi gurunya. Al-Anshari juga berguru kepada para profesor madzab Hanafi, termasuk dari Madrasah Dar Al-Ulum Haqqaniya.
Al-Anshari belajar fiqih madzab Syafi’i bab thaharah dan shalat dari Syaikh Al-Mujahid Abu Muhammad Ibadullah bin Yusuf ‘Azam Rahimahullah. Al-Anshari memiliki semangat belajar yang luar biasa. Ia pernah belajar dengan Syaikh Syamsudin Al-Afghani Rahimahullah selama 4 tahun. Kata-kata Syaikh Syamsudin yang selalu terngiang di dalam dirinya adalah,”Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa membaca buku, aku belajar seharian dan buku hanya akan kuletakkan ketika menjelang tengah malam.”
Ulama Palestina ini juga belajar ilmu hadist dari Syaikh Abu Abdurrahman Abdussalam bin Muhammad dan Syaikh Al-Muhaqqiq Abu Abdurrahman Abdul Manan bin Abdil Haq bin Abdi Al-Warits An-Nurafuriy dan masih banyak ulama yang lainnya.
Meski namanya tak setenar dan sebesar seperti rekan lamanya, Abu Qatadah Al-Filistini atau Abu Muhammad Al-Maqdisi, Abu Walid Al-Anshari telah berhasil menempa dirinya sebagai salah satu ulama yang menonjol di kalangan ulama salafi jihadi, di mana telah banyak karya-karyanya dibaca, didiskusikan dan disebarluaskan. Sampai hari ini, Al-Anshari telah menerbitkan puluhan artikel, risalah dan fatwa (dari beberapa file audio yang dicampur menjadi satu) yang sebagian besar berhubungan dengan aqidah seperti fiqh jihad dan tafsir.
Berikut beberapa judul tulisan Syaikh Abu al-Walid. Kebanyakan sudah tuntas dan ada beberapa yang masih dalam proses penyempurnaan, yaitu
- Nawazilu Al-Jihad
- Rosailu Ats-Tsughur
- Syarh ‘Ilmiy wa ‘Amaliy Hadits
- Juz’un fi Hadits
- Kitab Al-‘Ilm wa Jihad
- Kitab Ightiyal Al-Jihad
- Sallu Al-Khusam
- Dan lain-lain
Bahkan ia telah menulis sebuah buku di saat baru berumur 16 tahun yang berjudul At-Targhib wa At-Tarhiib fi Al-Kitab wa As-Sunnah wa Atsaruhumaa fi Taqwim An-Nufus.
Masih dalam hal tulis-menulis, selain memiliki file khusus di situs milik Al-Maqdisi –Minbar Al-Tawhid wa Al-Jihad, Al-Anshari dan karya-karyanya juga telah disebutkan atau direkomendasikan oleh tokoh-tokoh ternama sekaliber Aiman Az-Zawahiri. DR. Aiman memujinya dengan sebutan “active emigrant scholar” (ulama imigran yang aktif) yang menggabungkan pena dengan pedang. Mustafa Abu Al-Yazid, tokoh Al-Qaeda di Khurasan juga membanggakan Al-Anshari dan buku fenomenalnya “Salul Khusam”. AQIM (Al-Qaeda in the Islamic Maghreb ) juga menyebut Al-Anshari sebagai salah satu ulama jihadi yang paling penting sejajar dengan Al-Maqdisi atau Sulaiman Al-Ulwan.
Perlu dicatat, isu-isu sementara yang bersifat topikal berkaitan dengan dunia muslim atau dunia jihad tidak tampak dominan dalam tulisan-tulisannya. Al-Anshari tetap dipandang sebagai sosok yang penting di kancah jihad Suriah dan tentu saja dalam pembentukan ISIS. Dalam serangkaian tweetnya pada bulan April 2013, Al-Anshari menegaskan tentang hukum secara syar’i pembentukan kekhalifahan dan pentingnya kedudukan Ahlu Halli wal ‘Aqdi di dalamnya, sekaligus Al-Anshari mempertanyakan legitimasi ISIS sebagai khilafah. Sama seperti dengan pendirian Negara Islam di Irak pada tahun 2006, Al-Ansari menyesalkan deklarasi mendadak Al-Baghdadi yang merupakan inisiatif sepihak dan melanggar prinsip syura dengan pihak-pihak yang terkait (dalam hal ini adalah para amir dari jamaah-jamaah jihad di Syam dan para ulama mereka). Ulama Palestina ini sibuk mendalami beberapa konsekuensi dari deklarasi khilafah yang justru menguntungkan pihak musuh karena menciptakan perpecahan, fitnah di kalangan umat Islam. Ia mengkhawatirkan kejadian di Aljazair dan Irak yang belum selesai dipelajari kembali terulan. Ia juga khawatir, bahwa kegagalan dan kesengsaraan masa lalu yang dialami generasi tua akan menimpa para generasi muda di kawasan Suriah
Sepak Terjang Abu Al-Walid Al-Anshari di Dunia Jihad
Sebagaimana disebutkan dalam keterangan di atas, pada tahun 1986 Abu Al-Walid hijrah ke Peshawar, Pakistan. Di negara yang terlibat perebutan wilayah Kashmir ini Al-Anshari terpengaruh manhaj salafi yang terkesan kaku. Pengaruh ini ditunjukkan dengan sikapnya pada jihad Afghanistan. Al-Anshari menolak operasi yang dilakukan pihak mujahidin Afghanistan.
Salah satu militan yang terkait dengan Al-Anshari, yaitu Jamaat al-Muslimin (JAM), sebuah kelompok militan ekstrim yang diketahui telah mengangkat pemimpinnya yaitu, Abu Hammam sebagai khalifah pada tahun 1993. Namun, hal ini bertentangan dengan pendapat Al-Anshari tentang JAM, ia justru memperingatkan kepada kelompok tersebut karena mudah menghalalkan darah dan mengambil harta kaum Muslimin sebagai tebusan bagi mereka yang menolak kekhalifahan.
Setelah kepergiannya dari wilayah Khurasan, Al-Anshari pindah ke Yaman sebelum menuju ke Inggris sekitar paruh pertama tahun 1990-an, di mana ia muncul sebagai sosok yang familiar dan akrab di “Londonistan”, terutama berkat kedekatannya dengan Abu Qatadah. Bertindak sebagai wakilnya, Al-Anshari dan Abu Qatada berkolaborasi membentuk duo tangguh yang menjadi pembimbing di GIA (Armed Islamic Group) di Aljazair.
Pada tahun 2000, ulama kelahiran Gaza ini kembali ke Afghanistan dan menetap di daerah Wazir Akbar Khan Kabul. Pada saat itu, ia telah merevisi ulang semua pemikiran takfiri. Sebagai hasilnya, ia terlibat menurunkan paham garis keras di kalangan masyarakat Arab-Afghan. Selama periode ini, kegiatannya telah berubah secara fundamental. Ia menjadi pengajar aqidah bagi para pendatang baru dan mujahidin yang lebih senior dari berbagai Negara, baik dilakukan di rumahnya, di Kabul atau di kamp-kamp pelatihan. Al-Anshari memberikan kuliah di sebuah kamp di Kabul yang dikelola oleh Abu Dhahak Al-Yamani, wakil komandan Khattab yang bertanggung jawab atas relawan asing yang bersedia bertempur di front Chechnya. Contoh lain, Al-Anshari merupakan guru dari Bilal Al-Turkistani, seorang tokoh sejarah yang dibunuh partai Islam Turkistan yang mempelajari Fathul Bari. Ia juga mengenal Abu Mus’ab Al-Zarqawi yang merupakan tetangganya di Wazir Akbar Khan. Hubungan ini dimulai di Peshawar pada awal 90-an, di mana Al-Anshari memainkan peran kunci dalam menghubungkan Al-Zarqawi dengan Al-Maqdisi. Selama era Thaliban, Al-Anshari dan Al-Zarqawi tetap berhubungan dengan baik.
Bergabung dengan Al-Qaeda
Telah kita ketahui bahwa pada tahun 2000 Al-Anshari kembali ke Afghanistan dan mulai berinteraksi dengan Al-Qaeda. Meskipun Al-Anshari dikabarkan mempunyai hubungan yang kaku dengan Bin Ladin saat itu, hal ini tidak mencegah dirinya untuk selalu mengunjungi Al-Qaeda Syariah Institute yang dijalankan oleh Abu Hafs Al-Mauritani. Selain itu, Al-Anshari memiliki relasi dengan Djamel Beghal, di mana Bin Ladin telah menyiapkan beberapa misi untuknya di Eropa dan ia harus mempersiapkan segalanya untuk mengikuti program pelatihan itu.
Pada tahun 2001 AS menginvasi Afghanistan. Taliban pun jatuh. Hubungan antara Taliban, Al-Qaeda dan Al-Anshari menjadi semakin hangat. Semakin bertambah tahun, hubungan mereka semakin erat. Hal ini membuat para pendukung jihad berspekulasi tentang hubungan yang terjalin diantara mereka. Misalnya pada Oktober 2008, “Abu Ibrahim Al-Khurasani” (yang pernah digambarkan Al-Anshari sebagai salah satu syaikh yang rendah hati) mengatakan bahwa, “Mufti Al-Qaeda adalah Syaikh Abu Walid Al-Anshari Al-Filistini.” Ketika dilontarkan pertanyaan lebih lanjut, Al-Khurasani mengaku bahwa untuk sementara waktu ia tidak tahu apakah Al-Anshari secara resmi diberikan amanah tersebut. Tetapi para muhajirin dan anshar di Waziristan memanggil Al-Anshari dengan sebutan “Mufti Al-Qaeda” dan jika ada saudaranya yang membutuhkan fatwa, maka mereka akan meminta fatwa kepadanya – maksudnya kepada Al-Anshari.
Akhirnya teka teki tentang hal itu baru-baru ini dapat terpecahkan. Yaitu setelah “Usama Khurasan”, anggota inti Al-Qaeda di Jabhah Nushra pada bulan Mei lalu ketika ditanya tentang afiliasi Al-Anshari, ia menjawab dengan tegas bahwa Abu Al-Walid Al-Anshari Al-Filistini adalah anggota (UDW) dari dewan syura Al-Qaeda atas perintah Usamah bin Ladin dan Aiman Az-Zawahiri.”
Meskipun Al-Anshari tidak pernah tampil dalam rilis As-Sahab, ia adalah seorang kontributor tetap dan resmi Al-Qaeda Khurasan di Buletin Tala’i Khurasan (Vanguards Khurasan). Ia juga yang telah mengenalkan buku kompilasi biografi para syuhada yang syahid di wilayah Afghanistan-Pakistan antara 2002-2006. Buku itu adalah karya Abu Ubaidah Al-Maqdisi, seorang komandan senior pasukan keamanan Arab-Afghan yang dekat dengan pemimpin senior Al-Qaeda.
Kemudian seperti yang disebutkan sebelumnya, Az-Zawahiri telah memuji Al-Anshari karena perannya sebagai “guru, mufti dan hakim para mujahidin”. Az-Zawahiri juga selalu mengulan-ulang kata-kata Usama Khurasani yang menggambarkan Al-Anshari sebagai “hakim dari para mujahidin di Khurasan” (Qodhi fi Al-Mujahidin Khurasan). Sebutan itu bukan tanpa bukti, Al-Anshari lewat 2 seri audionya “Chanting of the Loved Ones in Proud Waziristan” pernah memberikan materi kuliah kepada para mujahidin Arab di Waziristan. Sesi perkuliahan ini ternyata memberikan dampak pada generasi muda. Selain itu Abu Dujana Al-San’ani, seorang ahli bahan peledak terkenal yang syahid pada tahun 2010 menyebutkan bahwa Al-Anshari adalah syaikh yang paling berpengaruh bagi karirnya di dunia jihad.
Abu Al-Walid Al-Anshari juga ikut andil dalam jihad Suriah dengan memberikan nasihat kepada para mujahidin Syam. Nasihat itu berjumlah 100 poin yang intinya agar senantiasa teguh dan sabar dalam berjuang di jalan Allah.
Penulis: Dhani el-Ashim
Sumber:
- https://al3aren.com/vb/archive/index.php/t-2185.html
- http://www.startimes.com/f.aspx?t=33936245
- http://alplatformmedia.com/vb/showthread.php?p=60561